Autisme adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan berperilaku. Kondisi ini menyebabkan penderitanya sulit berkomunikasi, berhubungan sosial, dan belajar.
Autisme disebut juga sebagai gangguan spektrum autisme atau autism spectrum disorder (ASD). Istilah spektrum sendiri mengacu pada gejala dan tingkat keparahan kondisi yang berbeda-beda pada tiap penderitanya.

Artinya, ada penderita autisme yang hanya mengalami hambatan ringan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi, tetapi ada juga yang memerlukan pendampingan intensif dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Selain itu, kemampuan belajar, cara berpikir, dan perilaku penderita autisme juga dapat sangat bervariasi, tergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Gangguan yang termasuk dalam ASD adalah sindrom Asperger, gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS), gangguan autistik, dan childhood disintegrative disorder (sindrom Heller). Kondisi ini sering kali dikaitkan juga dengan sindrom savant.
Penyebab Autisme
Hingga saat ini, penyebab autisme belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli meyakini bahwa autism spectrum disorder (ASD) terjadi akibat kombinasi faktor genetik dan lingkungan yang memengaruhi perkembangan serta fungsi otak sejak masa awal pertumbuhan anak.
Kondisi ini dikaitkan dengan perbedaan cara otak memproses informasi, berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan mengatur perilaku.
Faktor Risiko Autisme
Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang anak mengalami autisme, yaitu:
- Berjenis kelamin laki-laki
- Memiliki keluarga dengan riwayat autisme
- Memiliki kelainan genetik atau kromosom tertentu, seperti sindrom fragile X dan tuberous sclerosis
- Terlahir secara prematur
- Terlahir dari kedua orang tua yang berusia lebih dari 40 tahun
- Terlahir dari ibu yang mengonsumsi minuman beralkohol atau obat-obatan tertentu, misalnya valproate (obat epilepsi tertentu), tanpa pengawasan dokter
Gejala Autisme
Gejala dan tingkat keparahan autisme bisa beragam. Penderita yang bergejala ringan umumnya tidak mengalami hambatan dalam beraktivitas. Namun, jika gejalanya berat, penderita membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitasnya sehari-hari.
Gejala yang dapat dialami oleh penderita autisme antara lain:
- Gangguan dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial, seperti lebih senang menyendiri, enggan berbicara dengan orang lain, dan sering mengulang kata yang sama (echolalia)
- Gangguan perilaku, seperti melakukan gerakan yang sama secara berulang, misalnya selalu berjalan dengan berjinjit
- Gangguan emosi dan perilaku lain, seperti mudah marah atau tantrum, hiperaktif, sulit fokus, atau perilaku melukai diri sendiri, misalnya membenturkan kepala. Sebagian penderita autisme juga dapat mengalami kondisi penyerta, seperti gangguan belajar atau epilepsi.
- Sensory overload, misalnya karena suara yang terlalu berisik, atau suhu yang sangat dingin atau panas.
Jika anak menunjukkan tanda-tanda autisme atau mengalami keterlambatan perkembangan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Anda juga bisa chat dengan dokter spesialis anak melalui aplikasi ALODOKTER, untuk mendapatkan informasi dan penanganan yang sesuai dengan kondisi anak.
Kapan Harus ke Dokter
Orang tua sebaiknya segera membawa anak ke dokter jika melihat tanda-tanda keterlambatan perkembangan, gangguan komunikasi, atau kesulitan interaksi sosial yang tidak sesuai dengan usia anak.
Segera periksakan anak ke dokter bila ia menunjukkan gejala di bawah ini:
- Mengalami keterbatasan dalam kemampuan berbicara atau berinteraksi
- Tidak menunjukkan respons bahagia atau tersenyum hingga usia 6 bulan
- Tidak meniru suara atau ekspresi wajah sampai usia 9 bulan
- Tidak berceloteh hingga usia 12 bulan
- Tidak melakukan gerakan, seperti melambai atau menunjuk, sampai usia 14 bulan
- Tidak mengucapkan satu kata pun hingga usia 16 bulan
- Menunjukkan perilaku berulang, misalnya mengepakkan tangan berulang kali
- Sangat sensitif terhadap rangsangan tertentu, misalnya menutup telinga saat mendengarkan suara
Pemeriksaan sedini mungkin penting dilakukan agar anak dapat segera memperoleh penanganan dan terapi yang tepat sesuai kebutuhannya. Untuk mempermudah pemeriksaan, orang tua juga dapat membuat janji konsultasi melalui fitur booking dokter di aplikasi ALODOKTER, sehingga penanganan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan tepat.
Diagnosis Autisme
Diagnosis autisme dilakukan untuk menilai menilai adanya gangguan perkembangan yang memengaruhi kemampuan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku.
Hal yang pertama dilakukan adalah dokter akan melakukan wawancara dengan orang tua mengenai riwayat kesehatan, tumbuh kembang anak, pola komunikasi, dan perilaku anak sehari-hari.
Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan, yaitu:
- Observasi perilaku anak, untuk menilai kemampuan sosial, komunikasi, dan perilaku anak
- Evaluasi tumbuh kembang, untuk mengetahui apakah terdapat keterlambatan perkembangan tertentu
- Skrining autisme, untuk membantu mendeteksi tanda-tanda autisme
- Tes pendengaran, untuk memastikan keluhan anak bukan disebabkan oleh gangguan pendengaran
- Pemeriksaan neurologis, untuk menilai fungsi otak dan sistem saraf anak, terutama bila anak mengalami kejang, gangguan koordinasi gerak, atau gangguan perkembangan
- Pemeriksaan genetik, untuk mengetahui kemungkinan penyebab autisme dan mendeteksi gangguan lain yang mungkin menyertai
- Pemeriksaan psikologis dan kemampuan belajar, untuk membantu menentukan terapi dan metode pendidikan yang paling sesuai untuk anak
Selain itu, dokter juga akan menegakkan diagnosis berdasarkan pedoman medis, seperti DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders). Dalam DSM-5, seseorang dapat didiagnosis mengalami autisme bila mengalami hal berikut ini:
- Gangguan komunikasi dan interaksi sosial
- Pola perilaku, aktivitas, atau minat yang terbatas dan berulang
- Gejala muncul sejak masa awal perkembangan anak
Penilaian ini penting untuk menentukan jenis terapi, pendampingan, dan dukungan yang paling sesuai bagi anak.
