Kanker kolorektal adalah kanker yang tumbuh di usus besar (kolon) atau di bagian paling bawah usus besar yang terhubung ke anus (rektum). Kanker kolorektal dapat dinamai kanker kolon atau kanker rektum, tergantung pada lokasi tumbuhnya kanker.

Kanker kolorektal umumnya bermula dari polip usus atau jaringan yang tumbuh secara tidak normal di dinding dalam kolon atau rektum. Namun, tidak semua polip berkembang menjadi kanker. Kemungkinan polip berubah menjadi kanker tergantung pada jenis polip itu sendiri.

kanker-kolorektal-alodokter

Berikut ini adalah tiga jenis polip yang dapat tumbuh di usus besar:

  • Polip adenoma, yaitu jenis polip yang terkadang berubah menjadi kanker (kondisi prakanker)
  • Polip hiperplastik, yaitu jenis yang lebih sering terjadi namun umumnya tidak menjadi kanker
  • Sessile serrated polyps (SSP) dan traditional serrated adenomas (TSA), yaitu jenis polip yang dianggap sebagai polip adenoma, karena berisiko tinggi berubah menjadi kanker kolorektal

Terlepas dari jenis polipnya, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan polip berubah menjadi kanker kolorektal, yaitu:

  • Ukuran polip lebih besar dari 1 cm
  • Polip berjumlah lebih dari 2 di kolon atau rektum
  • Polip tumbuh di atas jaringan yang tidak normal (displasia), biasanya terlihat setelah polip diangkat

Penyebab dan Faktor Risiko Kanker Kolorektal

Seperti semua jenis kanker, kanker kolorektal terjadi ketika sel-sel di dalam tubuh tumbuh secara tidak normal dan membentuk tumor. Seiring waktu, tumor ini akan berkembang dan merusak jaringan sehat di sekitarnya.

Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan sel-sel tersebut berkembang tidak terkendali. Namun, ada faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena kanker kolorektal, antara lain:

  • Berusia 50 tahun atau lebih
  • Memiliki riwayat penyakit kanker atau polip kolorektal
  • Memiliki keluarga yang pernah mengalami kanker atau polip kolorektal
  • Memiliki keluarga dengan riwayat kanker kolorektal atau kanker payudara di bawah usia 50 tahun
  • Menderita radang usus, baik kolitis ulseratif maupun penyakit Crohn
  • Menderita diabetes
  • Menderita obesitas atau berat badan berlebih
  • Menjalani pola hidup tidak sehat, misalnya jarang mengonsumsi serat dan buah-buahan, kurang berolahraga, serta memiliki kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol
  • Menjalani radioterapi (terapi radiasi) di area perut

Gejala Kanker Kolorektal

Kanker kolorektal biasanya baru menimbulkan gejala ketika sel kanker sudah makin berkembang. Gejalanya bervariasi, tergantung pada ukuran dan lokasi kanker.

Beberapa gejala kanker kolorektal yang dapat muncul adalah:

  • Diare
  • Sembelit
  • Buang air besar terasa tidak tuntas
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
  • Perdarahan pada rektum (bagian ujung usus besar)
  • Buang air besar berdarah
  • Mual
  • Muntah
  • Perut terasa nyeri, kram, atau kembung
  • Tubuh mudah lelah

Kapan harus ke dokter

Kanker kolorektal sering kali tidak memunculkan gejala jika masih pada tahap awal. Oleh sebab itu, konsultasikanlah dengan dokter mengenai perlunya skrining kanker kolorektal, terutama jika Anda memiliki risiko untuk terkena kanker kolorektal.

Orang yang berusia di atas 45 tahun disarankan untuk menjalani skrining kanker kolorektal secara berkala. Namun, diskusikan terlebih dulu dengan dokter mengenai jenis skrining yang tepat serta jadwal skriningnya.

Diagnosis Kanker Kolorektal

Kanker kolorektal dapat terdeteksi sedini mungkin melalui skrining. Dengan begitu, peluang sembuh dari penyakit ini semakin besar. Ada beberapa macam skrining untuk kanker kolorektal, yaitu:

  • Pemeriksaan tinja
    Pemeriksaan tinja yang meliputi tes darah samar dan deteksi sel kanker pada tinja, dapat dilakukan untuk mendeteksi dini kanker kolorektal. Tergantung jenisnya, dokter dapat menyarankan agar skrining dilakukan tiap 1–3 tahun sekali.
  • Sigmoidoskopi
    Sigmoidoskopi dilakukan dengan memasukkan selang tipis berkamera (sigmoidoskop) dari anus ke bagian bawah kolon. Tes ini dilakukan tiap 5–10 tahun sekali, disertai tes darah samar setiap tahun.
  • Kolonoskopi
    Prosedur kolonoskopi hampir sama seperti sigmoidoskopi. Bedanya, selang yang digunakan pada kolonoskopi memiliki ukuran lebih panjang. Prosedur ini disarankan untuk dilakukan tiap 10 tahun sekali.
  • Kolonoskopi virtual (CT colonography)
    Kolonoskopi virtual dilakukan dengan menggunakan mesin CT scan. Tes ini menampilkan gambar usus besar secara keseluruhan untuk dianalisis. Kolonoskopi virtual disarankan untuk dilakukan tiap 5 tahun sekali.

