Vaksin DPT adalah vaksin kombinasi yang diberikan untuk mencegah tiga penyakit, yakni difteri, pertusis (batuk rejan), dan tetanus.

  • Difteri - infeksi bakteri yang dapat menyebabkan hambatan jalur napas di tenggorokan dan mengakibatkan gangguan saluran pernapasan.
  • Pertusis - gangguan saluran pernapasan dengan gejala-gejala seperti batuk dan pilek, terutama pada anak-anak ketika mengambil napas dalam-dalam. Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius pada bayi usia di bawah setahun.
  • Tetanus - penyakit saraf yang menyerang segala usia akibat racun yang diproduksi bakteri. Bakteri ini masuk melalui luka terbuka yang diderita oleh pasien.

Vaksin DPT bekerja dengan cara memasukkan bakteri difteri, pertusis, dan tetanus yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh. Kondisi ini akan memicu sistem kekebalan tubuh manusia untuk memproduksi antibodi dalam memerangi infeksi dari ketiga penyakit tersebut jika sewaktu-waktu menyerang.

Merek dagang: DTP-HB-Hib, Vaksin DTP (DTP Vaccine), Vaksin DTP-HB 5, Vaksin DTP-HB 10, Vaksin Jerap TD

Pemberian Vaksin DPT

Tentang Vaksin DPT

Golongan Imunisasi
Kategori Obat resep
Manfaat Mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus
Diberikan kepada Bayi hingga orang dewasa
Kategori kehamilan dan menyusui Kategori C: studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.

Penelitian menyatakan pemberian vaksin DPT untuk wanita menyusui tidak memengaruhi proses pemberian ASI. Jika ragu mengenai apakah diperbolehkan mendapatkan vaksin DPT ketika menyusui bayi, diskusikan kepada dokter.

Bentuk Suntik

Peringatan:

  • Harap berhati-hati jika memiliki kondisi-kondisi seperti mengalami reaksi alergi serius terhadap pemberian vaksin DPT sebelumnya, penyakit otak, penyakit sistem saraf seperti epilepsi dan sindrom Guillain-Barre, serta sedang menjalani terapi kanker (kemoterapi).
  • Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk herba atau suplemen yang dapat menyebabkan interaksi obat tidak diinginkan.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Pemberian Vaksin DPT

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menganjurkan pemberian vaksin DPT kepada anak-anak sejak usia balita. Imunisasi atau vaksin DPT terdiri dari 3 jenis, yaitu vaksin campuran DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan secara bertahap mengacu pada usia anak.

Imunisasi DPT termasuk program imunisasi dasar dan lanjutan (imunisasi rutin lengkap) yang wajib diberikan kepada anak-anak. Imunisasi dasar dimulai sejak bayi belum genap satu tahun, yang diberikan sebanyak 3 kali (2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan). Selanjutnya, anak akan diberikan imunisasi lanjutan atau booster pada usia 18 bulan dan usia 5 tahun.

Selain sebagai imunisasi rutin lengkap, vaksin DPT juga bisa diberikan pada kondisi-kondisi sebagai berikut:

  • Orang dewasa atau wanita hamil yang belum pernah mendapatkan imunisasi DPT.
  • Orang yang akan berkunjung atau traveling ke negara dengan kasus DPT yang banyak terjadi.
  • Petugas kesehatan yang berpotensi tinggi untuk berhadapan dengan pasien DPT.
  • Pengasuh anak (baby sitter) yang sedang mengurus bayi baru lahir.
  • Wanita hamil saat trimester ke-3 kehamilan (minggu ke-26 hingga ke-36). Walau sudah pernah diberikan suntik DPT, pemberian vaksin DPT baru bertujuan untuk mencegah calon bayi terserang batuk rejan.

Menggunakan Vaksin DPT dengan Benar

Vaksin DPT merupakan imunisasi rutin lengkap yang wajib diberikan kepada anak-anak, sejak usianya belum genap satu tahun. Vaksin DPT hanya boleh disuntikkan oleh dokter atau tenaga medis profesional.

Bagi orang tua yang memiliki putra dan putri berusia satu tahun hingga kurang dari 18 tahun yang belum mendapatkan vaksin DPT, segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

Interaksi Obat

Konsultasikan kepada dokter sebelum menggunakan obat-obatan berikut ini bersama dengan pemberian vaksin DPT, yang dapat menyebabkan interaksi obat tidak diinginkan:

  • Kortikosteroid, seperti hydrocortisone atau prednisone.
  • Obat-obatan untuk mengencerkan darah, seperti warfarin.
  • Obat-obatan yang dapat melemahkan sistem imun, seperti ciclosporin atau tacrolimus.

Kenali Efek Samping Vaksin DPT

Risiko mendapatkan vaksin DPT lebih kecil dibandingkan risiko menderita penyakit difteri, pertusis, atau tetanus. Seperti obat-obatan lainnya, vaksin DPT juga memiliki efek samping, meski risiko efek samping yang mengarah ke kondisi bahaya atau kematian sangatlah kecil. Berikut ini efek samping yang dapat terjadi setelah pemberian vaksin DPT:

  • Demam
  • Rasa nyeri, bengkak, atau merah pada daerah tubuh yang disuntik
  • Anak menjadi rewel, muntah, lemas, atau tidak nafsu makan.