Varises vagina adalah pembesaran pembuluh darah vena di bibir vagina atau vulva. Kondisi ini menyebabkan urat di kemaluan tampak menonjol dan berwarna biru tua atau keunguan. Varises vagina lebih sering terjadi pada ibu hamil.

Varises vagina sebenarnya lebih tepat disebut varises vulva. Hal ini karena varises sebenarnya tidak muncul di saluran vagina, tetapi hanya di area vulva yang menutupi lubang vagina. Terkadang, kemunculan varises vagina bisa disertai varises di kaki atau bagian tubuh lain.

VarisesVagina - Alodokter

Varises vagina merupakan kondisi yang cukup umum dialami oleh ibu hamil. Varises vagina pada ibu hamil biasanya muncul saat kehamilan memasuki usia 3 atau 4 bulan. Namun, tidak tertutup kemungkinan wanita yang tidak sedang hamil juga bisa mengalami varises di kelaminnya.

Meski umumnya tidak berbahaya, varises vagina terkadang menimbulkan rasa tidak nyaman, sehingga perlu ditangani dengan obat atau tindakan medis tertentu.

Penyebab Varises Vagina

Pembuluh darah vena di vulva berfungsi untuk mengembalikan darah dari bagian bawah tubuh dan panggul untuk kembali ke jantung. Namun, dalam kondisi tertentu, aliran darah di vena bisa terhambat atau melambat dan akhirnya membendung. Inilah yang kemudian membuat vena melebar dan membengkak menjadi varises.

Kondisi yang sering menyebabkan varises vulva adalah kehamilan. Berikut ini adalah penyebab varises vagina saat hamil:

  • Bertambahnya beban vena pada vulva karena meningkatnya aliran darah dari jantung ke panggul saat hamil akan meningkat
  • Berubahnya kadar hormon saat hamil sehingga dinding vena menjadi lebih kendur dan tidak kuat untuk mendorong darah ke jantung
  • Terjepitnya vena pada vulva oleh rahim yang terus membesar seiring bertambahnya usia kehamilan

Sementara itu, varises vagina di luar masa kehamilan sangat jarang terjadi. Varises vagina pada wanita yang tidak hamil bisa jadi disebabkan oleh faktor keturunan, penuaan, maupun obesitas. Wanita yang menderita varises di rongga panggul atau pelvic congestion syndrome juga lebih berisiko mengalami varises vulva.

Gejala Varises Vagina

Varises vagina tidak selalu menimbulkan keluhan. Sebagian wanita bahkan tidak menyadari bahwa dirinya memiliki varises di area kelaminnya. Apabila timbul keluhan, wanita yang mengalami varises vagina bisa merasakan:

  • Tonjolan urat yang bergelombang, berpilin-pilin, atau bergerombol
  • Tonjolan urat berwarna keunguan atau biru gelap
  • Area kemaluan terasa berat
  • Tekanan atau nyeri pada area vagina
  • Bengkak di area bibir vagina yang mengalami varises
  • Gatal dan rasa tidak nyaman di panggul dan sekitar vagina
  • Nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia)
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman saat berdiri atau berjalan jauh
  • Kram otot, terutama pada malam hari
  • Sering berkemih

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami gejala varises vagina. Jangan tunda ke dokter atau IGD jika varises vagina disertai dengan gejala deep vein thrombosis (DVT) atau trombosis vena dalam, seperti:

  • Varises terasa sangat sakit
  • Tonjolan vena berwarna merah
  • Vulva bengkak dan keras saat disentuh

Selain itu, Anda juga perlu menemui dokter jika varises vagina belum juga hilang setelah 3 bulan pascapersalinan.

Diagnosis Varises Vagina

Varises vagina biasanya dapat didiagnosis dari pemeriksaan fisik. Sebelumnya, dokter juga akan mengajukan pertanyaan terkait gejala yang dialami dan riwayat kesehatan pasien.

Pemeriksaan fisik untuk memeriksa pembengkakan vena pada varises vagina dilakukan dalam posisi pasien berdiri dan berbaring. Jika diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang berupa:

  • USG Doppler untuk menentukan ukuran dan tingkat keparahan varises, serta memeriksa kondisi aliran darah pada pembuluh vena di vulva.
  • Venography, untuk melihat aliran darah di dalam vena menggunakan foto Rontgen
  • CT scan atau MRI, untuk memeriksa kemungkinan pelvic congestion syndrome
  • Laparoskopi, untuk memeriksa kemungkinan pelvic congestion syndrome jika tidak cukup dengan CT scan atau MRI

Pengobatan Varises Vagina

Pengobatan varises vagina tergantung pada kondisi pasien dan tingkat keparahannya. Varises vagina pada ibu hamil biasanya tidak memerlukan penanganan medis karena bisa mereda sendiri dalam 6–8 minggu setelah melahirkan.

Untuk meredakan gejala, penderita bisa melakukan perawatan mandiri di rumah, seperti:

  • Kompres daerah kemaluan menggunakan kompres dingin.
  • Tinggikan posisi kaki dan panggul saat berbaring untuk melancarkan sirkulasi darah ke jantung.
  • Hindari duduk atau berdiri terlalu lama.
  • Minum air yang cukup untuk melancarkan aliran darah.
  • Hindari terlalu banyak konsumsi makanan tinggi garam.
  • Gunakan stoking kompresi atau pakaian dalam khusus yang dirancang untuk penderita varises vagina.

Penanganan medis baru diperlukan jika varises vagina tidak hilang setelah 3 bulan pascamelahirkan. Dokter juga dapat memberikan pengobatan bila varises vagina tergolong parah atau terkait dengan kondisi medis tertentu.

Metode penanganan varises vagina yang dapat dilakukan antara lain:

Obat-obatan

Obat-obatan yang dapat diberikan untuk varises vagina antara lain:

  • Obat oles dari golongan kortikosteroid untuk meringankan gatal dan iritasi pada varises vagina.
  • Obat pengencer darah, jika pada pemeriksaan diketahui ada gumpalan darah pada varises di vulva

Prosedur medis khusus

Beberapa jenis prosedur yang dapat dilakukan untuk mengatasi varises vagina adalah:

  • Skleroterapi, untuk mengempiskan varises vagina
  • Flebektomi, untuk mengangkat varises yang terletak dekat dengan permukaan kulit
  • Transcatheter embolization, untuk menyumbat aliran darah ke varises

Komplikasi Varises Vagina

Varises vagina jarang menimbulkan komplikasi pada ibu hamil maupun janinnya. Bahkan, ibu hamil yang mengalami varises di vagina tetap memiliki peluang besar untuk melahirkan melalui vagina. Diskusikan dengan dokter mengenai pilihan metode persalinan yang tepat sesuai kondisi Anda.

Pencegahan Varises Vagina

Varises vagina sulit untuk dicegah. Namun, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko munculnya kondisi ini, yaitu:

  • Lakukan olahraga secara rutin.
  • Jaga berat badan tetap ideal agar tidak obesitas.
  • Rencanakan kehamilan dengan baik, termasuk dengan menjaga berat badan yang ideal sebelum hamil.
  • Konsumsilah makanan bergizi seimbang dan batasi asupan garam harian.
  • Minumlah air dalam jumlah yang cukup, setidaknya 8 gelas setiap hari.
  • Hindari mengenakan pakaian yang terlalu ketat pada bagian selangkangan maupun pinggang.
  • Jangan menggunakan sepatu hak tinggi terlalu lama.
  • Hindari berdiri atau duduk terlalu lama.