Sperma sehat merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kesuburan pria. Oleh sebab itu, Anda perlu mengetahui apa saja kriteria sperma sehat dan bagaimana cara menjaga dan meningkatkan kualitasnya, terlebih bila Anda dan pasangan sedang menjalani program hamil.

Sperma terkandung dalam air mani pria. Air mani merupakan cairan berwarna putih atau abu-abu, dengan jumlah normal sekitar 2 mililiter, yang dikeluarkan saat pria ejakulasi. Air mani ini berfungsi sebagai kendaraan sperma menuju saluran reproduksi wanita agar bisa membuahi sel telur dan menciptakan kehamilan.

Kriteria Sperma Sehat yang Penting Diketahui - Alodokter

Kriteria Sperma Sehat

Ada tiga kriteria yang dapat menentukan kualitas sperma sehat, yaitu:

1. Jumlah sperma

Jumlah sperma merupakan hal pertama yang bisa menjadi patokan sperma sehat. Normalnya, di dalam setiap 1 ml air mani yang dikeluarkan seorang pria terdapat  sekitar 15 juta sperma. Bila jumlah sperma yang dihasilkan pria terlalu sedikit, hal ini bisa mengurangi peluang untuk membuat pasangannya hamil.

2. Pergerakan sperma

Pergerakan sperma juga menentukan kualitas sperma. Pasalnya, untuk mencapai sel telur, sperma harus mampu bergerak lincah dan berenang melalui beberapa bagian organ reproduksi wanita, yaitu dari vagina, serviks atau leher rahim, hingga ke dinding rahim dan tuba falopi.

Jadi, minimal 25% dari jumlah sperma harus memiliki gerakan yang cepat agar bisa membuahi sel telur.

3. Bentuk sperma

Sperma sehat juga bisa dinilai dari bentuknya. Minimal 30% dari jumlah total sperma harus berbentuk normal. Sperma normal memiliki ciri-ciri kepala yang berbentuk lonjong dan ekor yang panjang untuk mendukung gerakan ke depan. Jika dilihat di mikroskop, sel-sel sperma ini mirip dengan kecambah atau berudu.

Kondisi yang Dapat Mengganggu Produksi Sperma Sehat

Ada beragam kondisi pada pria dapat menyebabkan gangguan kesuburan, termasuk mengurangi jumlah sperma sehat yang diproduksi, seperti:

  • Infeksi, seperti infeksi menular seksual dan infeksi saluran kemih
  • Gangguan hormon
  • Kelainan genetik, seperti cystic fibrosis dan sindrom Kallmann
  • Penyakit autoimun, yakni kondisi ketika imunitas tubuh justru menyerang sperma yang sehat
  • Masalah ejakulasi
  • Riwayat operasi pada organ reproduksi pria, misalnya vasektomi, operasi prostat, dan operasi testis
  • Penyakit celiac
  • Penyumbatan pada testis atau saluran sperma
  • Tumor dan kanker pada testis atau prostat
  • Varikokel
  • Paparan polusi, radiasi sinar-X, atau zat kimia beracun, seperti benzene, tolunea, xilena, pestisida, serta timbal atau logam berat
  • Efek samping obat-obatan, misalnya obat antijamur, kemoterapi, dan obat hormonal.

Selain itu, gaya hidup atau kebiasaan yang kurang sehat, seperti sering merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, penyalahgunaan NAPZA, dan stres berat, juga bisa berpengaruh pada kualitas dan kuantitas sperma sehat.

Produksi sperma sehat juga dipengaruhi oleh faktos usia. Menurut suatu penelitian, pria dengan usia di bawah 35 tahun umumnya lebih subur dibanding pria di atas usia tersebut. Pasalnya, seiring bertambahnya usia, kualitas dan jumlah sperma sehat dengan kemampuan bergerak cepat, cenderung akan menurun.

Cara Meningkatkan Kualitas Sperma agar Tetap Sehat

Untuk menjaga kualitas dan jumlah sperma selalu sehat, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan, di antaranya:

  • Lakukan olahraga secara rutin.
  • Jalani perilaku seks yang aman dan sehat, yakni dengan tidak berganti pasangan seksual dan selalu menggunakan kondom saat berhubungan intim.
  • Hindari kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Jaga berat badan agar tetap ideal.
  • Kelola stres dengan baik.
  • Konsumsi makanan yang dapat menambah kualitas sperma, misalnya buah, sayuran, seafood, susu, telur, ikan, dan kacang-kacangan.

Apabila Anda masih memiliki pertanyaan terkait kriteria sperma sehat atau merasa memiliki masalah pada kesuburan Anda atau pasangan, janganlah ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Dengan begitu, dokter bisa melakukan pemeriksaan sperma dan fungsi organ reproduksi Anda.

Setelah itu, dokter bisa menentukan penanganan yang tepat untuk memperbaiki kualitas sperma dan meningkatkan peluang Anda untuk memiliki keturunan.