Pada pasien yang menunjukkan gejala kanker kolorektal, dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan berikut:

  • Kolonoskopi
    Kolonoskopi dilakukan untuk memeriksa seluruh bagian rektum dan kolon. Jika diduga terdapat kelainan di area rektum atau kolon, dokter akan melakukan biopsi (pengambilan sampel jaringan) di area tersebut, untuk kemudian dianalisis di laboratorium.
  • Pemeriksaan tumor pada jaringan yang dibiopsi
    Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi gen, protein, atau zat lain yang terkait dengan sel tumor. Tes ini dapat membantu dokter menentukan metode pengobatan yang akan dilakukan.
  • Tes darah
    Tes darah dilakukan untuk menghitung kadar sel darah merah, agar diketahui apakah terjadi perdarahan pada rektum atau kolon. Tes darah juga dilakukan untuk menghitung kadar carcinoembryonic antigen (CEA), yang bisa menjadi tanda perkembangan stadium kanker.
  • Pemindaian
    Pemindaian dapat dilakukan dengan USG, CT scan, PET scan, atau MRI, untuk melihat lokasi dan ukuran sel kanker, serta apakah kanker telah menyebar ke organ tubuh lain.

Stadium Kanker Kolorektal

Setelah pasien didiagnosis menderita kanker kolorektal, dokter akan melakukan tes tambahan untuk menentukan tingkat keparahan (stadium) kanker yang dialami. Stadium kanker kolorektal dibagi menjadi empat, yaitu:

  • Stadium 0 – kanker muncul di permukaan dinding dalam rektum atau kolon, disebut juga dengan carcinoma in situ
  • Stadium 1 – kanker sudah menembus hingga lapisan otot kolon atau rektum, tetapi belum menyebar ke luar dinding kolon
  • Stadium 2 – kanker sudah menyebar ke dinding kolon, ke luar dinding kolon, atau ke organ lain yang terdekat, tetapi belum menyebar ke kelenjar getah bening
  • Stadium 3 – kanker sudah menyebar ke luar dinding kolon, dan ke satu atau lebih kelenjar getah bening
  • Stadium 4 – kanker sudah menembus dinding kolon dan menyebar ke organ yang jauh dari usus besar, seperti hati atau paru-paru, dengan ukuran tumor yang bervariasi

Pengobatan Kanker Kolorektal

Pengobatan kanker kolorektal tergantung pada kondisi kesehatan pasien, serta lokasi dan stadium kanker. Berikut ini adalah beberapa metode pengobatan kanker kolorektal:

Operasi

Operasi adalah metode utama untuk mengatasi kanker kolorektal. Ada beberapa jenis operasi yang dapat dipilih oleh dokter, yaitu:

  • Polipektomi, untuk mengangkat polip kolorektal berukuran kecil melalui prosedur kolonoskopi
  • Endoscopic mucosal resection, untuk mengangkat polip kolorektal dan lapisan dalam usus besar, melalui kolonoskopi
  • Bedah laparoskopi, untuk mengangkat polip yang tidak dapat ditangani dengan prosedur kolonoskopi
  • Partial colectomy, untuk memotong bagian usus besar yang terserang kanker, bersama sebagian jaringan sehat di sekitarnya

Pada pasien yang menjalani pengangkatan bagian kolon atau rektum yang terkena kanker, dokter akan melakukan anastomosis, yaitu penyatuan masing-masing ujung saluran cerna yang sudah dipotong dengan cara dijahit.

Jika bagian kolon yang sehat hanya tersisa sedikit dan tidak mungkin disambung, dokter akan melakukan pembuatan lubang di dinding perut untuk jalan keluar tinja (kolostomi) dan menempelkan kantong di bagian luar dinding perut. Tinja pasien akan keluar melalui stoma dan tertampung di kantong yang ditempelkan.

Kolostomi bisa bersifat sementara atau permanen. Kolostomi sementara dilakukan hingga bagian kolon yang dipotong pulih. Sedangkan kolostomi permanen dilakukan pada pasien yang telah menjalani pengangkatan rektum secara keseluruhan.

Operasi pengangkatan kanker kolorektal dapat diikuti dengan operasi pengangkatan kelenjar getah bening, untuk melihat apakah kelenjar tersebut sudah terkena kanker.

