Makanan dan minuman manis disenangi oleh banyak orang, terutama anak-anak. Namun, pemberian makanan atau minuman manis pada anak sebenarnya harus dibatasi, khususnya yang tinggi sukrosa. Pasalnya, gula jenis ini bisa menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan buah hati.

Sudah hal yang lumrah bila anak-anak menyukai makanan atau minuman manis. Es krim, minuman bersoda, minuman manis berperisa buah atau cokelat, juga makanan kaleng memang lebih mudah diterima di lidah mereka.

Mengenal Sukrosa dan Dampaknya pada Tumbuh Kembang Anak - Alodokter

Tak jarang anak cenderung lebih lahap mengonsumsi makanan atau minuman tersebut bila dibandingkan makanan buatan ibunya. Apakah Bunda mengalami hal yang sama?

Jika iya, Bunda perlu membatasi pemberian makanan atau minuman manis, ya. Jenis makanan ini umumya akan menyebabkan konsumsi gula atau sukrosa Si Kecil menjadi lebih dari yang sebenarnya ia butuhkan. Hal ini bisa berpengaruh buruk terhadap kesehatannya di kemudian hari.

Ini Perbedaan Sukrosa, Fruktosa, dan Glukosa

Sebelum mengetahui dampak kesehatan yang mengintai Si Kecil bila ia terlalu banyak mengonsumsi makanan atau minuman manis, Bunda perlu tahu bahwa ada 3 jenis gula yang dikonsumsi hampir setiap hari, yaitu glukosa, fruktosa, dan sukrosa. Berikut adalah penjelasannya:

Glukosa

Glukosa adalah bentuk paling sederhana dari gula. Glukosa sangat mudah dicerna, karena molekulnya tidak perlu dipecah lagi dan langsung diserap ke dalam aliran darah. Glukosa bisa langsung diubah menjadi energi di dalam sel melalui bantuan hormon insulin.

Dibandingkan fruktosa dan sukrosa, glukosa memiliki rasa yang tidak terlalu manis. Umumnya glukosa ditemukan pada makanan berkabohidrat tinggi, seperti roti, nasi, dan jagung.

Fruktosa

Fruktosa adalah jenis gula yang sering ditemukan dalam buah, madu, dan sebagian umbi-umbian. Bila dibandingkan jenis gula lainnya, fruktosa memiliki rasa yang paling manis.

Walau begitu, fruktosa tidak langsung menaikkan kadar gula darah. Proses untuk menjadikannya sumber energi pun relatif lebih rumit karena harus diubah menjadi glukosa dulu di hati.

Sukrosa

Sukrosa adalah nama lain dari gula pasir atau gula batu yang setiap hari kita konsumsi. Sukrosa adalah gabungan dari 2 molekul, yakni fruktosa dan glukosa. Karena sukrosa terdiri dari glukosa dan fruktosa, rasa sukrosa ada di tengah keduanya, yakni lebih manis daripada glukosa dan kurang manis bila dibandingkan dengan fruktosa.

Saat sukrosa dicerna dan diserap ke aliran darah, tubuh akan mengutamakan penggunaan glukosa terlebih dahulu, karena prosesnya lebih mudah. Sementara itu, fruktosa akan disimpan terlebih dahulu dalam bentuk lemak.

Selain gula-gula di atas, terdapat juga jenis gula laktosa yang merupakan gabungan dari glukosa dan galaktosa. Gula ini secara alami didapatkan pada ASI atau produk susu hewani, tetapi juga bisa ditemukan pada makanan atau minuman yang sudah diproses.

Laktosa bisa menjadi sumber energi untuk anak dan diketahui memiliki efek yang baik untuk metabolisme anak. Selain itu, laktosa dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi anak dapat meningkatkan jumlah bakteri baik dalam usus dan mengoptimalkan penyerapan nutrisi lain, seperti vitamin B12 dan kalsium.

Dampak Konsumsi Sukrosa Berlebih pada Anak

Dari ketiga jenis gula di atas, sukrosa adalah pemanis yang kerap kali ditambahkan ke dalam makanan atau minuman kemasan. Bila dikonsumsi secara berlebihan oleh anak, dampak negatifnya adalah:

Menimbulkan kerusakan gigi

Makanan manis sangat tidak bersahabat dengan kesehatan gigi anak. Terlalu sering mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula bisa menimbulkan kerusakan gigi. Pasalnya, sisa gula yang menumpuk di celah-celah gigi akan bercampur dengan bakteri mulut.

Jika tidak rutin dibersihkan, hal ini bisa menyebabkan Si Kecil mengalami sakit gigi atau gigi berlubang. Bila gigi berlubang tidak segera diatasi, bukannya tidak mungkin Si Kecil akan mengalami kerusakan gigi yang mengharuskan giginya dicabut.

Meningkatkan risiko obesitas

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, fruktosa yang ada dalam sukrosa cenderung akan ditumpuk dulu oleh tubuh sebagai lemak. Lemak ini seharusnya menjadi cadangan energi untuk anak.

Namun, sayangnya, gula dalam makanan dan minuman anak ini bisa berkali-kali lipat lebih banyak daripada kebutuhan energi anak yang sebenarnya. Alhasil, kebanyakan gula ini hanya akan menjadi tumpukan lemak dan membuat anak mengalami obesitas.

Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele, Bun. Bila tidak segera diatasi, obesitas bisa mengganggu aktivitas Si Kecil sehari-hari dan membuatnya berisiko menderita berbagai penyakit kronis di kemudian hari, seperti diabetes dan penyakit jantung.

Mengurangi asupan nutrisi lain yang dibutuhkan tubuh

Makanan tinggi sukrosa atau gula biasanya memiliki rasa yang enak, sehingga membuat Si Kecil tidak bisa berhenti memakannya. Hal itu tentu akan membuatnya kenyang, padahal makanan buatan Bunda belum disentuhnya sama sekali.

Bila hal ini terjadi terus-menerus, asupan nutrisi lain yang dibutuhkan oleh tubuh Si Kecil akan berkurang, karena ia tidak mau mengonsumsi makanan sehat yang Bunda berikan. Padahal, makanan sehat dengan gizi yang seimbang sangat penting untuk menunjang tumbuh kembangnya.

Sebenarnya, anak-anak berusia 2–18 tahun dianjurkan untuk tidak mengonsumsi lebih dari 25 gram (6 sendok teh) gula pasir per hari. Sementara itu, anak-anak di bawah 2 tahun dianjurkan untuk tidak mendapatkan tambahan gula pasir sama sekali.

Melihat informasi di atas, penting bagi Bunda untuk membatasi asupan gula Si Kecil, terutama dari makanan atau minuman kemasan yang cenderung banyak mengandung sukrosa.

Agar Bunda bisa dengan mudah mengontrol seberapa banyak gula yang masuk ke dalam tubuh Si Kecil, sekaligus meredam keinginannya untuk jajan makanan atau minuman manis, ada baiknya bila Bunda membuatkan ia camilan manis yang sehat di rumah.

Namun, bila Bunda tetap memiliki kendala dalam mengontrol asupan gula Si Kecil, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat.