Self harm pada remaja adalah perilaku melukai diri sendiri yang kerap terjadi akibat stres berat, masalah emosi, atau kondisi kesehatan mental yang belum tertangani. Memahami penyebab dan tanda-tandanya sangat penting agar remaja dapat segera memperoleh dukungan dan bantuan profesional yang tepat.
Self harm pada remaja sering kali dilakukan sebagai cara untuk meluapkan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Banyak remaja merasa tindakan ini dapat memberikan rasa lega sementara, padahal sebenarnya justru dapat memperburuk kesehatan mental dan fisik mereka.

Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan lingkungan sekitar untuk memahami apa yang memicu perilaku ini. Dengan mengenali faktornya sejak awal, dukungan yang tepat dapat diberikan sebelum kondisi semakin serius.
Tanda Self Harm pada Remaja yang Harus Diwaspadai
Perhatikan tanda-tanda berikut ini sebagai indikasi bahwa seorang remaja mungkin melakukan self harm:
- Luka, goresan, atau bekas bakar berulang yang sering disamarkan atau dijelaskan dengan alasan tidak jelas.
- Perubahan perilaku, seperti menarik diri dari kegiatan sosial, penurunan prestasi sekolah, atau suasana hati yang sangat fluktuatif.
- Kebiasaan berpakaian tertutup meski cuaca panas, perubahan pola tidur dan makan, serta keengganan menunjukkan bagian tubuh tertentu
- Perkataan tentang rasa putus asa, merasa tidak berharga, atau pembicaraan yang berkaitan dengan keinginan untuk merasa “legawa” melalui rasa sakit.
Penyebab dan Faktor Risiko Self Harm pada Remaja
Berikut ini adalah beberapa penyebab dan faktor risiko remaja melakukan self harm:
1. Tekanan emosional dan stres akademik
Tuntutan sekolah, perubahan sosial, serta kondisi keluarga, dapat menimbulkan stres yang cukup berat bagi remaja. Dalam situasi emosi yang belum stabil, beberapa remaja mungkin mencari cara cepat untuk meredakan rasa tertekan meski sebenarnya cara yang dilakukan belum tentu aman bagi diri mereka.
2. Perundungan (bullying) dan intimidasi di media sosial
Bullying di sekolah atau media sosial dapat membuat remaja merasa malu, terasing, dan tidak berharga. Kondisi ini berisiko memicu perilaku self harm sebagai bentuk pelarian dari tekanan psikologis yang terus berulang.
3. Gangguan kesehatan mental
Kondisi, seperti depresi, gangguan kecemasan, atau pengalaman traumatis berkontribusi terhadap meningkatnya risiko self harm pada remaja. Ketika perasaan sulit diungkapkan, beberapa remaja mungkin memandang tindakan tersebut sebagai cara untuk meredakan tekanan emosional yang intens.
4. Dukungan sosial yang belum optimal
Setiap remaja membutuhkan ruang aman untuk bercerita dan menerima dukungan dari orang-orang terdekatnya. Jika kebutuhan emosional ini belum terpenuhi, remaja dapat merasa sendirian menghadapi situasi sulit sehingga membutuhkan bantuan tambahan untuk mengelola emosi dengan sehat.
5. Regulasi emosi yang masih berkembang
Banyak remaja masih belajar memahami dan mengelola perasaan mereka dengan baik. Dalam keadaan emosi yang kuat, self harm dapat muncul sebagai pilihan yang mereka yakini dapat memberikan kelegaan sementara, meski sesungguhnya berisiko bagi diri mereka.
6. Paparan perilaku serupa dari teman sebaya atau media
Melihat atau mengetahui orang lain melakukan self harm dapat menimbulkan perilaku meniru. Edukasi mengenai risiko dan pengawasan konten digital diperlukan untuk mencegah remaja menganggap tindakan ini sebagai solusi.
Cara Mengatasi dan Mendukung Remaja yang Melakukan Self Harm
Berikut ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendukung remaja yang melakukan self harm agar merasa aman, didengar, dan terbantu secara emosional
- Dengarkan remaja dengan empati tanpa menghakimi atau menyalahkan.
- Bangun komunikasi yang terbuka dan jadikan diri sebagai tempat yang aman untuk bercerita.
- Ajak remaja mengenali perasaannya dan bantu mencari cara sehat untuk mengekspresikannya.
- Berikan dukungan emosional secara konsisten dan hargai setiap usaha kecil menuju pemulihan.
- Dampingi remaja untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bila diperlukan.
- Jaga keamanan lingkungan remaja dengan mengurangi akses terhadap benda yang berpotensi membahayakan.
- Libatkan keluarga, guru, atau orang tepercaya lain yang dapat memberikan dukungan positif.
- Pantau kondisi remaja secara berkala dan tetap waspada terhadap perubahan perilaku.
- Bantu remaja membangun rutinitas sehat, seperti tidur cukup, pola makan baik, dan aktivitas yang menyenangkan.
- Dorong remaja untuk terhubung dengan kegiatan sosial yang mendukung pemulihan kesehatan mentalnya.
Self harm pada remaja merupakan masalah serius yang membutuhkan kewaspadaan dan dukungan penuh dari keluarga maupun sekolah. Bila Anda menemukan perubahan perilaku mencurigakan pada anggota keluarga yang masih remaja, jangan ragu untuk segera mencari bantuan profesional.
Anda juga bisa berkonsultasi ke psikolog melalui Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER. Dengan begitu, Anda bisa memperoleh bantuan yang tepat dari tenaga ahli untuk menangani self harm pada remaja. Dukungan empatik dapat menyelamatkan nyawa dan membantu remaja pulih secara bertahap.