Pengobatan Autisme
Autisme tidak bisa disembuhkan. Namun, penanganan dan terapi yang tepat dapat dilakukan agar penderita autisme dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari. Terapi juga harus dilakukan sedini mungkin.
Berikut ini beberapa metode pengobatan dan terapi autisme yang umum dilakukan:
Terapi perilaku dan komunikasi
Terapi ini bertujuan membantu anak memahami cara berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan mengurangi perilaku yang mengganggu. Salah satu metode yang sering digunakan adalah applied behavior analysis (ABA). Pada terapi ini, anak akan diajarkan berbagai keterampilan secara bertahap, seperti berkomunikasi dengan orang lain.
Terapi wicara
Terapi wicara dilakukan untuk membantu meningkatkan kemampuan berbicara, memahami bahasa, dan berkomunikasi. Terapi ini dapat membantu anak mengucapkan kata dengan lebih jelas, memahami instruksi sederhana, menyusun kalimat, serta mengungkapkan kebutuhan dan emosinya dengan lebih baik.
Terapi okupasi
Terapi okupasi bertujuan melatih kemampuan anak dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Melalui terapi ini, anak dapat dilatih untuk bisa makan, menulis, atau memakai pakaian sendiri.
Terapi sensori integrasi
Terapi sensori integrasi bertujuan membantu anak beradaptasi dengan rangsangan sensorik sehingga mereka lebih nyaman saat beraktivitas. Terapi ini dapat membantu mengurangi ketakutan terhadap suara keras atau ketidaknyamanan saat disentuh.
Terapi keluarga
Keluarga memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan anak dengan autisme. Dukungan keluarga yang baik dapat membantu meningkatkan keberhasilan terapi.
Developmental, individual differences, relationship-based approach (DIR)
bertujuan untuk mengembangkan hubungan emosional antara pasien dengan keluarganya.
Treatment and education of autistic and related communication-handicapped children (TEACCH)
Terapi ini menggunakan petunjuk visual, seperti gambar, yang menunjukkan tahapan dalam melakukan sesuatu. TEACCH akan membantu pasien untuk memahami bagaimana melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berganti pakaian.
The picture exchange communication system (PECS)
Terapi ini juga menggunakan petunjuk visual seperti TEACCH. Namun, PECS menggunakan simbol, untuk membantu pasien berkomunikasi dan belajar mengajukan pertanyaan.
Obat-obatan
Sebenarnya, tidak ada obat yang dapat menyembuhkan autisme. Namun, dokter dapat memberikan obat-obatan berikut ini guna mengendalikan gejala:
- Obat antipsikotik, seperti risperidone, untuk mengatasi masalah perilaku
- Obat antikejang, seperti valproate, untuk mengatasi kejang
- Antidepresan, seperti fluoxetine atau sertraline, untuk mengatasi kecemasan, perilaku obsesif, atau gangguan mood
- Melatonin, untuk mengatasi gangguan tidur
- Methylphenidate, untuk mengurangi hiperaktif dan meningkatkan konsentrasi pada anak yang juga mengalami gangguan perhatian
Pemberian obat harus berdasarkan resep dan pengawasan dokter. Oleh karena itu, pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum memberikan obat-obatan pada anak.
Komplikasi Autisme
Autisme yang tidak mendapatkan penanganan dan pendampingan yang tepat dapat menyebabkan beberapa komplikasi, yaitu:
- Kesulitan berkomunikasi, seperti sulit berinteraksi dengan orang lain, mengalami keterlambatan perkembangan bahasa, dan sulit memahami instruksi
- Gangguan interaksi sosial, misalnya sulit menjalin pertemanan, suka menyendiri, dan sulit bekerja sama dengan orang lain
- Gangguan belajar
- Gangguan perilaku
- Gangguan sensorik, seperti tidak nyaman saat disentuh atau tidak suka di tempat ramai
- Gangguan tidur
- Gangguan mental dan emosional, seperti depresi, gangguan mood, gangguan kecemasan, dan gangguan obsesif kompulsif (OCD)
- Hiperaktif dan impulsif
- Kejang atau epilepsi
- Gangguan makan
- Ketidakmampuan untuk hidup mandiri
Pencegahan Autisme
Sayangnya, autisme sulit untuk dicegah. Namun, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi faktor risiko yang berkaitan dengan autisme, terutama dengan menjaga kesehatan ibu dan janin selama kehamilan.
Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan:
- Menjalani pemeriksaan kehamilan secara rutin
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
- Melakukan vaksinasi sebelum kehamilan, seperti vaksinasi rubella
- Menghindari konsumsi minuman beralkohol selama hamil
- Tidak merokok
- Mengelola stres
- Beristirahat yang cukup
- Menghindari paparan zat berbahaya selama kehamilan
Namun, perlu diketahui bahwa langkah-langkah di atas tidak dapat sepenuhnya mencegah autisme. Soalnya, kondisi ini dipengaruhi banyak faktor, terutama faktor genetik.