Kanker nasofaring adalah kanker yang menyerang jaringan di nasofaring. Kanker ini umumnya tumbuh sebagai kanker ganas.  Di antara jenis kanker yang menyerang kepala dan leher, kanker nasofaring merupakan salah satu yang paling sering terjadi.

Nasofaring merupakan salah satu bagian dari tenggorokan. Posisinya terletak di belakang rongga hidung dan di balik langit-langit mulut. Ketika terkena kanker nasofaring, seseorang dapat mengalami gejala berupa gangguan dalam berbicara, mendengar, atau bernapas.

Nasopharyngeal carcinoma - alodokter

Kanker nasofaring cukup sulit untuk dideteksi, karena gejalanya sering kali baru muncul ketika sudah di tahap lanjut. Untuk mengatasinya, dokter akan menggunakan metode terapi radiasi dan kemoterapi.

Penyebab Kanker Nasofaring

Penyebab pasti kanker nasofaring (karsinoma nasofaring) masih belum diketahui. Namun, kondisi ini diduga terkait dengan infeksi virus Epstein-Barr (EBV). EBV umumnya terdapat di dalam air liur. Penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung dengan orang lain atau melalui benda yang terkontaminasi.

Kanker nasofaring diduga muncul karena adanya infeksi EBV di dalam sel nasofaring penderitanya. Akibatnya, sel yang telah terinfeksi virus ini mengalami pertumbuhan sel yang tidak normal.

EBV merupakan penyebab beberapa penyakit, seperti mononukleosis. Namun, pada kebanyakan kasus, EBV tidak menyebabkan infeksi yang berkepanjangan. Hingga saat ini, kaitan EBV dengan kanker nasofaring masih terus diteliti.

Selain EBV, ada beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker nasofaring, yaitu:

  • Berjenis kelamin laki-laki
  • Berusia 30–50 tahun
  • Sering mengonsumsi makanan yang diawetkan dengan garam
  • Memiliki keluarga dengan riwayat kanker nasofaring
  • Memiliki riwayat gangguan telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), seperti rhinitis, otitis media, dan polip hidung
  • Merokok dan mengonsumsi alkohol
  • Sering terpapar bubuk kayu atau bahan kimia formaldehida

Gejala Kanker Nasofaring

Pada stadium awal, kanker nasofaring mungkin tidak menimbulkan gejala. Gejala sering kali mulai muncul ketika kanker telah menyebar lebih jauh. Gejala umum kanker nasofaring dapat berupa:

  • Benjolan pada tenggorokan
  • Mimisan
  • Hidung terus-menerus tersumbat atau pilek
  • Telinga berdengung (tinnitus) atau terasa tidak nyaman
  • Gangguan pendengaran
  • Infeksi telinga yang berulang
  • Sakit kepala
  • Penglihatan kabur atau berbayang
  • Kesulitan membuka mulut
  • Mati rasa di wajah
  • Sakit tenggorokan

Kapan harus ke dokter

Beberapa gejala di atas mirip dengan gejala pada kondisi lain yang lebih ringan. Namun, jika gejala di atas berlangsung lama dan cukup mengganggu, sebaiknya Anda melakukan pemeriksaan ke dokter, terutama jika terdapat faktor yang dapat meningkatkan risiko Anda terserang kanker nasofaring.

Diagnosis Kanker Nasofaring

Diagnosis kanker nasofaring diawali dengan melakukan tanya jawab terkait gejala yang dialami, gaya hidup, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarga. Untuk memastikan kondisi pasien, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang bertujuan untuk mendiagnosis dan menentukan tingkat keparahan kanker.

Pemeriksaan yang akan dilakukan oleh dokter meliputi:

Pemeriksaan fisik

Kanker nasofaring dapat menimbulkan benjolan di leher. Benjolan tersebut biasanya merupakan tanda bahwa kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening. Maka dari itu, dokter THT akan memulai proses diagnosis dengan menekan beberapa bagian di leher, untuk mendeteksi keberadaan benjolan.

Nasofaringoskopi

Nasofaringoskopi atau nasoendoskopi adalah prosedur untuk melihat bagian dalam nasofaring, dengan menggunakan metode endoskopi. Prosedur ini dilakukan dengan bantuan alat khusus bernama nasofaringoskop.

Nasofaringoskop adalah alat berupa selang kecil berkamera, yang akan dimasukkan ke dalam nasofaring melalui hidung. Kamera pada nasofaringoskop akan mengirimkan gambar ke monitor, sehingga dokter dapat mengamati kondisi nasofaring.

