Bad Mood Oh Bad Mood, Kenapa Kau Harus Ada?

Bad mood bisa datang begitu saja tanpa ada alasan yang jelas. Saat suasana hati sedang buruk atau bad mood, tiba-tiba kita bisa merasa marah, ngambek. Semua yang kita lihat dan rasakan akan terbawa perasaan hati. Bila kamu pernah mengalaminya, berarti kamu tidak sendirian. Bad mood merupakan bagian dari kehidupan, terutama para remaja. Yang terpenting adalah bagaimana mengelola emosi saat sedang dilanda bad mood. Ingat, jangan dibiarkan berkepanjangan karena dampaknya tidak sehat untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Pepatah kuno yang bijak mengatakan, ”Manusia tidak sempurna.” Mungkin ada benarnya. Ketika kamu berusaha terlalu keras untuk menjadi sempurna dalam segala bidang, entah di bidang akademik, pekerjaan, olahraga, atau lainnya, ada kalanya bad mood datang menghinggapi hari-harimu karena tuntutan, tekanan, dan perubahan-perubahan dalam kehidupan.

Bad Mood Oh Bad Mood Kenapa Kau Harus Ada - Alodokter

Sementara itu, bagi kalangan remaja, bad mood bisa terjadi akibat masa-masa pubertas. Ketika seseorang mulai mengalami pubertas, tubuh mulai memproduksi hormon seksual, yaitu hormon testosteron pada laki-laki atau hormon progesteron dan estrogen pada perempuan. Hormon tersebut bisa menyebabkan perubahan yang signifikan pada remaja, baik perubahan fisik maupun pada sebagian remaja bisa berupa perubahan emosi.

Selain itu, masa-masa remaja juga merupakan momen perjuangan mencari identitas dan membentuk pencitraan diri. Untuk pertama kalinya, remaja merasa jauh dengan orang tua dan keluarga. Menghadapi situasi ini, seorang remaja cenderung untuk memiliki keinginan membuat keputusan sendiri secara mandiri, tetapi pada sisi bersamaan, remaja bisa merasakan kesepian. Di tambah lagi, mereka merasa bahwa eksistensi dirinya di tengah teman-teman adalah hal yang sangat penting. Semua itu bisa mengundang bad mood.

Inilah Yang Kamu Perlu Lakukan

Sebelumnya, penting untuk memahami apa yang dirasakan. Apakah kamu sedang mengalami bad mood atau sudah menjadi depresi? Perbedaannya adalah bad mood hanya berlangsung sementara, sedangkan depresi berlangsung untuk waktu yang lama dan lebih dari sekadar merasa sedih atau terpuruk.

Depresi bisa memicu kemarahan, sakit hati, serta ketidakpedulian yang berlebihan, bahkan bunuh diri. Seseorang yang mengalami depresi dapat kehilangan kesenangan dalam menjalani hobi yang dia sukai. Berat badannya juga bisa berkurang atau bertambah akibat perubahan selera makannya. Jika kamu mengalami gejala depresi, atau rasa jenuh yang berlebihan, bahkan tidak memiliki harapan hidup, ada baiknya untuk mencari bantuan kepada seorang psikolog.

Bila yang kamu rasakan adalah bad mood, maka beberapa tips berikut mungkin dapat membantu melewati masa-masa sulitmu.

  • Menangislah. Tidak perlu merasa gengsi atau malu. Bila memang perlu menangis, maka menangislah. Menangis yang baik, yaitu yang tidak berlebihan dan berkepanjangan, sebenarnya dapat membantumu merasa lebih baik.
  • Bicaralah pada seseorang yang dipercaya, entah itu sahabat, orang tua, guru, atau psikolog. Memendam perasaan sendirian bisa membuat masalahmu terasa lebih buruk dari yang sebenarnya.
  • Berpikir positif. Mengingat orang-orang yang baik kepadamu dan menyayangimu, serta kebaikan yang mereka pernah lakukan untukmu dapat membantu menghilangkan perasaan buruk. Selain itu, yakinlah bahwa kamu tidak sendirian. Kamu bukan orang pertama yang pernah merasakan bad mood.
  • Lakukan hal-hal positif, seperti mendengarkan musik dan membantu orang lain. Saat membantu orang lain, sulit bagimu untuk terpuruk dalam perasaan bad mood. Sementara itu, mendengarkan musik yang berirama riang dapat membantu meredakan bad mood yang sedang melanda.
  • Terapkan pola hidup sehat dengan mulai rutin berolahraga, cukupi waktu istirahat, dan biasakan mengonsumsi makanan sehat. Sering-seringlah keluar dari ruangan tertutup untuk menghirup udara segar dan berolahraga seperti bersepeda, berjalan kaki, main tenis, berenang atau melakukan olahraga lain yang kamu sukai. Di samping itu, cukupi kebutuhan tidur malam selama 8,5-9,5 jam karena kurang tidur dan kelelahan bisa memicu kemuraman dan mudah marah yang pada akhirnya menurunkan kemampuanmu untuk mengelola suasana hati.

Jangan lupa untuk menjauhkan semua gawai saat kamu mau tidur. Sejumlah studi menemukan bahwa cahaya biru dari gawai bisa menyita kesadaran kita dan mengganggu ritme sirkadian atau siklus biologis.

  • Mengatur pola makan. Konsumsi makanan yang bisa membantu memperbaiki mood, seperti tomat, avokad, ubi manis, pisang, quinoa, serta telur. Selain itu, bila kamu rentan mengalami bad mood saat perutmu kosong, coba makanlah tiap 3-4 jam sekali. Namun, utamakan makanan yang sehat dan seimbang, serta hindari makanan olahan dan yang mengandung lemak trans. Di samping itu, bila kamu rentan bad mood ketika menjelang menstruasi atau sindrom pramenstruasi (premenstrual syndrome/PMS), maka kamu bisa mengurangi konsumsi gula, garam, kafein mulai dari beberapa hari sebelum PMS.
  • Fokus pada satu hal. Sebuah penelitian menemukan bahwa bad mood lebih cenderung datang menghampiri orang yang pikirannya berkeliaran ke mana-mana atau tidak fokus. Oleh karena itu, kerjakanlah satu hal dengan fokus, seperti memasak, melakukan kerajinan tangan, atau lainnya.
Jangan membiarkan dirimu larut dalam bad mood yang bisa menghalangimu merasakan kebahagiaan dan mencapai kesuksesan. Jangan sampai bad mood yang kamu alami dibiarkan begitu saja. Bila sudah menjadi kebiasaan untuk mendiamkannya, maka akan sulit untuk menghilangkannya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk mengikuti tips mengatasi bad mood di atas. Bila belum berhasil dan bad mood yang dirasakan terus berkepanjangan dan mengarah ke depresi, mungkin sudah saatnya untukmu berkonsultasi kepada seorang psikolog.