Vaksin MMR adalah vaksin yang diberikan dengan tujuan agar tubuh terlindung dari penyakit gondong, campak, dan rubella. Meski bertujuan melindungi tubuh, namun vaksin ini tidak luput dari kontroversi, yaitu dianggap dapat membuat anak mengalami autisme. Cari tahu fakta tentang vaksin MMR di sini.

Vaksin MMR merupakan gabungan vaksin yang efektif dan aman dalam melawan gondong, campak, dan rubella. Suntikan ini mengandung virus dari ketiga penyakit tersebut, yang sudah dilemahkan terlebih dahulu.

Vaksin MMR Bisa Menyebabkan Autisme, Ini Faktanya - Alodokter

Vaksin disuntikkan pada bagian otot lengan atas atau paha. Vaksin MMR diberikan dalam dosis optimal pada saat anak berusia 15 bulan, kemudian diberikan dosis booster atau penguat pada usia 5 tahun. Pemberian vaksin MMR ini akan memicu sistem imunitas untuk menghasilkan antibodi, agar nantinya siap untuk melawan virus rubella, campak, dan gondong.

Memahami Risiko Efek Samping Vaksin MMR

Umumnya vaksin MMR tidak memiliki efek samping yang berarti. Sekalipun ada, efek samping ringan yang mungkin dirasakan adalah kemerahan di bagian tubuh yang disuntik atau demam.

Meski terbilang jarang, pada kondisi tertentu, vaksin MMR kemungkinan dapat menimbulkan efek samping lain, seperti:

  • Pembengkakan kelenjar.
  • Kejang-kejang.
  • Sendi kaku atau nyeri sendi.
  • Ensefalitis atau radang otak.
  • Perdarahan atau jumlah trombosit rendah.
  • Munculnya penyakit gondong yang tidak menular, sekitar dua hari.
  • Munculnya campak ringan yang tidak menular dan berlangsung sekitar tiga hari.

Kejang-kejang akibat demam juga bisa terjadi, tapi ini pun jarang terjadi. Untuk menghindari risiko ini, anak-anak disarankan untuk mendapatkan vaksin MMR sedini mungkin. Seiring bertambahnya usia, risiko anak mengalami efek samping dari vaksin MMR dapat meningkat.

Selain efek samping di atas, vaksin MMR atau bahan yang terkandung di dalamnya dapat menimbulkan reaksi alergi pada anak yang hipersensitif terhadap bahan-bahan tersebut. Tapi, kasus ini jarang sekali terjadi. Jika memang anak Anda alergi terhadap kandungan yang terdapat di dalam vaksin MMR, maka hindari pemberian vaksin ini karena bisa berbahaya.

Benarkah Vaksin MMR Dapat Menyebabkan Autisme?

Isu mengenai vaksin MMR dapat menyebabkan autisme, beredar saat seorang anak di Amerika mengalami penurunan kemampuan berkomunikasi dan perubahan perilaku, setelah vaksin MMR. Kondisi yang dialami anak tersebut memang tergolong gejala penyakit autisme, yaitu gangguan perkembangan yang memengaruhi komunikasi, perilaku, dan interaksi sosial.

Namun, kejadian yang dialami anak tersebut tidak bisa menjadi acuanĀ  anggapan tersebut. Penelitian di Amerika yang dilakukan pada tahun 2013 menunjukkan bahwa vaksin MMR aman untuk diberikan pada anak dan tidak menyebabkan autisme. Jadi, vaksin MMR bukanlah penyebab dari autisme, karena kondisi tersebut lebih erat kaitannya dengan faktor genetik.

Agar para orang tua tidak lagi khawatir, disarankan untuk mempelajari lebih lanjut mengenai kandungan yang terdapat pada vaksin MMR. Selain itu, orang tua juga harus berperan aktif dalam mencari tahu dan memberikan informasi akurat kepada dokter mengenai riwayat kesehatan anak, orang tua, dan keluarga, sebelum vaksinasi dilakukan.

Pada beberapa kondisi, misalnya saat anak sakit flu, pemberian vaksin MMR mungkin perlu ditunda sampai kondisi anak pulih dan sehat. Pahami pula kondisi lain pada anak, seperti riwayat penyakit autoimun dan saraf atau alergi, kemudian mintalah rekomendasi dokter untuk pemberian vaksin MMR.

Vaksin MMR bertujuan untuk melindungi tubuh dari beragam virus yang dapat menyebabkan penyakit berat. Jangan sampai kontroversi yang menyebut bahwa pemberian vaksin MMR dapat menyebabkan autisme, membuat para orang tua ragu untuk memberikan vaksin ini kepada anak. Jika Anda masih khawatir dengan efek samping dari vaksin MMR, tanyakan langsung ke dokter untuk memperoleh informasi yang akurat.