Biopsi

Biopsi dilakukan dengan mengambil sampel dari benjolan di nasofaring untuk diperiksa di bawah mikroskop. Dalam pengambilan sampel, dokter juga biasanya menggunakan nasoendoskopi.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan berikut, untuk mengetahui tingkat keparahan kanker nasofaring yang diderita pasien:

  • Foto Rontgen
  • CT scan
  • MRI
  • Positron Emission Topography (PET) scan

Kanker nasofaring terbagi menjadi 4 stadium, yakni:

  • Stadium 0
    Disebut juga kanker in situ. Pada stadium ini, muncul sel abnormal di nasofaring yang dapat menjadi kanker dan berpotensi menyebar ke jaringan di sekitarnya.
  • Stadium I
    Sel abnormal di nasofaring telah berubah menjadi kanker. Kanker bisa menyebar ke jaringan di sekitar nasofaring, seperti orofaring (bagian tenggorokan di bawah nasofaring) atau rongga hidung.
  • Stadium II
    Kanker sudah semakin besar atau menyebar ke satu atau lebih kelenjar getah bening yang ada di salah satu sisi leher atau di balik tenggorokan.
  • Stadium III
    Kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening di kedua sisi leher, ke tulang, atau ke rongga sinus terdekat.
  • Stadium IV
    Kanker telah menyebar ke jaringan atau organ tubuh lain. Pada stadium IVA kanker menyebar ke bagian lain di kepala seperti otak, tenggorokan, mata, atau kelenjar air liur. Sementara pada stadium IVB, kanker menyebar ke organ yang berjauhan dengan nasofaring, seperti tulang selangka atau paru-paru.

Pengobatan Kanker Nasofaring

Pengobatan kanker nasofaring dapat berbeda-beda, sesuai dengan riwayat penyakit, stadium kanker, letak kanker, dan kondisi pasien secara umum. Beberapa metode pengobatan kanker nasofaring yang umum digunakan adalah:

1. Radioterapi

Radioterapi biasanya dilakukan untuk mengatasi kanker nasofaring stadium awal. Prosedur ini menggunakan sinar berenergi tinggi, untuk membunuh dan menghentikan pertumbuhan sel kanker.

2. Kemoterapi

Kemoterapi adalah pemberian obat-obatan yang berfungsi untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi biasanya ditunjang dengan prosedur radioterapi atau imunoterapi, agar efektivitas pengobatan dapat lebih maksimal.

3. Pembedahan

Karena nasofaring berdekatan dengan banyak pembuluh darah dan saraf, prosedur pembedahan dalam mengatasi kanker nasofaring jarang digunakan. Metode ini lebih sering dilakukan untuk mengangkat kanker pada kelenjar getah bening di leher.

4. Imunoterapi

Imunoterapi adalah pemberian obat yang merangsang sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel kanker. Jenis obat imunoterapi yang diresepkan oleh dokter, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Contoh obat imunoterapi untuk mengatasi kanker nasofaring adalah pembrolizumab atau cetuximab.

Selain metode pengobatan di atas, dokter juga dapat melakukan perawatan paliatif, yaitu perawatan untuk mencegah atau mengatasi gejala dan efek samping atas pengobatan yang diterima.

Perawatan paliatif dapat diberikan bersamaan dengan metode lain untuk mengatasi kanker nasofaring, dengan tujuan membuat pasien merasa nyaman.

Komplikasi Kanker Nasofaring

Komplikasi yang mungkin terjadi akibat kanker nasofaring dapat berbeda-beda pada setiap pasien. Jika ukurannya makin besar, kanker nasofaring dapat menekan organ lain di dekatnya, seperti saraf, tenggorokan, hingga otak.

Apabila kanker atau kelenjar getah bening yang terkena kanker menekan saraf, pasien dapat merasakan nyeri menjalar yang sangat mengganggu. Kanker nasofaring juga bisa memicu penggumpalan darah di otak, yang dapat menyebabkan stroke-like syndrome (SLS).

Kanker nasofaring umumnya menyebar ke kelenjar getah bening di sekitar leher. Namun tidak menutup kemungkinan, kanker nasofaring menyebar ke organ yang lebih jauh, seperti tulang, paru-paru, dan hati.

Radioterapi yang digunakan sebagai metode pengobatan kanker nasofaring juga dapat menimbulkan beberapa komplikasi, di antaranya:

  • Hipotiroidisme
  • Mulut kering
  • Jaringan parut pada leher
  • Kelainan gigi, seperti osteonekrosis
  • Hipoplasia pada jaringan otot dan tulang
  • Hipoparatiroidisme
  • Gangguan pertumbuhan
  • Kehilangan kemampuan pendengaran

Pencegahan Kanker Nasofaring

Belum ada cara untuk mencegah kanker nasofaring. Namun, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan, sehingga risiko kanker nasofaring dapat berkurang. Upaya tersebut antara lain:

  • Menghindari konsumsi makanan yang diawetkan dengan garam
  • Menghindari asap rokok atau berhenti merokok
  • Tidak mengonsumsi minuman beralkohol