Kemoterapi

Kemoterapi adalah pemberian obat-obatan untuk membunuh atau menghancurkan sel kanker. Kemoterapi dapat dilakukan sebelum operasi untuk mengecilkan ukuran kanker agar mudah diangkat. Selain itu, kemoterapi juga bisa dilakukan setelah operasi untuk mengurangi risiko kanker kolorektal kembali kambuh.

Dokter dapat meresepkan obat tunggal atau kombinasi obat, seperti fluorouracil, capecitabine, dan oxaliplatin. Bila diperlukan, dokter dapat mengombinasikan obat kemoterapi dengan terapi target.

Terapi target

Terapi target adalah pemberian obat-obatan yang secara spesifik menargetkan gen, protein, atau jaringan tubuh yang berkontribusi dalam perkembangan sel-sel kanker. Obat yang digunakan dalam terapi target berfungsi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada sel-sel yang sehat.

Obat yang digunakan dalam terapi target dapat berupa obat tunggal atau kombinasi. Jenis obatnya antara lain bevacizumab, regorafenib, dan cetuximab.

Imunoterapi

Imunoterapi adalah pemberian obat-obatan yang merangsang daya tahan tubuh untuk melawan sel kanker. Terapi ini biasanya ditujukan untuk pasien kanker kolorektal stadium lanjut.

Imunoterapi bekerja dengan dua cara, yaitu:

  • Obat yang mendorong sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel kanker dengan lebih efektif
  • Obat dengan kandungan senyawa buatan, yang meniru cara kerja sistem kekebalan tubuh

Radioterapi

Radioterapi atau terapi radiasi adalah pengobatan yang menggunakan sinar-X atau proton untuk membunuh sel kanker. Radioterapi dapat dilakukan dengan menembakkan sinar radiasi dari mesin radioterapi ke lokasi kanker, atau dengan menempatkan material radioaktif ke dalam tubuh pasien (brakiterapi).

Radioterapi bisa dilakukan sebelum operasi untuk menciutkan ukuran kanker, atau setelah operasi untuk menghancurkan sel kanker yang mungkin tertinggal. Jika diperlukan, radioterapi dapat dikombinasikan dengan kemoterapi.

Ablasi

Ablasi digunakan untuk menghancurkan kanker yang yang telah menyebar ke hati (liver) atau paru-paru dan berdiameter kurang dari 4 cm. Ada empat teknik ablasi yang dapat digunakan untuk menangani kanker kolorektal, yaitu:

  • Radiofrequency ablation, yaitu teknik ablasi dengan menggunakan gelombang radio berfrekuensi tinggi
  • Microwave ablation, yaitu teknik ablasi dengan memanfaatkan suhu tinggi dari gelombang mikro elektromagnetik
  • Ethanol ablation, yaitu teknik ablasi yang dilakukan dengan menyuntikkan alkohol tepat ke area tumor, menggunakan bantuan USG atau CT scan
  • Cryosurgery atau cryotherapy, yaitu teknik ablasi yang dilakukan dengan membekukan tumor, menggunakan nitrogen cair

Embolisasi

Embolisasi digunakan untuk menghancurkan kanker kolorektal yang telah menyebar ke liver dan berdiameter lebih dari 5 cm. Teknik ini bertujuan untuk menyumbat arteri liver yang memberi asupan nutrisi dan oksigen ke kanker. Embolisasi dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

  • Embolisasi arteri, yang dilakukan dengan memasukkan zat penyumbat arteri melalui kateter
  • Kemoembolisasi, yang dilakukan dengan mengombinasikan embolisasi arteri dengan kemoterapi
  • Radioembolisasi, yang dilakukan dengan mengombinasikan embolisasi arteri dengan radioterapi

Komplikasi Kanker Kolorektal

Kanker kolorektal dapat menimbulkan sejumlah komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Komplikasi tersebut di antaranya:

  • Penyumbatan usus besar (obstruksi usus)
  • Tumbuhnya kanker kolorektal baru di lokasi yang berbeda
  • Kanker menyebar ke jaringan atau organ tubuh lain (metastatis)

Pencegahan Kanker Kolorektal

Belum diketahui bagaimana cara mencegah kanker kolorektal. Namun, Anda bisa mengurangi risiko terkena kanker kolorektal dengan melakukan beberapa hal berikut:

  • Mengonsumsi biji-bijian, buah, dan sayur
  • Berolahraga rutin, sedikitnya 30 menit sehari
  • Mengurangi asupan makanan berlemak dan makanan cepat saji
  • Menghentikan kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol
  • Mempertahankan berat badan ideal
  • Mengelola diabetes dengan baik (jika ada)