Transfusi trombosit adalah prosedur medis yang dilakukan untuk menambah jumlah trombosit pada seseorang yang membutuhkannya, misalnya pada penderita demam berdarah (DBD) dan leukemia. Tindakan ini penting dilakukan untuk mencegah perdarahan berbahaya yang bisa mengancam nyawa.

Trombosit adalah keping darah yang berperan penting untuk menghentikan perdarahan saat terjadi luka. Saat tubuh mengalami luka, trombosit akan segera berkumpul di area tersebut untuk menghentikan perdarahan. Karena fungsinya yang penting, transfusi trombosit perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya penurunan trombosit.

Transfusi Trombosit, Ini yang Perlu Diketahui - Alodokter

Penurunan trombosit yang sangat drastis atau disebut trombositopenia berat dapat menyebabkan perdarahan spontan, seperti mimisan, gusi berdarah, atau bahkan perdarahan organ dalam. 

Transfusi Trombosit dan Indikasinya

Transfusi trombosit sering dibutuhkan pada penderita DBD, kanker, anemia aplastik, serta pasien yang menjalani kemoterapi. Sebelum prosedur dilakukan, dokter akan memastikan kecocokan darah antara donor dan penerima agar transfusi bisa berjalan dengan aman dan efektif.

Beberapa kondisi yang biasanya memerlukan transfusi trombosit antara lain:

1. Trombositopenia berat

Ketika jumlah trombosit turun drastis (biasanya <20.000/mikroliter), risiko perdarahan spontan meningkat, terutama pada penderita DBD, leukemia, anemia aplastik, atau pasien yang menjalani kemoterapi. Pada kondisi ini, transfusi membantu meningkatkan jumlah trombosit agar tubuh dapat menghentikan perdarahan secara alami.

Selain itu, pasien dengan trombositopenia berat sering kali menunjukkan gejala seperti munculnya bintik merah di kulit (petekie), memar tanpa sebab, atau perdarahan gusi. Bila tidak segera ditangani, perdarahan dapat terjadi di organ vital seperti otak atau saluran pencernaan, yang berpotensi mengancam nyawa.

2. Terjadi perdarahan aktif

Transfusi trombosit dibutuhkan saat pasien mengalami perdarahan aktif, seperti mimisan berat, gusi berdarah terus-menerus, atau perdarahan pada saluran cerna. Dalam kondisi ini, tubuh tidak memiliki cukup trombosit untuk membentuk bekuan darah, sehingga transfusi menjadi langkah darurat untuk menghentikan perdarahan.

Selain membantu menghentikan perdarahan yang sedang berlangsung, transfusi juga mencegah kehilangan darah yang lebih parah dan komplikasi seperti syok. Pasien akan dimonitor secara ketat untuk memastikan respons terhadap transfusi dan menilai apakah diperlukan tindakan tambahan.

3. Persiapan tindakan medis tertentu

Beberapa prosedur medis, seperti operasi besar, biopsi, atau tindakan invasif lain pada pasien dengan trombosit rendah perlu diawali dengan transfusi trombosit. Tujuannya untuk meminimalkan risiko perdarahan selama dan setelah tindakan medis dilakukan.

Dokter biasanya akan memeriksa kadar trombosit sebelum prosedur dilakukan. Jika nilainya terlalu rendah, transfusi akan dilakukan untuk menjaga keamanan pasien. Ini penting terutama pada operasi di area sensitif, seperti otak atau mata, di mana perdarahan kecil pun bisa berakibat serius.

4. Gangguan pembekuan darah

Pada kondisi kelainan darah seperti immune thrombocytopenic purpura (ITP) berat yang tidak membaik dengan obat, transfusi trombosit dapat menjadi pilihan sementara. Meski trombosit yang diberikan sering cepat rusak akibat sistem imun, tindakan ini tetap bermanfaat untuk mengatasi perdarahan akut.

Selain ITP, beberapa penyakit bawaan seperti sindrom Wiskott–Aldrich atau kelainan sumsum tulang juga bisa menyebabkan penurunan trombosit berat. Pada kasus seperti ini, transfusi trombosit menjadi bagian dari penanganan menyeluruh untuk menjaga kestabilan pasien

Transfusi Trombosit dan Prosedurnya

Waktu yang diperlukan untuk transfusi trombosit dapat berbeda-beda, tergantung pada kondisi pasien dan jumlah trombosit yang dibutuhkan.

Secara umum, proses transfusi trombosit biasanya berlangsung sekitar 30–60 menit. Tahapan yang dilakukan oleh dokter dan tim medis meliputi:

  • Memeriksa kecocokan darah antara donor dan penerima melalui uji golongan darah, rhesus, dan crossmatch untuk mencegah reaksi penolakan.
  • Menyiapkan trombosit donor dalam bentuk kantung khusus yang akan diinfuskan ke tubuh pasien.
  • Meminta pasien berbaring di tempat tidur agar posisi tubuh stabil selama transfusi.
  • Memasang infus pada lengan pasien dan menghubungkannya ke kantung berisi trombosit donor.
  • Memantau pasien selama 15–30 menit pertama untuk mendeteksi reaksi alergi atau efek samping dini, seperti gatal, ruam, atau sesak napas.
  • Memeriksa tanda vital secara berkala, termasuk suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung sepanjang proses transfusi.
  • Setelah transfusi selesai, pasien tetap dipantau beberapa jam untuk memastikan kondisi tubuh stabil dan tidak ada reaksi lanjutan.

Transfusi Trombosit dan Risiko yang Bisa Terjadi

Transfusi trombosit pada dasarnya aman dilakukan. Namun, prosedur ini tetap memiliki risiko, seperti:

  • Reaksi alergi ringan, misalnya gatal, ruam, atau demam.
  • Sesak napas atau penurunan tekanan darah.
  • Risiko infeksi, meski sangat jarang, karena semua darah donor telah diperiksa secara ketat.
  • Pembentukan antibodi terhadap trombosit donor bila transfusi dilakukan berulang kali.

Perlu diingat, tidak semua pasien dengan trombosit rendah memerlukan transfusi trombosit. Dokter akan menilai gejala, risiko perdarahan, dan hasil pemeriksaan laboratorium sebelum memutuskan tindakan. 

Setelah transfusi, pasien tetap perlu menjalani pemantauan dan pengobatan penyebab utama trombositopenia, seperti infeksi virus, kelainan sumsum tulang, atau efek kemoterapi.

Jika Anda masih memiliki pertanyaan lain seputar transfusi trombosit, Anda dapat mengonsultasikannya ke dokter melalui Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan penjelasan yang akurat secara praktis dan cepat.