Di era digital seperti sekarang ini, kata narsis akan dengan mudahnya dilontarkan kepada mereka yang gemar berswafoto atau selfie, lalu mengunggahnya ke media sosial daring. Namun sebenarnya istilah narsis tidak sesederhana itu.

Dalam ilmu kedokteran, narsis mungkin termasuk salah satu tanda gangguan kepribadian atau mental ketika seseorang secara berlebihan lebih mementingkan dirinya sendiri, merasa lebih hebat dari orang lain, dan kurang berempati terhadap orang lain. Namun di balik itu, saat mendapat kritikan dari orang lain, perasaan orang-orang narsis mudah terluka karena mereka sangat sensitif. Apakah Anda termasuk orang dengan watak semacam itu? Mari kita telaah bersama-sama.

Perbedaan Perilaku Narsis dengan Kepribadian Narsisistik - Alodokter

Ciri-ciri Gangguan Kepribadian Narsis

Gangguan kepribadian narsis biasanya mulai terlihat pada saat seseorang menginjak usia remaja atau masa awal menuju usia dewasa. Berikut ini ciri-ciri seseorang dengan kepribadian narsistik dari sudut pandang ilmu medis:

  • Mengutamakan kepentingan dirinya di atas segala-galanya.
  • Merasa dirinya paling hebat, unik, spesial, dan berharap orang-orang menganggapnya demikian.
  • Sering memonopoli percakapan.
  • Mengumbar prestasi dan bakatnya secara berlebihan.
  • Selalu ingin dipuja atau diperhatikan. Jika hal ini tidak didapat, dia akan tersinggung, marah atau terluka perasaannya.
  • Mudah iri.
  • Selalu mengharapkan perlakuan istimewa.
  • Tidak mampu atau enggan memikirkan perasaan orang lain.
  • Memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
  • Memiliki anggapan bahwa banyak orang yang iri padanya.
  • Berperilaku arogan atau sombong.
  • Sering berkhayal tentang hal-hal yang diimpikannya, seperti sukses di tempat kerja, berkuasa di lingkungannya, menjadi yang paling hebat di antara teman-temannya, atau berfantasi tentang kehidupan yang sempurna namun tidak realistis.
  • Suka mengambil keuntungan dari orang lain demi mencapai impiannya.
  • Sulit menerima kritikan.

Penderita kepribadian narsistik mungkin terlihat memiliki kepercayaan diri yang normal seperti orang kebanyakan. Namun nyatanya tidak begitu. Orang dengan kepercayaan diri normal biasanya tidak sombong, sementara penderita narsistik hampir tidak pernah rendah hati. Mereka cenderung menganggap diri mereka lebih baik dan lebih penting dari orang lain. Selain itu, penderita narsistik juga rentan terlibat dalam perilaku impulsif, seperti seks berisiko dan perjudian.

Sebenarnya, dokter belum mengetahui penyebab orang memiliki sifat narsis. Namun gangguan kepribadian ini kemungkinan disebabkan oleh pola asuh orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, atau memaksa anak untuk menjadi seseorang yang penuh talenta. Bisa juga disebabkan oleh pola asuh orang tua yang suka mengkritik anaknya.

Gangguan ini juga dipercaya sebagai hasil kombinasi faktor-faktor interaksi sosial, faktor genetik, dan faktor psikologis.

Jangan Pelihara Sifat Narsis Anda

Jika Anda merasa memiliki sifat-sifat yang telah disebutkan di atas, disarankan menemui seorang psikiater atau psikolog. Terlebih jika perilaku atau gangguan kepribadian narsis tersebut sudah memengaruhi kehidupan Anda.

Sejauh ini belum ada pengobatan yang bisa mengatasi gangguan kepribadian narsis. Namun penanganan sifat narsis melalui konseling, atau lebih tepatnya psikoterapi, bisa membantu penderita gangguan kepribadian narsis untuk menjalani hidup dengan lebih baik. Melalui terapi ini, Anda akan dituntun untuk lebih memahami perasaan orang lain sehingga hubungan sosial Anda bisa lebih terjaga. Selain itu, Anda akan dipandu untuk dapat memahami perasaan diri sendiri.

Butuh waktu dan kesabaran untuk bisa mendapatkan hasil dari psikoterapi. Anda pun perlu belajar untuk menjadi lebih positif, khususnya terhadap sifat narsis Anda yang sewaktu-waktu bisa muncul. Sifat narsis Anda bisa muncul dan menghambat jalannya terapi dengan cara merasuki pikiran Anda agar berhenti mengikuti terapi. Mungkin Anda akan terpengaruh hingga berpikir psikoterapi bukanlah hal yang penting dan hanya menyita waktu Anda.

Meski begitu Anda tidak boleh menyerah. Lawan sifat narsis tersebut dengan tetap fokus pada tujuan awal menjadi pribadi yang lebih baik lagi, rutin mengunjungi tiap sesi konseling, dan melakukan kegiatan fisik yang bisa membuat tubuh dan pikiran Anda rileks, seperti yoga.

Sifat narsis jangan dipelihara. Tangani secepatnya agar Anda terhindar dari segala komplikasi yang dipicu oleh sifat narsis, seperti dikucilkan dari pergaulan, terjerumus ke penyalahgunaan alkohol atau narkoba, depresi, atau yang lebih parahnya lagi memiliki pemikiran untuk bunuh diri.