Autisme termasuk kelainan yang tidak bisa disembuhkan. Meskipun demikian, terdapat berbagai pilihan terapi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan penderita. Melalui terapi, diharapkan penderita bisa mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Beberapa metode terapi bagi penderita autisme adalah:

Terapi perilaku dan komunikasi.

Terapi ini memberikan sejumlah pengajaran pada penderita, mencakup kemampuan dasar sehari-hari, baik verbal maupun nonverbal, meliputi:

  • Applied behaviour analysis (ABA). Terapi Analisis Perilaku Terapan membantu penderita berperilaku positif pada segala situasi. Terapi ini juga membantu penderita mengembangkan kemampuannya dalam berkomunikasi dan meninggalkan perilaku negatif.
  • Developmental, individual differences, relationship-based approach (DIR). DIR atau biasa disebut Floortime, berfokus pada pengembangan hubungan emosional antara anak autis dan keluarga.
  • Occupational therapy. Terapi okupasi mendorong penderita untuk hidup mandiri, dengan mengajarkan beberapa kemampuan dasar, seperti berpakaian, makan, mandi, dan berinteraksi dengan orang lain.
  • Speech therapy. Terapi wicara membantu penderita autis untuk belajar mengembangkan kemampuan berkomunikasi.
  • Treatment and education of autistic and related communication-handicapped children (TEACCH). Terapi ini menggunakan petunjuk visual seperti gambar yang menunjukkan tahapan melakukan sesuatu. TEACCH akan membantu penderita memahami bagaimana melakukan aktivitas sehari-hari, misalnya untuk berganti pakaian.
  • The picture exchange communication system (PECS). Terapi ini juga menggunakan petunjuk visual seperti TEACCH. Namun PECS menggunakan simbol, untuk membantu penderita berkomunikasi dan belajar mengajukan pertanyaan.

Terapi keluarga

Terapi keluarga berfokus membantu orang tua dan keluarga penderita autisme. Melalui terapi ini, keluarga akan belajar cara berinteraksi dengan penderita, dan mengajarkan penderita berbicara dan berperilaku normal.

Obat-obatan.

Walau tidak bisa menyembuhkan autisme, obat-obatan dapat diberikan guna mengendalikan gejala. Contohnya, obat antipsikotik untuk mengatasi masalah perilaku, obat antikonvulsan untuk mengatasi kejang, antidepresan untuk meredakan depresi, dan melatonin untuk mengatasi gangguan tidur.

Pencegahan Autisme

Meski belum diketahui apa yang menyebabkan autisme, dokter akan memberi beberapa saran untuk mengurangi risiko anak Anda terlahir dengan autisme, antara lain:

  • Menjalani pola hidup sehat, misalnya dengan menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala, konsumsi makanan dengan nutrisi seimbang, dan rutin berolahraga.
  • Hindari konsumsi minuman beralkohol selama masa kehamilan.
  • Sebisa mungkin hindari konsumsi obat dalam masa kehamilan. Bila tidak terhindarkan, konsultasikan terlebih dulu dengan dokter.
  • Pastikan Anda sudah mendapatkan vaksin sebelum hamil, terutama vaksin rubella.
  • Segera berobat dan ikuti saran dokter bila sakit, terutama bila Anda didiagnosis menderita penyakit celiac atau fenilketonuria (PKU).