Bayi tabung adalah suatu prosedur yang dilakukan untuk membantu proses kehamilan bagi pasangan yang memiliki gangguan kesuburan. Biasanya prosedur ini dilakukan jika gangguan kesuburan tidak teratasi atau tidak diketahui penyebabnya.

Pada keadaan normal, setiap siklus menstruasi, sel telur yang sudah matang akan lepas dari indung telur (proses ovulasi) untuk dibuahi oleh sperma di saluran indung telur (tuba falopii), lalu menempel pada dinding rahim. Atau bila tidak dibuahi, akan tetap berjalan ke rahim dan luruh bersama dinding rahim menjadi darah menstruasi. Bayi tabung merupakan program kehamilan berbantu yang dilakukan dengan menggabungkan sel telur dan sperma di luar tubuh. Setelah penggabungan, sel telur yang sudah dibuahi (embrio) akan diletakkan kembali pada rahim.

Bayi Tabung, Ini yang Harus Anda Ketahui - Alodokter

Indikasi Bayi Tabung

Beberapa kondisi berikut ini dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan prosedur bayi tabung, di antaranya adalah:

  • Saluran indung telur (tuba falopii) terhalang atau rusakmengakibatkan sel telur sulit dibuahi atau embrio sulit mencapai rahim.
  • Memiliki riwayat pengangkatan atau sterilisasi tuba falopii.
  • Gangguan ovulasi, mengakibatkan ketersedian sel telur yang mau dibuahi semakin sedikit.
  • Kegagalan ovarium (indung telur) prematur. Kondisi yang terjadi pada wanita berusia di bawah 40 tahun, namun produksi hormon estrogennya rendah dan tidak selalu melepas sel telur saat siklus menstruasi.
  • Endometriosis. Endometriosis adalah kondisi di mana terdapat jaringan dinding rahim (endometrium) yang tumbuh di luar rahim. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pada fungsi rahim, indung telur, dan tuba falopii.
  • Miom. Miom merupakan tumor jinak ini umumnya tumbuh di dinding rahim dan menganggu penempelan embrio pada dinding rahim. Hal ini umumnya terjadi pada wanita berusia 30-40 tahun.
  • Gangguan fungsi, bentuk, dan produksi jumlah sperma, seperti jumlah sperma yang diproduksi rendah (oligospermia), pergerakan sperma yang lemah (asthenospermia), atau kelainan bentuk dan ukuran sperma (teratospermia).
  • Penyakit genetik. Bayi tabung dilakukan untuk mencegah diturunkannya kelainan genetik dari orang tua kepada janin.
  • Alasan ketidaksuburan (infertilitas) yang tidak diketahui.
  • Akan menjalani pengobatan yang dapat memengaruhi kesuburan. Pengobatan untuk kanker seperti radioterapi atau kemoterapi, dapat memengaruhi kesuburan. Wanita dapat menyimpan sel telur yang sehat sebelum pengobatan untuk nantinya dilakukan program bayi tabung.

Peringatan Bayi Tabung

Pasangan dapat melakukan prosedur bayi tabung jika kedua belah pihak sudah siap secara fisik dan mental, dikarenakan akan melewati banyak proses medis dan terkadang tidak berhasil dalam sekali tindakan (siklus). Bayi tabung bisa dikatakan berhasil bila wanita tersebut hamil dan melahirkan bayi yang lahir normal. Rata-rata dari seluruh wanita yang melakukan program bayi tabung, 29,4% berhasil hamil dan 22,4% berhasil melahirkan bayi secara hidup dari seluruh siklus.

Perlu diingat bahwa usia merupakan salah satu faktor yang meningkatkan keberhasilan program bayi tabung. Dengan bertambahnya usia seorang wanita, kemungkinan keberhasilan program bayi tabung juga semakin menurun dan berisiko menimbulkan kelainan kromosom janin. Selain usia, berat badan wanita juga menjadi faktor yang memengaruhi keberhasilan bayi tabung. Baik berat yang yang kurang atau berlebih menurunkan keberhasilan bayi tabung. Faktor seperti penyebab infertilitas dan gaya hidup (misalnya merokok) dapat memengaruhi kualitas sel telur, sehingga memengaruhi keberhasilan program bayi tabung.

