Sampah organik sering dianggap tidak berbahaya karena berasal dari bahan alami, seperti sisa makanan, kulit buah, dan daun kering. Namun, jika dibiarkan menumpuk, sampah ini dapat membusuk, menimbulkan bau tidak sedap, serta mengundang lalat atau kecoa yang bisa membawa kuman ke dalam rumah.

Sampah organik adalah sampah yang mudah terurai secara alami. Jenis sampah ini dapat berasal dari sisa makanan, seperti nasi basi, sayur dan buah yang membusuk, ampas kopi, serta cangkang telur, maupun dari bahan alami lainnya, seperti daun dan ranting kecil.

Sampah Organik dan Cara Mengolahnya di Rumah - Alodokter

Meski berasal dari bahan alami, bukan berarti sampah organik selalu aman jika dibiarkan begitu saja. Saat menumpuk dan mulai membusuk, sampah ini dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri, jamur, serta larva serangga.

Oleh karena itu, sampah organik perlu dikelola dengan baik dan teratur, terutama di rumah yang memiliki anak-anak, lansia, atau anggota keluarga dengan daya tahan tubuh yang lemah.

Cara Mengelola Sampah Organik di Rumah

Mengelola sampah organik di rumah sebenarnya tidak rumit. Hal yang terpenting adalah memisahkannya dari sampah lain, menyimpannya dengan baik, dan segera membuang atau mengolahnya agar tidak menumpuk dan membusuk terlalu lama.

Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengelola sampah organik:

1. Pisahkan sampah organik sejak dari dapur

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memisahkan sampah organik dari jenis sampah lainnya sejak dari dapur. Sediakan wadah khusus untuk menampung sisa makanan, kulit buah, sayuran, ampas kopi, cangkang telur, dan bahan lain yang mudah terurai.

Sementara itu, plastik, popok, pembalut, puntung rokok, baterai, dan limbah medis rumah tangga sebaiknya dibuang ke wadah terpisah. Dengan membiasakan pemilahan sejak awal, sampah menjadi lebih mudah dikelola dan sampah organik pun lebih mudah diolah kembali, misalnya menjadi kompos.

2. Gunakan tempat sampah yang tertutup

Untuk menampung sampah organik, gunakan tempat sampah yang memiliki tutup dan mudah dibersihkan. Tutup membantu mengurangi bau serta mencegah lalat dan serangga lain mendekati sampah, terutama jika di dalamnya terdapat sisa makanan.

Jika menggunakan kantong sampah, pilih yang cukup kuat dan tidak mudah bocor agar cairan dari sisa makanan tidak merembes ke lantai atau permukaan di sekitarnya. Sebaiknya letakkan tempat sampah di area yang kering, memiliki sirkulasi udara yang baik, dan tidak terkena sinar matahari langsung agar sampah tidak cepat membusuk.

3. Buang sampah secara rutin

Sampah organik, terutama yang basah seperti sisa makanan dan sayuran, sebaiknya tidak dibiarkan terlalu lama di dalam rumah. Semakin lama menumpuk, sampah akan semakin mudah membusuk, menimbulkan bau, dan menarik lalat atau serangga lainnya, terlebih saat cuaca panas dan lembap.

Oleh karena itu, biasakan membuang sampah secara rutin, misalnya mengikuti jadwal pengangkutan sampah di lingkungan tempat tinggal. Jika tempat sampah sudah penuh atau mulai menimbulkan bau, sebaiknya segera kosongkan dan bersihkan wadahnya sebelum digunakan kembali.

4. Bersihkan tempat sampah secara berkala

Meski sudah menggunakan kantong sampah, bagian dalam tempat sampah tetap bisa terkena sisa makanan atau cairan dari sampah organik. Jadi, bersihkan tempat sampah setiap kali terlihat kotor atau setelah sampah dibuang, terutama jika ada cairan yang merembes atau tumpah.

Cukup cuci dengan air dan sabun, lalu bilas dan keringkan sebelum digunakan kembali. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi bau tidak sedap dan mencegah tempat sampah menjadi tempat yang disukai lalat atau serangga lainnya.

5. Olah sampah menjadi kompos jika memungkinkan

Selain dibuang, sebagian sampah organik juga bisa dimanfaatkan kembali menjadi kompos. Sisa sayur, kulit buah, ampas kopi, daun kering, dan bahan organik lainnya dapat dimasukkan ke dalam komposter secara bertahap.

Agar proses pengomposan berjalan dengan baik, campurkan bahan yang basah dengan bahan yang lebih kering dan pastikan komposter memiliki sirkulasi udara yang cukup. Hindari memasukkan daging, ikan, tulang, produk susu, serta makanan yang banyak mengandung minyak karena bisa menimbulkan bau dan menarik lalat.

Setelah matang, kompos dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah atau dicampurkan ke media tanam untuk membantu menjaga kondisi tanah dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Kompos bisa digunakan untuk tanaman hias, tanaman sayur, maupun tanaman di kebun rumah.

6. Gunakan sarung tangan saat mengolah sampah

Jika perlu mengolah sampah organik secara langsung, misalnya saat memindahkan sisa makanan ke komposter, sebaiknya gunakan sarung tangan. Selain membuat tangan lebih bersih, sarung tangan juga membantu mengurangi kontak langsung dengan kotoran, sisa makanan, atau benda lain yang mungkin tercampur di dalam sampah.

Setelah selesai, lepaskan sarung tangan dan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Jika ada luka atau iritasi pada tangan, sebaiknya hindari menyentuh sampah secara langsung dan gunakan sarung tangan yang sesuai untuk melindungi kulit.

7. Jauhkan dari sumber air dan area makan

Tempat sampah dan komposter sebaiknya diletakkan di area yang tidak berdekatan dengan sumur, sumber air minum, meja makan, atau tempat bermain anak. Pilih lokasi yang kering, mudah dibersihkan, dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari di rumah.

Pastikan juga wadah dalam kondisi tertutup dan tidak bocor, terutama jika menampung sampah organik yang basah. Dengan begitu, cairan dari sampah tidak mudah mengotori area sekitar atau mencemari sumber air, sekaligus membantu menjaga area yang sering digunakan keluarga tetap bersih.

Mengelola sampah organik tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang rumit. Memisahkan sampah sejak dari dapur, menggunakan tempat sampah yang tertutup, membuangnya secara rutin, dan menjaga kebersihan wadah sudah menjadi langkah sederhana untuk menjaga rumah tetap bersih dan nyaman.

Jika memiliki ruang dan waktu, sampah organik tertentu juga bisa dimanfaatkan menjadi kompos untuk tanaman di rumah.

Hal yang terpenting, jangan biarkan sampah organik menumpuk terlalu lama, terutama jika sudah mulai berbau atau mengundang lalat dan serangga. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah organik tidak hanya lebih mudah ditangani, tetapi juga dapat dimanfaatkan kembali dan mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan.

 Jika setelah kontak dengan sampah Anda mengalami keluhan, seperti diare berat, muntah berulang, demam tinggi, sesak napas, atau luka yang bengkak dan bernanah, segera periksakan diri ke dokter. Bila mengalami keluhan yang lebih ringan atau masih ragu mengenai kondisi yang dialami, Anda juga bisa Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan arahan awal yang sesuai.