Penyebab leukemia pada anak masih sering membuat orang tua bertanya-tanya, terutama karena penyakit ini kerap muncul tanpa gejala yang jelas. Leukemia merupakan kanker darah yang paling sering dialami oleh anak-anak dan bisa berkembang sangat cepat jika tidak terdeteksi sejak awal.

Masih banyak yang beranggapan bahwa leukemia pada anak hanya disebabkan oleh faktor keturunan. Padahal, penyakit ini tidak selalu berkaitan dengan riwayat keluarga. Berbagai faktor lain, seperti paparan lingkungan dan kondisi tertentu, juga diduga berperan dalam terjadinya leukemia pada anak, meskipun pada sebagian besar kasus penyebab pastinya belum dapat dipastikan.

Penyebab Leukemia pada Anak dan Cara Mencegahnya - Alodokter

Oleh karena itu, pembahasan mengenai penyebab leukemia pada anak perlu dilihat secara menyeluruh. Hingga saat ini belum ditemukan satu penyebab yang pasti, tetapi sejumlah penelitian telah mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seorang anak mengalami leukemia.

Penyebab dan Faktor Risiko Leukemia pada Anak

Leukemia pada anak berbeda dari kanker darah pada orang dewasa. Penyakit ini terjadi ketika sumsum tulang anak memproduksi sel darah putih abnormal dalam jumlah berlebihan, sehingga mengganggu fungsi darah yang sehat.

Gejala leukemia pada anak sering kali tidak spesifik dan dapat menyerupai penyakit lain, seperti mudah lelah, pucat, demam yang berlangsung lama, serta infeksi yang sering kambuh. Anak juga bisa mengalami memar atau perdarahan yang mudah terjadi, mimisan berulang, serta nyeri tulang atau sendi akibat penumpukan sel abnormal di sumsum tulang.

Ada beberapa faktor risiko yang telah dikenali berkaitan dengan leukemia pada anak, antara lain:

1. Faktor genetik

Beberapa kelainan genetik sejak lahir dapat menjadi penyebab leukemia pada anak. Misalnya, anak dengan Down syndrome memiliki kemungkinan terkena leukemia lebih tinggi dibandingkan anak lain. Hal ini terjadi karena kelainan kromosom pada Down syndrome memengaruhi fungsi dan perkembangan sel darah.

Selain itu, sindrom Li-Fraumeni juga termasuk kelainan genetik langka yang dapat meningkatkan risiko leukemia. Kondisi ini disebabkan oleh mutasi pada gen TP53 yang berperan penting dalam mengendalikan pertumbuhan dan pembelahan sel, sehingga penderitanya lebih rentan terhadap berbagai jenis kanker.

Kelainan genetik lain yang turut meningkatkan risiko leukemia adalah anemia Fanconi. Gangguan darah bawaan ini menyebabkan sumsum tulang gagal memproduksi sel darah secara normal. Oleh karena itu, anak-anak dengan kondisi genetik seperti ini memerlukan pemantauan kesehatan yang lebih rutin dan menyeluruh.

2. Riwayat keluarga dengan leukemia

Walaupun jarang, anak yang memiliki saudara kandung atau orang tua yang pernah menderita leukemia berisiko lebih tinggi mengalami hal serupa. Faktor ini berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan genetik tertentu yang dapat diturunkan dalam keluarga.

Namun, penting untuk diketahui bahwa kasus leukemia sebagai penyakit turunan sangat sedikit dan sebagian besar anak pengidap leukemia tidak memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ini.

3. Paparan radiasi tinggi

Radiasi dosis tinggi dapat merusak sel-sel tubuh, termasuk sel di sumsum tulang yang berperan dalam pembentukan sel darah. Anak yang pernah menjalani terapi radiasi sebagai bagian dari pengobatan kanker jenis lain diketahui memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami leukemia, terutama jika paparan terjadi pada usia yang sangat muda.

Selain terapi medis, paparan radiasi akibat kecelakaan nuklir juga dapat meningkatkan risiko leukemia, meskipun kasus seperti ini tergolong sangat jarang terjadi di Indonesia.

Sementara itu, paparan radiasi sehari-hari dalam dosis rendah, seperti rontgen, hingga saat ini belum terbukti menjadi penyebab leukemia pada anak.

4. Paparan bahan kimia tertentu

Beberapa bahan kimia industri diketahui dapat memicu perubahan genetik pada sel darah di sumsum tulang, terutama benzena. Zat ini umumnya ditemukan di lingkungan industri, asap kendaraan, serta polusi udara di kawasan perkotaan.

Paparan benzena, terutama jika terjadi secara langsung atau dalam jangka panjang, dapat meningkatkan risiko leukemia pada anak. Meski demikian, kasus leukemia akibat paparan benzena di Indonesia tergolong jarang, karena paparan zat ini biasanya terbatas pada lingkungan dan kondisi tertentu.

5. Infeksi virus tertentu

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa infeksi virus Epstein-Barr (EBV), yang juga dikenal sebagai penyebab mononukleosis atau “kissing disease”, diduga berkaitan dengan peningkatan risiko leukemia pada anak. Virus EBV, bersama beberapa jenis virus lain, diduga memicu gangguan pada sistem kekebalan tubuh atau menyebabkan perubahan genetik pada sel darah.

