Waspada Komplikasi Bayi Sungsang Saat Melahirkan

Posisi bayi sungsang menjelang lahir dapat menambah kekhawatiran menjelang persalinan, karena letak kepala bayi yang seharusnya sudah berada di dekat jalan lahir, masih berada di atas. Berikut penjelasan lebih lanjut risiko komplikasi bayi sungsang, baik untuk persalinan normal ataupun operasi caesar.

Posisi bayi sungsang umum terjadi ketika kehamilan memasuki trimester ketiga. Umumnya ibu hamil akan merasa tidak nyaman di bawah tulang iga, sering sesak napas dan merasakan nyeri tepat di kandung kemih karena tendangan bayi.

waspada risiko komplikasi bayi sungsang saat melahirkan - alodokter

Jika ini merupakan kehamilan pertama, maka saat usia kandungan menginjak 36 minggu, Si Kecil dalam kandungan kemungkinan akan kembali ke posisi normal. Hanya sekitar 3% kondisi bayi sungsang bertahan hingga menjelang persalinan.

Meski tidak diketahui dengan pasti alasan terjadinya bayi sungsang hingga persalinan, namun ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko kondisi tersebut. Di antaranya adalah riwayat persalinan prematur, kehamilan kembar dua atau lebih, cairan ketuban terlalu sedikit atau terlalu banyak, bentuk rahim tidak normal atau mengalami pertumbuhan jaringan abnormal seperti miom, serta plasenta menutupi sebagian atau seluruh jalan rahim (plasenta previa). Selain itu, sebagian bayi dengan kelainan bawaan juga kemungkinan dalam kondisi sungsang menjelang lahir.

Salah satu pilihan cara untuk mengubah posisi bayi sungsang menjelang lahir yaitu dengan menggunakan metode external cephalic version (ECV). Umumnya dilakukan pada saat kehamilan menginjak usia 36 minggu untuk kehamilan pertama, sedangkan untuk kehamilan kedua dan seterusnya, biasanya dilakukan pada usia kehamilan 37 minggu. Untuk wanita yang mengandung bayi kembar, atau pernah mengalami perdarahan pada vagina selama hamil, tidak diperbolehkan melakukan metode ini.

Jika kondisi bayi sungsang tidak berubah hingga menjelang persalinan, ada beberapa risiko komplikasi yang perlu diperhatikan.

Persalinan normal

Bayi yang lahir dengan proses normal dalam kondisi sungsang akan didahului dengan lahirnya kaki, bokong, badan, tangan, lalu kepala.

Risiko yang dapat muncul ketika melakukan persalinan pada bayi sungsang, adalah:

  • Mulut rahim tidak terbuka dan meregang secara maksimal, sehingga kemungkinan bahu atau kepala bayi tertahan pada bagian panggul ibu. Kondisi ini dapat terjadi karena bagian kepala bayi adalah bagian yang paling akhir dilahirkan ketika bayi berada pada posisi sungsang.
  • Tali pusat jatuh ke vagina sebelum bayi lahir. Kondisi ini dapat menyebabkan tali pusat tertekan atau terjepit, sehingga terjadi penurunan aliran darah serta oksigen ke bayi. Jika seorang wanita hamil ingin melahirkan bayi sungsang secara normal, sebaiknya minta saran dokter secara rinci mengenai manfaat dan risikonya.
  • Jika bayi sungsang dilahirkan secara normal, ada peningkatan risiko untuk bayi mengalami nilai apgar yang lebih rendah saat lahir.
  • Cedera pada leher dan saraf tulang belakang leher saat lahir. Hal ini dapat terjadi ketika kepala bayi tertekuk berlebihan pada jalan lahir ketika akan dilahirkan.

Persalinan normal untuk bayi sungsang kemungkinan besar dapat dilakukan jika bagian tubuh bayi yang paling dekat dengan jalan lahir adalah bokong, bukan persalinan normal yang pertama, kondisi bayi saat menjelang persalinan terpantau stabil dan normal, terdapat tim dokter yang berpengalaman, serta tersedianya fasilitas tindakan operasi caesar jika sewaktu-waktu diperlukan.

Persalinan caesar

Para ahli umumnya akan menyarankan metode persalinan caesar untuk melahirkan bayi sungsang. Melahirkan bayi sungsang secara caesar akan memberi waktu perencanaan yang lebih panjang, sehingga memungkinkan ibu hamil lebih siap. Proses operasi caesar untuk bayi sungsang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan operasi caesar pada umumnya. Hanya saja, dokter akan mengeluarkan kaki atau bokong bayi terlebih dahulu sebelum kepala.

Meski demikan melahirkan secara caesar juga memiliki berbagai risiko, seperti:

  • Infeksi, perdarahan, maupun cedera pada organ dalam. Sebagaimana operasi besar lain, baik prosedur bedah caesar sendiri maupun anestesi yang digunakan, kemungkinan dapat menyebabkan efek samping pada sebagian orang.
  • Tindakan caesar juga dapat berpengaruh pada kehamilan selanjutnya, seperti gangguan penempelan (implantasi) plasenta pada dinding rahim, atau robekan dinding rahim. Risiko ini semakin meningkat, jika operasi caesar semakin sering dilakukan.
  • Risiko kepala bayi terjepit masih dapat terjadi meski persalinan dilakukan dengan operasi caesar. Hal ini dapat terjadi apabila ketika kepala bayi hendak dilahirkan, rahim ibu berkontraksi dan menjepit kepala bayi. Kondisi ini lebih berisiko terjadi pada bayi sungsang yang lahir prematur.

Beberapa kondisi bayi sungsang yang kemungkinan besar disarankan untuk persalinan caesar adalah bila kaki bayi berada di bagian bawah bokongnya, serta bayi kembar dengan salah satu bayi dalam posisi sungsang.

Selain itu, persalinan caesar juga akan dilakukan jika perkiraan bayi lebih dari 4 kg atau kurang dari 2 kg, ibu pernah melahirkan secara caesar dengan panggul yang sempit, posisi plasenta terlalu rendah, atau ibu mengalami kondisi berbahaya seperti preeklamsia. Menurut penelitian, beberapa wanita hamil yang mengandung bayi sungsang lebih berisiko mengalami ketuban pecah dini. Hal tersebut menyebabkan janin yang ada di dalam kandungan harus terlahir secara prematur.

Untuk persalinan bayi sungsang prematur, sebagian bukti penelitian menyimpulkan lebih aman kelahiran dilakukan dengan operasi caesar. Meski demikian, jika tidak ada komplikasi lain pada kehamilan, masih memungkinkan untuk persalinan normal. Dokter akan memberikan saran terbaik berdasarkan berbagai pertimbangan.

Kondisi bayi sungsang hingga menjelang persalinan harus memperoleh perhatian khusus. Pilihan persalinan harus dipertimbangkan dengan baik antara orangtua dan dokter, guna menghindari komplikasi bayi sungsang. Karena itu, penting untuk rutin berkonsultasi ke dokter spesialis kandungan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan, guna memantau kondisi kesehatan ibu dan bayi termasuk memantau posisi bayi di dalam kandungan, terutama menjelang persalinan.

Ditinjau oleh : dr. Kevin Adrian

Referensi