Sindrom koroner akut terjadi ketika aliran darah menuju jantung berkurang secara drastis atau tiba-tiba. Saat terjadi, peristiwa ini dapat menyebabkan sejumlah kondisi pada jantung dan memerlukan pertolongan medis dalam waktu yang cepat.

Pada sindrom koroner akut terjadi penyumbatan yang signifikan pada arteri koroner jantung, yaitu pembuluh darah yang memasok darah ke jantung. Kejadian ini bisa menyebabkan serangan jantung dan serangan angina tidak stabil. Kedua kondisi ini biasanya ditandai nyeri dada berat atau rasa tidak nyaman pada dada.

Sindrom Koroner Akut: Kenali Gejala, Penyebab, dan Penanganannya - Alodokter

Penyebab dan Faktor Risiko Sindrom Koroner Akut

Sindrom koroner akut biasanya disebabkan oleh aterosklerosis, yaitu terbentuknya plak atau tumpukan kolestrol pada dinding arteri koroner yang mengakibatkan penyumbatan aliran darah ke jantung.

Selain itu, sindrom koroner akut juga dapat terjadi akibat penggunaan zat tertentu, seperti kokain dan nikotin, yang bisa memicu spasme atau penyempitan arteri koroner secara tiba-tiba.

Beberapa faktor di bawah ini dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sindrom koroner akut, antara lain:

Gejala Sindrom Koroner Akut yang Perlu Diwaspadai

Gejala paling umum dari sindrom koroner akut adalah nyeri dada yang sangat mengganggu. Nyeri bisa terasa seperti tertindih benda berat atau rasa tidak nyaman yang tidak bisa dijelaskan lokasinya. Terkadang, rasa nyeri bisa menjalar hingga ke rahang dan lengan.

Seseorang memang bisa saja mengalami nyeri dada yang hilang timbul. Nyeri dada ini tidak termasuk dalam sindrom koroner akut. Nyeri dada pada sindrom koroner akut biasanya berlangsung lebih dari 15 menit dan tidak membaik dengan istirahat.

Beberapa gejala lain yang dapat muncul saat mengalami sindrom koroner akut adalah:

Penanganan Sindrom Koroner Akut

Sindrom koroner akut adalah kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan segera agar tidak menimbulkan kematian. Biasanya, setelah ditangani di IGD, pasien juga akan dirawat di unit perawatan jantung intensif (ICCU) selama beberapa hari.

Perawatan dimulai dengan pemberian oksigen dan obat antikoagulan, seperti aspirin dan clopidogrel, untuk mencegah pembekuan darah. Dokter juga akan memberikan nitrogliserin untuk melebarkan pembuluh darah jantung. Jika nyeri dada masih sangat mengganggu, dokter bisa memberikan tambahan obat penghilang nyeri.

Tindakan pembedahan, seperti kateterisasi jantung atau CABG (coronary artery bypass graft), perlu dipertimbangkan pada kasus sindrom koroner akut yang disertai kerusakan otot jantung yang luas, tekanan darah rendah, kondisi syok, kerusakan dinding jantung kanan, atau nyeri dada yang menetap setelah pemberian obat-obatan.

Sindrom koroner akut adalah kondisi darurat yang dapat mengancam nyawa. Bila diatasi secara cepat dan tepat, kondisi ini bisa membaik. Namun, tidak menutup kemungkinan kondisi ini bisa berulang. Oleh karena itu, pencegahan sangat penting untuk dilakukan, apalagi bagi yang pernah atau berisiko untuk mengalaminya.

Untuk mencegah terjadinya atau berulangnya sindrom koroner akut, diperlukan gaya hidup jantung sehat, yaitu berhenti merokok, mengonsumsi makanan yang sehat untuk jantung, membatasi konsumsi alkohol, mempertahankan berat badan ideal, mengendalikan stres, dan berolahraga secara rutin.

Bila Anda memiliki penyakit faktor risiko sindrom koroner akut, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, atau diabetes, minumlah obat-obatan yang diberikan dokter secara teratur agar penyakit tetap terkendali dan tidak sampai menimbulkan sindrom koroner akut.

Selain itu, rutinlah kontrol ke dokter sesuai jadwal yang ditentukan, agar kondisi kesehatan jantung maupun kesehatan secara menyeluruh bisa selalu terpantau.

Jika sewaktu-waktu Anda merasakan gejala nyeri dada yang tidak kunjung membaik dengan istirahat, apalagi jika disertai gejala lain yang mengarah ke sindrom koroner akut, segera periksakan diri ke IGD untuk mendapat penanganan secepatnya.