Asuransi kesehatan untuk lansia penting untuk dimiliki karena kelompok usia tua cenderung membutuhkan pelayanan kesehatan khusus, baik dari segi pencegahan maupun pengobatan. Seiring dengan banyaknya risiko penyakit yang diderita, orang lanjut usia (lansia) adalah kelompok yang paling membutuhkan asuransi kesehatan.

Makin bertambahnya usia, makin besar seseorang mengalami masalah kesehatan akibat proses degeneratif. Berdasarkan riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2013, lansia paling banyak menderita penyakit tidak menular seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), osteoarthritis, masalah gigi dan mulut, penyakit paru obstruktif kronis, dan diabetes mellitus.

Pentingnya Asuransi Kesehatan Bagi Lansia - Alodokter

Kenapa Lansia Butuh Asuransi?

Asuransi kesehatan diperlukan agar tabungan yang sudah dikumpulkan seumur hidup tidak habis untuk biaya berobat di masa tua. Asuransi kesehatan juga bisa dimanfaatkan untuk menjaga agar lansia sehat, mandiri, aktif, dan produktif secara sosial dan ekonomi.

Umumnya, batasan usia maksimal untuk mendaftar di asuransi kesehatan adalah pada usia 65 tahun di Indonesia. Mereka yang baru mendaftar asuransi di usia tua, umumnya lebih merasa terbebani karena premi yang dibayar berkali-kali lipat dibandingkan pengguna yang sudah berasuransi sejak muda. Selain itu, karena dianggap lebih berisiko dibandingkan anak muda, lansia perlu menjalani pemeriksaan kesehatan yang kadang-kadang membuat aplikasi mereka tidak disetujui pihak asuransi.

Oleh karenanya, ketika membeli asuransi untuk lansia, ada beberapa hal yang patut menjadi pertimbangan.

Awali dengan Memeriksa Kelengkapan Biaya

Dalam memilih asuransi kesehatan lansia, perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini:

  • Berapa premi tiap bulannya.
  • Pelayanan medis apa yang dicakup dalam asuransi tersebut.
  • Bagaimana pembayaran rumah sakit atau dokter dilakukan (langsung dibayar oleh asuransi atau ditebus).
  • Berapa banyak biaya yang dicakup.
  • Apakah asuransi tersebut diterima di banyak rumah sakit.
  • Biaya rawat jalan: biaya konsultasi ke dokter dan atau biaya pembelian obat.
  • Biaya pemeriksaan lebih lanjut: tes laboratorium.
  • Rawat inap: untuk pasien yang memerlukan observasi sehingga harus menginap di rumah sakit. Meliputi biaya kamar, perawatan, obat-obatan, kunjungan, dan tindakan dokter.
  • Operasi.
  • Terapi atau penanganan khusus seperti fisioterapi, kemoterapi, atau perawatan pascaoperasi.

 Perhatikan apakah komponen yang ditanggung mencakup hal-hal berikut:

  • Biaya kamar & menginap.
  • Biaya kamar ICU/ICCU.
  • Biaya operasi/pembedahan (termasuk biaya pembiusan dan biaya kamar bedah, dan 31 hari sebelum/sesudah bedah).
  • Biaya kunjungan dokter di rumah sakit.
  • Biaya kunjungan dokter spesialis di rumah sakit (per perawatan).
  • Biaya pemeriksaan laboratorium & tes diagnostik (7 hari sebelum rawat inap).
  • Biaya konsultasi lanjutan hingga 60 hari setelah lepas rawat.
  • Biaya ambulans.
  • Biaya rawat jalan darurat akibat kecelakaan.
  • Biaya rawat jalan darurat gigi akibat kecelakaan.
  • Biaya operasi/bedah Plastik akibat kecelakaan.
  • Transplantasi organ tubuh (jantung, hati, paru-paru, ginjal,dan sumsum tulang).

Jujur Menyatakan Kondisi yang Sudah Ada pada Sebelumnya

Tidak bersikap jujur dalam menginformasikan kondisi-kondisi yang telah dialami sebelumnya dapat membuat klaim Anda tidak dibayar. Kondisi yang dimaksud  adalah penyakit yang sudah diderita sebelum seseorang mengisi formulir pendaftaran asuransi. Penyakit tersebut bisa berupa:

  • Penyakit kronis, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, sakit jantung, asma.
  • Penyakit yang membahayakan nyawa, seperti kanker.
  • Kondisi tertentu, seperti suatu cedera atau cacat tubuh karena kecelakaan.

Yang perlu diperhatikan oleh pengidap kondisi-kondisi ini saat memilih asuransi adalah apakah semua biaya obat-obatan dalam jangka panjang serta biaya konsultasi ke dokter selama dan setelah perawatan juga akan ditanggung oleh perusahaan asuransi.

Jangan Lupa untuk Mencermati Asuransi Penyakit Kritis

Asuransi penyakit kritis umumnya membayarkan dana sebesar uang pertanggungan ketika pemegang polis asuransi terkena penyakit kritis. Penyakit kritis yang dimaksud adalah jenis penyakit yang dapat membahayakan nyawa, seperti penyakit jantung, gagal ginjal, kanker, dan stroke.

Umumnya, orang mengira bahwa dirinya akan langsung mendapat perlindungan begitu terdiagnosis penyakit kronis stadium awal, seperti kanker serviks stadium 1. Ternyata, kebanyakan asuransi penyakit kritis baru akan membayar klaim saat penyakit seseorang sudah masuk ke stadium lanjut (stadium 4 ke atas).

Pahami tentang Dana Pertanggungan

Cermati juga uang pertanggungan yang bisa menjadi tumpang tindih. Misalnya ada asuransi yang menawarkan pertanggungan asuransi kritis 50 juta, pertanggungan jika terjadi cacat tubuh 50 juta, dan santunan jika meninggal 100 juta. Jangan sampai Anda tidak membaca syarat-syarat yang ternyata membuat Anda tidak menerima manfaat maksimal. Pastikan Anda membaca dengan saksama dan dengan pemahaman yang sama dengan yang tertulis di polis.

Di Indonesia, para lansia bisa mendapatkan asuransi kesehatan dengan mendaftarkan diri di BPJS Kesehatan.

Jalan terbaik adalah berasuransi sejak muda, saat kondisi badan masih sehat dan premi asuransi belum begitu tinggi. Sehingga, di masa tua segalanya sudah siap jika sewaktu-waktu mengalami sakit atau musibah.

Selain itu, karena kebanyakan asuransi hanya menanggung nasabah hingga usia 65 tahun, maka perlu juga menabung untuk dana kesehatan darurat agar dapat digunakan setelah usia tersebut. Langkah lainnya bisa juga menggunakan asuransi yang memberikan perlindungan hingga usia 80 tahun atau bahkan seumur hidup.