Surrogate mother merupakan salah satu cara bagi pasangan yang mengalami kesulitan memiliki keturunan secara alami. Melalui metode ini, seorang perempuan mengandung dan melahirkan bayi untuk pasangan lain dengan bantuan teknologi. Namun, sebelum menjalani prosedur ini, ada berbagai hal penting yang perlu dipersiapkan dengan matang ya.

Surrogate mother adalah istilah untuk wanita yang bersedia meminjamkan rahimnya untuk mengandung dan melahirkan anak bagi pasangan atau wanita lain yang tidak dapat memiliki anak secara alami. Prosedur “pinjam rahim” ini dilakukan atas dasar persetujuan dan biasanya melibatkan perjanjian tertulis antara para pihak.

Surrogate Mother, Ini Beberapa Hal yang Perlu Dipersiapkan - Alodokter

Namun, sebelum menjalani program ini, ada berbagai hal penting yang perlu dipersiapkan dengan matang, mulai dari aspek medis hingga pertimbangan hukum di Indonesia guna membantu Anda dan pasangan mengambil keputusan secara lebih bijak.

Alasan Pasangan Memilih Melakukan Surrogate Mother

Tidak semua pasangan dapat menjalani kehamilan secara alami atau melalui metode kehamilan biasa. Dalam beberapa kondisi medis, surrogate mother menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan.

Beberapa alasan yang sering menjadi pertimbangan antara lain:

  • Wanita yang tidak memiliki rahim atau telah melakukan operasi pengangkatan rahim
  • Wanita yang mengalami kondisi medis tertentu yang membuat kehamilan berisiko, seperti jantung, ginjal, atau kanker
  • Wanita yang pernah mengalami keguguran berulang tanpa sebab yang jelas
  • Program bayi tabung sebelumnya gagal karena masalah pada rahim

Melalui metode ini, embrio yang berasal dari sel telur dan sperma pasangan akan ditanamkan ke rahim ibu pengganti, sehingga bayi tetap dapat memiliki hubungan genetik dengan orang tua kandungnya.

Beberapa Persyaratan untuk Menjadi Surrogate Mother

Tidak semua perempuan dapat menjadi surrogate mother. Dalam dunia medis di berbagai negara, calon ibu pengganti biasanya harus memenuhi sejumlah kriteria kesehatan dan kesiapan tertentu.

Beberapa persyaratan yang umumnya dipertimbangkan meliputi:

  • Berada dalam rentang usia reproduktif yang sehat, biasanya sekitar 21–35 tahun
  • Memiliki kondisi kesehatan fisik yang baik
  • Pernah menjalani kehamilan dan persalinan yang sehat sebelumnya
  • Tidak memiliki riwayat penyakit serius atau komplikasi kehamilan berat
  • Tidak menderita penyakit infeksi yang bisa ditularkan ke janin, misalnya HIV, hepatitis B, dan sifilis
  • Tidak merokok, mengonsumsi alkohol, atau menggunakan obat terlarang
  • Bersedia menjalani pemeriksaan medis dan konseling psikologis

Selain itu, kesiapan mental juga menjadi faktor penting karena proses kehamilan hingga persalinan dapat menimbulkan perubahan emosional tersendiri. 

Misalnya, calon ibu pengganti bisa merasakan perasaan seperti bangga karena membantu orang lain memiliki anak, tetapi juga mungkin muncul rasa terikat secara emosional dengan bayi yang dikandungnya.

Di sisi lain, pasangan yang menggunakan jasa surrogate juga dapat mengalami emosi yang beragam, seperti harapan, kecemasan, atau rasa khawatir selama proses kehamilan berlangsung.

Oleh karena itu, dalam banyak program surrogate mother di berbagai negara, biasanya dianjurkan adanya konseling psikologis. Tujuannya untuk membantu semua pihak memahami kemungkinan perubahan perasaan yang bisa muncul selama proses tersebut dan mempersiapkan diri secara mental. Selain itu, proses surrogate mother melibatkan beberapa tahapan penting.

