Berasa Lebih Hebat Dari yang Lain? Berarti Kamu Narsis

Pernahkah Anda menjumpai orang yang terlalu percaya diri dan menganggap dirinya paling spesial hingga tidak mau menerima pendapat orang lain? Atau jangan-jangan, kita sendiri yang memiliki kepribadian itu?

Hati-hati, kepribadian semacam itu termasuk gangguan mental, dinamakan dengan gangguan kepribadian narsistik.

Berasa Lebih Hebat Dari yang Lain Berarti Kamu Narsis - Alodokter

Memang merupakan hal yang manusiawi bila kita merasa sedikit narsis, egois, dan membanggakan diri sendiri, namun pada tingkat kondisi yang ekstrem, hal itu merupakan gangguan mental yang justru dapat merusak kesehatan psikis maupun fisik. Penyebab gangguan kepribadian ini belum diketahui secara pasti. Diduga penyebabnya adalah bagaimana seseorang mengelola stres. Sebuah studi juga menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang memberikan anaknya pujian-pujian yang tidak berkesudahan dan menempatkan anak sebagai yang terhebat tanpa melihat kenyataan sebenarnya, juga menciptakan benih-benih narsistik.

Orang dengan gangguan kepribadian narsistik merasa dirinya sangat penting dalam segala hal bagi semua orang, namun memiliki empati yang sangat rendah terhadap sesama. Gangguan mental ini berbeda dengan perasaan percaya diri. Orang yang mengalami gangguan ini memiliki rasa percaya diri yang tidak sehat dengan berpikir bahwa dirinya berada di atas segalanya. Meski begitu, di balik kepercayaan diri yang terlalu tinggi itu terdapat harga diri yang begitu rapuh terhadap kritik orang lain.

Dampak Terhadap Kesehatan Psikis

Gangguan kepribadian ini bisa membuat penderitanya merasa tidak aman, malu, rapuh, dan terhina bila dikritik. Padahal, tidak semua kritik dari orang lain merupakan hal negatif. Bisa jadi, kritik dan masukan orang lain bermanfaat untuk pengembangan kepribadian yang positif. Seiring tidak bisa menerima kritik, orang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik cenderung untuk merasa depresi dan moody karena senantiasa menginginkan kesempurnaan.

Bila tidak ditangani dengan baik, gangguan ini dapat menyebabkan penderitanya kesulitan membangun hubungan sosial, bermasalah dalam pekerjaan atau sekolahnya, memiliki kecenderungan menyalahgunakan obat-obatan, konsumsi minuman keras, bahkan berkeinginan untuk bunuh diri.

Dampak Terhadap Kesehatan Fisik

Sementara itu, dampak buruk gangguan kepribadian ini terhadap kesehatan fisik adalah peningkatan risiko gangguan jantung dan pembuluh darah atau kardiovaskular. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa laki-laki yang memiliki gangguan kepribadian narsistik umumnya memiliki tingkat hormon kortisol yang tinggi di dalam darahnya, bahkan ketika sedang tidak stres.

Hormon kortisol digunakan secara luas untuk mengukur stres psikis. Kadar hormon kortisol yang tinggi ketika tidak stres menunjukkan bahwa hormon ini aktif tiap saat pada mereka yang memiliki gangguan kepribadian narsistik. Akibatnya signifikan untuk kesehatan fisik jangka panjang dan meningkatkan risiko timbulnya masalah kesehatan kardiovaskular.

Karakteristik Gangguan Kepribadian Narsistik

Bagaimana seseorang atau diri kita sendiri, dapat dikatakan memiliki gangguan kepribadian narsistik? Keterangan berikut bisa digambarkan sebagai sebagian dari kriterianya.

  • Berperilaku arogan.
  • Merasa iri pada orang lain dan yakin bahwa orang lain iri pada dirinya.
  • Merasa butuh dikagumi secara terus-menerus.
  • Berharap untuk dikenal sebagai sosok yang superior, bahkan tanpa memiliki prestasi atau pencapaian yang mendukung.
  • Melebih-lebihkan talenta dan pencapaiannya.
  • Merasa memiliki hak yang besar.
  • Mengharapkan bantuan khusus dan kepatuhan dari orang lain.
  • Sibuk dengan fantasi tentang kekuasaan, kesuksesan, kecantikan, kecerdasan, atau pasangan yang sempurna.
  • Mengambil keuntungan dari orang lain untuk mendapatkan keinginannya.
  • Tidak mampu atau tidak mau memahami kebutuhan dan perasaan orang lain.
  • Memikirkan diri sendiri secara sering dan banyak membicarakan dirinya sendiri, termasuk selalu berusaha selalu menang di tiap situasi.
  • Memiliki cita-cita yang tidak realistis.
  • Suasana hati sangat cepat berubah.

Pada tingkatan yang ekstrem, seseorang dengan sifat narsis dianjurkan untuk meminta bantuan medis, yaitu dengan psikoterapi atau terapi yang melibatkan pembicaraan bertukar pikiran dan perasaan bersama seorang terapis. Tujuannya untuk memahami penyebab emosi dan alasan mengapa ingin berkompetisi, tidak percaya kepada orang lain, dan kesukaannya memandang rendah orang lain atau diri sendiri.

Selain itu, terapi ini juga membantu pengidap narsis untuk mempelajari bagaimana seharusnya berhubungan dengan orang lain serta lebih mampu untuk memahami perasaan dan menerima kenyataan. Penting pula untuk tetap berpikiran terbuka, fokus kepada cita-cita, serta belajar melakukan relaksasi dan mengelola stres.