Penentuan diagnosis autisme adalah dengan merujuk pada sejumlah kriteria berikut:

1. Kurangnya komunikasi dan interaksi sosial dalam berbagai konteks, yang ditandai dengan beberapa ciri berikut:

  • Kurangnya respons sosial dan emosional.
  • Kurangnya bahasa tubuh dalam interaksi sosial.
  • Kurangnya kemampuan membangun dan mempertahankan hubungan sosial.

2. Pola perilaku, aktivitas, atau ketertarikan yang berulang dan terbatas, ditandai oleh setidaknya 2 dari 4 ciri berikut:

  • Melakukan aktivitas secara berulang, mencakup gerakan atau ucapan.
  • Perilaku atau ucapan yang memperlihatkan rutinitas yang sama.
  • Fokus dan ketertarikan yang abnormal pada sesuatu.
  • Reaksi yang berlebihan atau sebaliknya, kurangnya reaksi pada aspek sensorik terhadap lingkungan.

3. Gejala muncul pada periode perkembangan awal, dan makin terlihat jelas seiring waktu.

4. Gejala menyebabkan penderita autisme mengalami gangguan pada lingkungan kerja, sosial, dan lingkup kehidupan lainnya.

5. Gejala yang dialami tidak dapat dijelaskan dengan gangguan perkembangan atau kecacatan.

Komplikasi Autisme

Penderita autisme mungkin mengalami masalah pada pencernaan, pola makan atau pola tidur yang tidak biasa, perilaku agresif, dan sejumlah komplikasi lain, seperti:

  • Gangguan mental. Autisme dapat menyebabkan penderita mengalami depresi, cemas, gangguan suasana hati, dan perilaku impulsif.
  • Gangguan sensorik. Penderita autisme dapat merasa sensitif dan marah pada lampu yang terang atau suara yang berisik. Pada beberapa kasus, penderita tidak merespon sensasi sensorik seperti panas, dingin atau nyeri.
  • Kejang. Kejang bisa terjadi pada penderita autisme, dan dapat muncul pada usia kanak-kanak atau remaja.
  • Tuberous sclerosis. Tuberous sclerosis adalah penyakit langka yang memicu tumbuhnya tumor jinak di banyak organ tubuh, termasuk otak.