Kulit Si Kecil memang kerap kali tampak kemerahan dan bengkak setelah imunisasi. Sebelum Bunda curiga berlebihan dan panik, cermati dulu apakah situasi tersebut normal atau memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Umumnya imunisasi tidak akan mendatangkan efek samping berbahaya bagi penerimanya. Rasa sakit yang dirasakan saat disuntik juga biasanya bersifat ringan dan bisa reda dengan sendirinya.

Normalkah Kulit Anak Bengkak Setelah Imunisasi? - Alodokter

Efek Samping Imunisasi

Selain rasa sakit saat disuntik, ada juga beberapa efek samping lain yang mungkin akan dialami oleh anak, misalnya demam ringan, sakit kepala, merasa lelah, nyeri otot, dan sendi. Bengkak dan kemerahan juga termasuk efek samping yang umum terjadi. Kondisi seperti ini dikenal sebagai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

Kulit bengkak setelah imunisasi merupakan salah satu pertanda bahwa tubuh mulai membentuk kekebalan terhadap penyakit. Peradangan ini biasanya muncul beberapa jam setelah imunisasi dan reda dengan sendirinya dalam satu minggu.

Yang perlu Bunda waspadai adalah efek samping imunisasi berupa reaksi alergi anafilaktik. Kondisi ini sangat jarang terjadi, tetapi bisa berbahaya dan mengancam nyawa. Oleh karena itu, ada baiknya Bunda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum melakukan imunisasi untuk Si Kecil.

Bengkak Setelah Imunisasi Terjadi pada Pemberian Vaksin Tertentu

Kulit bengkak setelah imunisasi tidak terjadi pada semua pemberian vaksin. Berikut ini adalah beberapa jenis vaksin yang dapat menimbulkan kulit bengkak dan kemerahan:

1. Vaksin BCG

Vaksin BCG atau Bacillus Calmette-Guerin adalah vaksin yang diberikan untuk melindungi anak dari penyakit TBC (tuberkulosis). Umumnya, setelah pemberian vaksin BCG, kulit di lokasi penyuntikan akan sedikit membengkak. Pembengkakan ini biasanya tidak berlangsung lama, tetapi akan berubah menjadi bekas luka kecil di kulit anak.

2. Vaksin hepatitis B

Vaksin hepatitis B dilakukan untuk melindungi anak dari peradangan hati yang diakibatkan oleh virus hepatitis B. Vaksin ini mungkin bisa menyebabkan nyeri, bengkak, dan kemerahan di lokasi penyuntikan.

3. Vaksin DPT

Imunisasi DPT adalah vaksin yang diberikan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus pada anak. Vaksin ini mungkin bisa menyebabkan efek samping berupa reaksi peradangan dan pembengkakan di sekitar lokasi penyuntikan, terutama pada imunisasi DPT jenis DTaP yang diberikan saat memasuki usia sekolah (5 tahun).

4. Vaksin cacar air (varicella)

Vaksin cacar air atau varicella adalah vaksin yang diberikan untuk mencegah penyakit cacar air. Umumnya akan muncul bintik kemerahan yang terlihat antara hari ke-5 hingga hari ke-26 setelah vaksinasi cacar air. Selain itu, dapat juga timbul benjolan atau luka di daerah yang disuntik.

5. Vaksin measles/mumps/rubella (MMR)

Vaksin ini adalah vaksin yang diberikan untuk mencegah penyakit measles (campak), mumps (gondongan), dan rubella. Umumnya setelah pemberian vaksinasi MMR, dapat muncul gejala demam diikuti dengan ruam kemerahan ringan di sekitar titik penyuntikan, beserta dengan batuk-pilek ringan.

Cara Meringankan Bengkak Setelah Imunisasi

Ada cara yang dapat Bunda lakukan jika area kulit anak bengkak setelah imunisasi, antara lain:

  • Kompres dingin area yang bengkak dan merah selama kurang lebih 10–20 menit. Bungkus kompres dingin dengan handuk atau kain agar tidak langsung menyentuh kulit.
  • Pastikan Si Kecil tidak mengenakan selimut atau pakaian yang panas dan beri ia minum air putih atau ASI lebih banyak jika bengkak setelah imunisasi disertai demam.
  • Berikan paracetamol untuk sebagai pereda rasa sakit atau konsultasi dokter untuk obat yang tepat jika rasa sakitnya sangat mengganggu.

Imunisasi umumnya hanya akan menimbulkan efek samping yang tergolong ringan dan itu pun akan mereda dalam beberapa hari. Jadi, efek samping bengkak setelah imunisasi seperti ini tidak boleh menjadi alasan Bunda untuk tidak melengkapi imunisasi Si Kecil, ya.

Imunisasi yang lengkap dan sesuai jadwal tetaplah sangat penting untuk anak dan tidak boleh dilewatkan. Namun, jika efek samping tampak sangat mengganggu dan tidak kunjung mereda, Bunda bisa membawa Si Kecil ke dokter untuk diperiksa.