Meski demikian, hubungan pasti serta mekanisme terjadinya leukemia akibat infeksi virus masih terus diteliti. Perlu ditekankan bahwa infeksi virus yang umum terjadi sehari-hari tidak serta-merta menyebabkan leukemia.

Namun, pada anak-anak dengan kerentanan tertentu, infeksi virus diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini.

6. Kelainan atau gangguan sistem imun

Anak dengan sistem imun lemah, baik karena kondisi medis tertentu, seperti defisiensi imun maupun penggunaan obat penekan kekebalan setelah transplantasi organ, berisiko lebih tinggi terkena leukemia.

Sistem imun yang melemah tidak mampu mengontrol pertumbuhan sel-sel abnormal di sumsum tulang sehingga memudahkan terjadinya perubahan menjadi sel leukemia.

Selain itu, anak dengan penyakit autoimun yang menyerang sumsum tulang juga perlu mendapatkan pengawasan medis secara lebih intensif, karena kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya leukemia.

Faktor yang Belum Terbukti sebagai Penyebab Leukemia Anak

Ada beberapa hal yang sering disalahpahami masyarakat sebagai penyebab leukemia pada anak, padahal hingga kini belum terbukti secara ilmiah, seperti:

Konsumsi makanan instan atau bahan pengawet

Banyak orang tua khawatir bahwa konsumsi makanan instan, MSG (monosodium glutamate), pengawet, atau pewarna buatan dapat menjadi penyebab leukemia pada anak.

Faktanya, hingga kini penelitian medis belum menemukan bukti kuat yang menunjukkan hubungan sebab-akibat antara konsumsi bahan-bahan tambahan makanan tersebut dan timbulnya leukemia.

Produk makanan olahan memang sebaiknya dibatasi demi kesehatan secara umum, tetapi bukan sebagai pencegahan khusus leukemia. Makanan instan atau makanan dengan pengawet lebih banyak dikaitkan dengan masalah kesehatan lain, seperti obesitas atau gangguan pencernaan.

Stres atau tekanan emosional

Banyak mitos beredar yang menyebutkan bahwa stres berat, perasaan tertekan, atau trauma emosional pada anak dapat menyebabkan leukemia. Padahal, secara medis, stres lebih berpengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh dan keseimbangan hormon, bukan pada perubahan genetik sel yang menjadi penyebab langsung leukemia.

Anak yang mengalami stres memang lebih rentan terkena infeksi atau penyakit lain. Namun, stres belum pernah terbukti secara ilmiah menjadi pemicu leukemia.

Paparan gelombang elektromagnetik dari alat elektronik

Isu bahwa penggunaan ponsel, laptop, atau peralatan elektronik lain dapat menimbulkan gelombang elektromagnetik yang memicu leukemia kerap menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.

Sampai saat ini, belum ada penelitian medis yang menunjukkan bahwa paparan gelombang elektromagnetik dari alat elektronik sehari-hari berisiko menyebabkan leukemia. Gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh perangkat rumah tangga tergolong sangat rendah dan dianggap aman untuk anak-anak dan orang dewasa.

Cara Mengantisipasi Leukemia pada Anak Lebih Awal

Mengetahui penyebab leukemia pada anak dan faktor risikonya bisa membantu orang tua lebih waspada dan melakukan langkah pencegahan yang sesuai, terutama jika anak memiliki faktor genetik atau riwayat keluarga.

Namun, penting untuk diingat bahwa sebagian besar kasus leukemia pada anak terjadi tanpa penyebab yang jelas, sehingga orang tua tidak perlu merasa bersalah atau menyesal apabila anak terdiagnosis penyakit ini.

Leukemia pada anak biasanya berkembang akibat kombinasi faktor genetik, paparan lingkungan, dan hal-hal lain yang belum sepenuhnya dipahami oleh dunia medis.

Untuk membantu mengurangi risiko dan mendeteksi leukemia pada anak sedini mungkin, orang tua dapat melakukan langkah-langkah berikut:

  • Memperhatikan perubahan fisik dan perilaku anak. Amati tanda-tanda, seperti anak sering lemas, pucat, mudah memar tanpa sebab jelas, sering demam, nyeri tulang, atau penurunan berat badan yang tidak wajar.
  • Rutin melakukan pemeriksaan kesehatan berkala, terutama jika anak memiliki faktor risiko genetik, riwayat keluarga, atau kondisi medis khusus.
  • Menghindari paparan bahan kimia dan radiasi berbahaya.
  • Memastikan anak mendapatkan nutrisi seimbang, cukup istirahat, rutin berolahraga sesuai usia, dan imunisasi lengkap agar sistem imun tetap optimal.
  • Mengajarkan anak pentingnya kebiasaan hidup sehat sejak dini, seperti mencuci tangan, memilih makanan sehat, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Bila Anda melihat gejala yang tidak biasa pada Si Kecil, seperti sering lemas, pucat, mudah memar tanpa sebab jelas, atau sering mengalami demam, segeralah konsultasi ke dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Konsultasi sejak dini, baik melalui fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER maupun langsung ke fasilitas kesehatan, sangat penting agar penyebab leukemia pada anak bisa terdeteksi dan penanganan bisa diberikan seawal mungkin.