Proses Surrogate Mother Secara Umum

Proses surrogate mother dirancang agar pasangan yang mengalami kesulitan memiliki anak tetap bisa mendapatkan keturunan dengan bantuan ibu pengganti atau surrogate.

Di Indonesia, penggunaan surrogate mother masih menjadi topik yang sensitif serta belum diatur secara jelas dalam hukum. Namun, di beberapa negara lain, praktik ini sudah memiliki prosedur yang jelas dan diawasi ketat oleh pihak medis serta hukum untuk melindungi semua pihak yang terlibat.

Nah, biasanya surrogate mother melibatkan banyak tahapan yang harus dilakukan secara cermat dan transparan, yaitu:

1. Seleksi surrogate 

Langkah pertama pada proses surrogate mother adalah memilih calon ibu pengganti. Penilaian kesehatan fisik dan mental sangat penting, agar kehamilan berjalan aman untuk surrogate maupun bayi yang dikandung.

2. Prosedur medis dan fertilisasi

Setelah calon surrogate lolos seleksi, proses berikutnya adalah fertilisasi in vitro (IVF). Sel telur dari calon ibu (atau donor) dibuahi dengan sperma ayah (atau donor) di laboratorium, lalu embrio hasil pembuahan ini dimasukkan ke rahim surrogate.

3. Kehamilan dan pemantauan

Setelah embrio berhasil menempel, surrogate menjalani kehamilan seperti biasa, tetapi dengan pemantauan medis yang lebih intensif. Pemeriksaan rutin dilakukan untuk memastikan kesehatan surrogate dan perkembangan janin, serta memastikan tidak ada komplikasi.

Seluruh proses tersebut harus disertai dengan persetujuan hukum di negara yang melegalkan surrogate mother. Perjanjian legal dibuat untuk mengatur hak dan tanggung jawab surrogate, calon orang tua, serta status hukum bayi saat lahir.

4. Proses melahirkan dan serah terima bayi 

Setelah proses persalinan, bayi akan diserahkan kepada calon orang tua sesuai perjanjian yang telah disepakati. Proses administrasi, seperti pembuatan akta kelahiran, akan menyesuaikan hukum negara setempat.

Legalitas Surrogate Mother di Indonesia

Secara garis besar, hukum di Indonesia hanya mengizinkan program bayi tabung (fertilisasi in vitro/IVF) dengan syarat sperma dan sel telur berasal dari pasangan suami istri yang sah, dan kehamilan harus dijalani oleh istri sendiri.

Oleh karena itu, praktik surrogate mother di Indonesia dianggap ilegal dan dilarang keras dari sisi hukum maupun norma. Aturan ini dibuat untuk melindungi hak anak dan menghindari potensi masalah hukum, seperti status orang tua biologis, hak waris, dan berbagai masalah etika lain yang bisa muncul di kemudian hari.

Memang, surrogate mother bisa saja dilakukan oleh warga negara Indonesia di luar negeri, seperti Amerika Serikat atau negara lain yang melegalkan regulasi surrogate mother. Namun, hal ini mungkin tetap berpotensi terhadap adanya masalah hukum, etika, dan catatan sipil yang rumit di Indonesia.

Apabila Anda dan pasangan tengah mempertimbangkan untuk melakukan prosedur ini, alangkah baiknya memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Pastikan seluruh proses dilakukan secara terbuka, dengan pendampingan dokter, psikolog, dan tenaga hukum.
  • Ketahui secara rinci risiko medis, psikologis, dan sosial pada semua pihak.
  • Diskusikan dengan keluarga besar dan cari dukungan lingkungan.
  • Pelajari secara mendalam batasan hukum di Indonesia dan negara tujuan.
  • Pertimbangkan juga alternatif lain, seperti adopsi

Jika Anda mempertimbangkan surrogate mother sebagai jalan keluar, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan atau spesialis fertilitas. Konsultasi awal dapat membantu Anda memahami semua risiko, prosedur, serta regulasi yang berlaku.

Anda juga bisa menggunakan layanan Chat Bersama Dokter untuk konsultasi langsung dengan dokter agar mendapatkan penjelasan terpercaya sebelum mengambil keputusan.