Kalau bisa menentukan, mungkin kamu akan memilih untuk melahirkan secara cepat. Alasannya, tak hanya menghemat waktu, persalinan cepat juga cenderung tidak menguras energi secara berlebihan. Meski terdengar menarik, persalinan cepat sebenarnya tidak seenak yang kamu bayangkan, lho!

Dalam proses melahirkan normal, kamu akan melewati tiga tahap proses persalinan. Tahap proses persalinan yang harus kamu lalui adalah fase awal, fase melahirkan, dan fase keluarnya plasenta. Tahapan persalinan ini normalnya berlangsung sekitar 6-18 jam. Namun pada persalinan cepat, ketiga tahapan tersebut berlangsung hanya selama 3-5 jam.

Ingin Proses Persalinan Cepat? Yuk, Ketahui Plus dan Minusnya - Alodokter

Kelebihan Persalinan Cepat

Proses persalinan cepat lebih mungkin terjadi jika kamu sudah pernah melahirkan. Sebelum mengetahui kelebihannya, ada beberapa tanda persalinan cepat yang perlu untuk kamu ketahui.

Yang pertama adalah kamu akan merasakan kontraksi kuat, sangat nyeri, dan tanpa jeda pada tahap pertama persalinan. Selain itu, kamu juga akan merasakan adanya dorongan untuk mengejan yang muncul secara tiba-tiba dan datang begitu cepat.

Beberapa keuntungan yang bisa kamu rasakan dari persalinan cepat adalah tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk bertemu dengan bayimu, dan karena waktu yang relatif lebih cepat, energi yang kamu habiskan untuk mengejan juga tidak sebanyak persalinan dengan waktu yang normal.

Sedangkan pada bayi, keuntungannya adalah dapat meminimalkan terjadinya infeksi. Pasalnya, infeksi menjadi salah satu risiko yang mengintai persalinan lama.

Kekurangan Persalinan Cepat

Jika kamu berpikir proses persalinan cepat bisa membebaskanmu dari stres, kamu salah. Persalinan ini justru bisa membuat emosimu menjadi tidak karuan, lho! Karena prosesnya yang cepat, kamu bisa kesulitan mencari cara untuk mengatasi ketidaknyamanan saat proses persalinan berlangsung.

Selain itu, persalinan cepat juga berisiko membuatmu melahirkan di tempat yang tidak memadai, seperti di mobil saat menuju ke rumah bersalin atau di rumah tanpa adanya pengawasan bidan atau dokter.

Proses persalinan cepat juga dapat memicu beberapa komplikasi, seperti:

  • Robek atau memarnya vagina dan perineum (area antara vagina dan anus). Hal ini dapat menyebabkan terjadinya perdarahan parah usai melahirkan.
  • Abrupsi plasenta, yaitu kondisi ketika plasenta terlepas lebih dahulu (sebagian atau seluruhnya) dari dinding dalam rahim sebelum bayi lahir.
  • Meningkatnya risiko sebagian jaringan plasenta tertinggal di dalam rahim (retensi plasenta) setelah bayi dilahirkan.
  • Meningkatnya risiko infeksi pascapersalinan karena proses melahirkan terjadi di tempat yang tidak memadai.

Selain komplikasi di atas, persalinan cepat juga bisa berdampak buruk pada bayimu, seperti:

  • Meningkatnya risiko bayi menghirup cairan ketuban.
  • Meningkatnya risiko cedera pada kepala bayi, akibat perubahan tekanan yang cepat ketika ia turun melalui jalan lahir.
  • Meningkatnya risiko janin mengalami kekurangan pasokan oksigen dan nutrisi, jika terjadi abrupsi plasenta.

Persalinan cepat bisa dialami oleh ibu hamil mana pun. Namun, ada beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko terjadinya persalinan seperti ini, antara lain sudah pernah melahirkan dan mengandung bayi dengan ukuran yang kecil.

Untuk mengantisipasinya, lakukan pemeriksaan rutin ke dokter selama kehamilan, khususnya di akhir trimester ketiga. Tujuannya adalah agar kondisi kandungan dan janinmu bisa terpantau dengan baik, serta agar komplikasi kehamilan dapat terdeteksi secara dini dan segera ditangani.