Keberhasilan juga meningkat seiring dengan banyaknya siklus yang dilakukan. Salah satu penelitian mengatakan keberhasilan seorang wanita untuk untuk mempunyai bayi setelah 3 siklus tindakan bayi tabung adalah 63,3%.

Sebelum Bayi Tabung

Terdapat serangkaian tes yang perlu dilakukan sebelum prosedur bayi tabung dilaksanakan, yaitu:

  • Ovarian reserve testing. Dokter akan memeriksa kualitas dan kuantitas sel telur dengan memeriksa kadar follicle stimulating hormone (FSH), hormon estrogen, dan anti-mullerian hormone (AMH) pada awal siklus menstruasi. USG panggul (kandungan) juga akan dilakukan sebagai pendukung.                      
  • Analisa semen. Tes ini dilakukan sebelum proses bayi tabung dilakukan.
  • Pemeriksaan penyakit infeksi menular. Dokter akan memeriksa kedua pasangan jika terdapat penyakit infeksi menular, misalnya HIV.
  • Pemeriksaan rongga rahim. Tes ini dilakukan melalui 2 cara, yaitu dengan menyuntikkan cairan khusus melalui serviks menuju rahim, dan dilanjutkan dengan pencitraan USG untuk mendapatkan gambar (sonohisterografi), atau dengan memasukkan alat endoskopi melalui vagina menuju rahim (histeroskopi).  
  • Percobaan pemindahan embrio tiruan. Hal ini dilakukan untuk melihat ketebalan rongga rahim dan mencari teknik yang paling sesuai saat pengerjaan bayi tabung nantinya.

Prosedur Bayi Tabung

Prosedur bayi tabung memiliki 5 tahap, yaitu induksi ovulasi, pengambilan telur, pengambilan sperma, pembuahan, dan transfer embrio.

Induksi Ovulasi

Untuk induksi ovulasi, terdapat beberapa hormon yang akan diberikan, seperti:

  • Suntikan follicle stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH), atau kombinasi keduanya untuk merangsang ovarium (indung telur).
  • Human chorionic gonadotropin (hCG) untuk membantu proses pematangan sel telur jika sel telur sudah siap untuk diambil, umumnya setelah 8-14 hari setelah suntikan perangsang ovarium. Bila sel telur terlalu cepat cepat lepas dari indung telur (ovulasi prematur), akan diberikan obat penekan ovulasi.
  • Pada hari pengambilan sel telur, dokter akan memberikan suplemen hormon progesterone untuk mempersiapkan dinding rahim untuk menjadi tempat penempelan embrio.

Proses induksi ovulasi umumnya memerlukan waktu 1-2 minggu sebelum telur dapat diambil. USG transvaginal dan tes darah juga akan dilakukan untuk memastikan pertumbuhan sel telur, kadar estrogen, dan progesteron. Dokter dapat menunda prosedur bayi tabung jika ditemukan masalah, seperti pertumbuhan sel telur rendah atau justru terlalu tinggi atau ovulasi prematur, dan dapat mengulangi proses ini kembali dengan mengganti dosis hormon yang diberikan.

Pengambilan Telur

Prosedur ini umumnya dilakukan 34-36 jam setelah suntikan hormon terakhir dan sebelum ovulasi. Suntikan obat penenang dan obat antinyeri akan diberikan untuk meredakan rasa sakit sebelum prosedur dilakukan.

Umumnya, sel telur akan diambil dari rahim dengan panduan USG transvaginal yang dimasukan melalui vagina untuk menemukan sel telur. Setelah itu, jarum kecil akan dimasukan untuk mengambil sel telur. Jika tidak memungkinkan, dokter akan melakukan tindakan operasi kecil (laparoskopi) dengan membuat sayatan sebesar lubang kunci di dinding perut, dan memasukan jarum kecil dengan bantuan kamera sebagai penunjuk. Jika sudah mencapai titik yang tepat, beberapa sel telur akan disedot melalui jarum tersebut selama kurang lebih 20 menit. Telur yang sudah matang akan disimpan di inkubasi yang berisi cairan khusus untuk dibuahi sperma. Namun, perlu diingat bahwa proses pembuahan tidak selalu berhasil.

