Tularemia adalah infeksi bakteri langka yang menular dari hewan liar ke manusia, biasanya melalui gigitan serangga atau kontak langsung dengan hewan terinfeksi. Penyakit ini dapat menyebabkan demam tinggi dan pembengkakan kelenjar getah bening, serta berisiko menjadi serius bila tidak segera diobati.
Tularemia termasuk penyakit zoonosis yang dapat menyerang siapa saja, terutama orang yang sering beraktivitas di alam terbuka atau bekerja dengan hewan liar. Tingkat keparahannya bervariasi, tergantung pada jalur masuk bakteri dan kondisi daya tahan tubuh penderitanya.

Meski tergolong jarang, infeksi ini perlu dikenali sejak dini karena gejalanya dapat menyerupai penyakit lain dan berpotensi berkembang menjadi lebih berat tanpa pengobatan yang tepat.
Penyebab Tularemia
Tularemia disebabkan oleh infeksi bakteri Francisella tularensis. Bakteri ini dapat masuk ke tubuh melalui beberapa cara berikut:
Gigitan serangga
Penularan paling sering terjadi melalui gigitan kutu, lalat rusa (deer fly), atau nyamuk yang membawa bakteri.
Kontak langsung dengan hewan terinfeksi
Misalnya saat menyentuh, menguliti, atau memotong daging hewan liar, terutama kelinci dan hewan pengerat, yang terinfeksi.
Menghirup partikel yang terkontaminasi
Paparan dapat terjadi saat berburu, memotong rumput, membersihkan kandang, atau menghirup debu tanah yang mengandung bakteri.
Mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi
Daging hewan liar yang tidak dimasak hingga matang sempurna atau air yang tercemar dapat menjadi sumber penularan.
Risiko terkena tularemia meningkat pada petani, pemburu, dokter hewan, pekerja laboratorium, serta orang yang tinggal atau beraktivitas di daerah dengan populasi hewan liar tinggi.
Risiko terkena tularemia meningkat pada petani, pemburu, dokter hewan, pekerja laboratorium, serta orang yang tinggal atau beraktivitas di daerah dengan populasi hewan liar tinggi.
Gejala Tularemia
Gejala tularemia dapat berbeda-beda, tergantung pada jalur masuk bakteri ke dalam tubuh. Keluhan biasanya muncul dalam waktu 3–5 hari setelah terpapar, tetapi bisa juga hingga 14 hari.
Beberapa gejala yang dapat muncul, antara lain:
- Demam tinggi mendadak
- Menggigil dan lemas
- Nyeri otot dan sendi
- Sakit kepala
- Luka atau borok pada kulit di area masuknya bakteri
- Pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar area infeksi
- Sakit tenggorokan atau nyeri saat menelan
- Batuk, nyeri dada, atau sesak napas (jika menginfeksi paru-paru)
- Sakit perut, mual, muntah, atau diare (jika tertular melalui makanan/minuman)
- Mata merah, nyeri, dan bengkak (jika bakteri masuk melalui mata)
Secara medis, tularemia dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk, seperti tularemia ulseroglandular (paling sering), glandular, okuloglandular, orofaringeal, pneumonik, dan tifoidal. Tanpa pengobatan, infeksi dapat menyebar ke paru-paru, hati, atau organ lain dan menyebabkan kondisi yang lebih serius.
Kapan Harus ke Dokter
Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami demam tinggi yang disertai pembengkakan kelenjar getah bening atau luka pada kulit setelah kontak dengan hewan liar atau gigitan serangga.
Anda disarankan untuk segera pergi ke IGD rumah sakit terdekat bila muncul sesak napas, nyeri dada berat, penurunan kesadaran, atau kondisi memburuk dengan cepat.
Untuk keluhan awal yang masih ringan atau jika Anda ragu apakah gejala mengarah ke tularemia, Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu melalui fitur Chat Bersama Dokter atau melakukan janji temu dengan dokter melalui fitur booking di aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan arahan medis yang sesuai.
Diagnosis Tularemia
Untuk memastikan diagnosis tularemia, dokter akan melakukan tanya jawab terkait riwayat aktivitas, paparan hewan, serta keluhan yang dialami. Setelah itu, dokter dapat melakukan:
- Pemeriksaan fisik, termasuk evaluasi luka dan pembengkakan kelenjar getah bening
- Tes laboratorium, seperti kultur darah, cairan luka, atau jaringan untuk mendeteksi bakteri
- Pemeriksaan serologi, guna mendeteksi antibodi terhadap F. tularensis
- Pemeriksaan pencitraan, seperti rontgen dada atau CT scan, jika dicurigai terjadi infeksi paru-paru
Diagnosis yang tepat penting karena gejala tularemia dapat menyerupai penyakit lain, seperti demam tifoid, tuberkulosis, atau infeksi bakteri lainnya.
Pengobatan Tularemia
Tularemia diobati dengan antibiotik. Pengobatan yang diberikan akan disesuaikan dengan tingkat keparahan dan kondisi pasien.
Beberapa pilihan antibiotik yang umum digunakan, meliputi:
- Streptomisin atau gentamisin, biasanya diberikan melalui suntikan untuk kasus sedang hingga berat
- Doksisiklin atau siprofloksasin, dapat digunakan pada kasus ringan hingga sedang
Pengobatan umumnya diberikan selama 10–21 hari, tergantung jenis antibiotik dan respons pasien. Penanganan yang cepat dapat menurunkan risiko komplikasi dan meningkatkan peluang sembuh sepenuhnya.
Pasien tetap perlu kontrol sesuai anjuran dokter untuk memastikan infeksi telah teratasi dengan baik.
Komplikasi Tularemia
Jika tidak ditangani dengan tepat, tularemia dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:
- Pneumonia (infeksi paru-paru)
- Abses pada organ dalam
- Meningitis (radang selaput otak)
- Sepsis, yaitu infeksi berat yang menyebar ke seluruh tubuh
- Gangguan fungsi organ, seperti hati atau ginjal
Risiko komplikasi lebih tinggi pada bayi, lansia, ibu hamil, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
Pencegahan Tularemia
Karena belum tersedia vaksin tularemia untuk penggunaan umum, pencegahan berfokus pada upaya menghindari paparan bakteri. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:
- Menghindari kontak langsung dengan hewan liar yang sakit atau mati
- Menggunakan sarung tangan dan pakaian pelindung saat menangani hewan
- Menggunakan losion antinyamuk atau pelindung gigitan serangga saat beraktivitas di luar ruangan
- Memasak daging hingga matang sempurna
- Mengonsumsi air bersih yang telah dimasak atau dipastikan keamanannya
- Mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di alam terbuka
Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, risiko tertular tularemia dapat ditekan secara signifikan.