Tumor nasofaring adalah pertumbuhan jaringan abnormal di bagian belakang rongga hidung (nasofaring). Kondisi ini dapat bersifat jinak maupun ganas dan bisa menimbulkan keluhan, seperti hidung tersumbat, mimisan, atau gangguan pendengaran.

Nasofaring terletak di belakang hidung dan berperan sebagai saluran penghubung antara rongga hidung, tenggorokan, dan telinga bagian tengah. Letaknya yang tersembunyi membuat gangguan pada area ini sering tidak disadari sejak awal.

Tumor Nasofaring

Tumor nasofaring lebih banyak ditemukan pada orang dewasa dan memiliki angka kejadian yang relatif tinggi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kondisi ini diduga berkaitan dengan infeksi virus Epstein-Barr (EBV), faktor genetik, serta paparan makanan diasinkan dan zat kimia tertentu dalam jangka panjang.

Penyebab Tumor Nasofaring

Penyebab pasti tumor nasofaring masih belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi akibat perubahan atau mutasi pada sel-sel di jaringan nasofaring yang membuat sel tumbuh tidak terkendali dan membentuk tumor.

Tumor nasofaring sering dikaitkan dengan infeksi virus Epstein-Barr (EBV). Virus ini dapat menginfeksi sel nasofaring dan memicu perubahan genetik yang meningkatkan risiko pertumbuhan sel abnormal..

Selain infeksi EBV, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena tumor nasofaring, yaitu:

  • Sering mengonsumsi makanan olahan, yang diasinkan, atau diawetkan
  • Memiliki riwayat keluarga dengan tumor atau kanker nasofaring
  • Merokok atau sering terpapar asap rokok
  • Terpapar polusi udara dalam jangka panjang
  • Bekerja di lingkungan dengan paparan debu atau bahan kimia tertentu, seperti industri kayu, tekstil, atau konstruksi

Faktor-faktor di atas tidak selalu menyebabkan tumor nasofaring, tetapi dapat meningkatkan risikonya, terutama bila terjadi dalam jangka waktu lama atau ketika daya tahan tubuh Anda sedang menurun.

Gejala Tumor Nasofaring

Gejala tumor nasofaring sering kali tidak spesifik pada tahap awal dan dapat menyerupai keluhan infeksi saluran pernapasan biasa. Seiring perkembangan penyakit, keluhan yang muncul dapat meliputi:

  • Hidung tersumbat yang menetap, terutama di satu sisi
  • Mimisan berulang atau keluarnya lendir bercampur darah dari hidung
  • Gangguan pendengaran pada satu telinga, kadang disertai telinga berdengung atau rasa penuh
  • Nyeri atau tekanan pada wajah, dahi, atau sekitar mata
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher
  • Sakit tenggorokan atau kesulitan menelan
  • Sakit kepala yang menetap
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas

Kapan Harus ke Dokter

Periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami beberapa keluhan berikut ini:

  • Hidung tersumbat tidak kunjung membaik selama lebih dari 2 minggu
  • Mimisan berulang tanpa sebab yang jelas 
  • Gangguan pendengaran pada satu telinga
  • Benjolan di leher yang tidak membaik dalam lebih dari 2 minggu
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Sakit kepala atau nyeri di wajah yang menetap

Anda pun dapat berkonsultasi ke dokter melalui fitur Chat Bersama Dokter atau melakukan janji temu melalui fitur booking di aplikasi ALODOKTER.

Segera pergi ke IGD rumah sakit terdekat jika timbul keluhan yang disertai beberapa kondisi berikut ini:

  • Perdarahan hidung yang banyak dan sulit berhenti
  • Sesak napas
  • Gangguan menelan berat
  • Nyeri hebat yang semakin
  • Penurunan kesadaran

Diagnosis Tumor Nasofaring

Diagnosis tumor nasofaring memerlukan pemeriksaan menyeluruh karena lokasinya sulit dilihat secara langsung dan gejalanya tidak khas. Dokter akan memulai dengan melakukan tanya jawab terkait riwayat kesehatan pasien dan pemeriksaan fisik, kemudian dapat melanjutkan dengan beberapa pemeriksaan penunjang berikut ini:

  • Nasoendoskopi, untuk melihat kondisi nasofaring secara langsung
  • Pemeriksaan pencitraan, seperti CT scan atau MRI, guna menilai ukuran tumor dan kemungkinan penyebaran ke jaringan sekitar
  • Biopsi, yaitu pengambilan sampel jaringan nasofaring untuk memastikan jenis tumor melalui pemeriksaan laboratorium
  • Tes darah, termasuk pemeriksaan antibodi terhadap virus Epstein-Barr pada kasus tertentu
  • Pemeriksaan pendengaran, bila terdapat keluhan pada telinga

Diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan jenis tumor dan pilihan terapi yang paling sesuai.

Pengobatan Tumor Nasofaring

Pengobatan tumor nasofaring disesuaikan dengan jenis tumor (jinak atau ganas), stadium, ukuran, lokasi penyebaran, serta kondisi kesehatan penderita secara keseluruhan. Beberapa metode penanganan yang dapat dilakukan meliputi:

  • Operasi, untuk mengangkat tumor, terutama pada tumor jinak atau pada kondisi tertentu bila terapi utama tidak memberikan hasil yang optimal
  • Radioterapi, menggunakan radiasi terarah untuk menghancurkan sel kanker dan merupakan terapi utama pada kanker nasofaring
  • Kemoterapi, dengan obat-obatan khusus untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker, biasanya dikombinasikan dengan radioterapi pada stadium lanjut
  • Terapi target atau imunoterapi, pada kasus tertentu sesuai dengan karakteristik sel kanker dan indikasi medis
  • Terapi suportif, seperti obat pereda nyeri, terapi nutrisi, atau alat bantu dengar untuk membantu meredakan gejala dan meningkatkan kualitas hidup

Pemilihan terapi dilakukan secara individual dan sering kali melibatkan tim dokter dari berbagai bidang, seperti spesialis THT dan onkologi, agar penanganan tumor nasofaring dapat berjalan optimal.

Komplikasi Tumor Nasofaring

Tumor nasofaring yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius, antara lain:

  • Penyebaran kanker ke kelenjar getah bening, paru-paru, tulang, atau otak
  • Gangguan pendengaran permanen
  • Sumbatan saluran napas atas
  • Gangguan fungsi saraf, termasuk kelemahan otot wajah
  • Penurunan berat badan dan gangguan nutrisi akibat kesulitan makan

Risiko komplikasi dapat ditekan dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat.

Pencegahan Tumor Nasofaring

Belum ada cara yang dapat sepenuhnya mencegah tumor nasofaring. Namun, risiko terjadinya kondisi ini dapat dikurangi dengan beberapa langkah berikut ini:

  • Membatasi konsumsi makanan yang olahan, diasinkan, atau diawetkan
  • Tidak merokok dan menghindari paparan asap rokok
  • Menggunakan alat pelindung diri saat bekerja di lingkungan dengan paparan debu atau bahan kimia
  • Menjaga pola hidup sehat untuk mendukung daya tahan tubuh