Pengambilan Sperma

Prosedur pengambilan sampel sperma dan semen akan dilakukan melalui proses masturbasi. Jika tidak bisa lewat masturbasi, sperma dapat diambil langsung dari testis dengan jarum.

Pembuahan

Pembuahan dapat dilakukan melalui 2 cara, yaitu inseminasi dengan mencampur sperma dan sel telur yang sehat semalaman hingga menjadi embrio, atau melalui intracytoplasmic sperm injection (ICSI), di mana 1 sperma sehat akan disuntikkan ke dalam masing-masing sel telur. ICSI umumnya dilakukan ketika kualitas semen buruk atau proses pembuahan dengan cara inseminasi gagal dilakukan. Perlu diingat bahwa tidak semua embrio dapat bertahan setelah proses pembuahan terjadi.

Transfer Embrio

Tahap terakhir ini umumnya dilakukan dalam 3-5 hari setelah proses pengambilan telur hingga pembuahan, di mana embrio sudah mulai berkembang. Namun sebelum embrio dipindahkan ke dalam rahim, dokter dapat melakukan tes dengan mengambil sampel embrio untuk memeriksa adanya kelainan kromosom atau jika terdapat penyakit menular tertentu.

Saat embrio sudah siap dipindahkan, suntikan sedatif ringan akan diberikan ke calon ibu. Dokter kemudian akan memasukkan kateter berisi beberapa embrio yang dilindungi cairan khusus melalui vagina menuju rahim. Saat sudah mencapai rahim, embrio akan disuntikkan. Proses ini dinyatakan berhasil jika embrio tersebut tertanam di dinding rahim dalam waktu 6-10 hari setelah transfer embrio.

Sesudah Bayi Tabung

Secara umum, wanita yang baru menjalani prosedur bayi tabung akan diminta beristihat setidaknya satu hari sebelum beraktivitas kembali. Setelah itu, hindari aktivitas berat karena dapat memicu ketidaknyamanan pada rahim.

Setelah menjalani proses transfer embrio, calon ibu bisa mengalami keluarnya cairan bening atau darah dari vagina, merasakan payudaranya lebih lunak akibat tingginya kadar hormon estrogen, konstipasi, perut kembung, nyeri perut, pusing, muncul ruam pada kulit, dan perubahan suasana hati. Segera temui dokter jika kondisi atau rasa nyeri memburuk, atau jika mengalami efek lainnya, seperti perdarahan hebat dan demam.

Tes kehamilan melalui pemeriksaan darah akan dilakukan dalam 12-14 hari setelah prosedur transfer embrio. Jika dinyatakan hamil, dokter akan menyarankan untuk melakukan kontrol rutin selama masa kehamilan. Jika negatif, maka dokter akan meminta untuk menghentikan konsumsi suplemen progesteron dan haid akan muncul dalam waktu 1 minggu.

Risiko Bayi Tabung

Berikut ini adalah beberapa risiko prosedur bayi tabung, yaitu:

  • Hamil kembar. Kondisi ini dapat terjadi jika terdapat lebih dari satu embrio yang ditanamkan dalam rahim. Hamil kembar dapat memicu kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.
  • Ovarian hyperstimulation syndrome. Suntikan induksi ovulasi, seperti human chorionic gonadotropin (hCG), dapat memicu pembengkakan dan nyeri pada ovaium. Gejala yang muncul adalah nyeri perut, perut kembung, mual, muntah, dan diare selama seminggu. Jika wanita tersebut hamil, gejala yang dirasakan dapat berlangsung lebih lama. Terkadang, peningkatan berat badan secara drastis dan sesak napas dapat terjadi.
  • Kehamilan ektopik. 2-5% wanita dapat mengalami risiko kehamilan ektopik, yaitu kehamilan di luar rahim, seperti di tuba falopii. Kehamilan ini tidak dapat dilanjutkan.
  • Keguguran. Sama halnya dengan kehamilan alami, bayi tabung juga dapat memiliki risiko keguguran. Risiko ini meningkat seiring bertambahnya usia ibu.
  • Cacat lahir. Seiring bertambahnya usia, wanita yang melakukan prosedur bayi tabung berpotensi melahirkan bayi cacat. Namun hal ini masih dalam penelitian lebih lanjut.