Fungsi Otak Kecil Tidak Sekecil Ukurannya

Meski disebut otak kecil, namun jangan anggap remeh. Fungsi otak kecil (cerebellum) sangat penting dalam mengontrol gerakan tubuh, keseimbangan dan koordinasi otot-otot.

Beragam aktivitas yang tampak sederhana seperti berjalan dari satu tempat ke tempat lain, berdiri tegak, atau menjaga keseimbangan sehingga tidak terjatuh, hanya dapat terlaksana berkat fungsi otak kecil. Gangguan sedikit saja pada fungsi otak kecil dapat mengganggu aktivitas tersebut.

cerebellum function_compress

Pusat Keseimbangan, Gerakan dan Koordinasi

Otak kecil hanya berukuran sekitar 1/8 otak besar (cerebrum) atau 10 persen dari berat total otak. Meski berukuran minim, fungsi otak kecil berperan penting di dalam mengkoordinir gerakan spontan. Misalnya, menggerakkan anggota-anggota tubuh, menggerakkan kedua mata serta melatih kemampuan berbicara.

Bayangkan saat jari-jari Anda menekan tuts piano secara harmonis atau memukul shuttlecock dengan raket bulu tangkis. Di saat inilah fungsi otak kecil berperan aktif di dalam mengendalikan pusat keseimbangan, gerakan, dan koordinasi otot-otot.

Aktivitas tersebut dapat terganggu, jika timbul masalah pada fungsi otak kecil. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan gangguan pada otak kecil antara lain adalah penyakit genetik, kanker, dan gangguan kemunduran (degenerasi) sel-sel otak.

Waspadai Pemicu Gangguan Otak Kecil

Gangguan otak kecil dapat menyebabkan ataksia, yaitu ketika Anda tidak mampu mengendalikan gerakan anggota tubuh. Kerusakan ini dapat muncul akibat cedera parah di kepala maupun penyakit tertentu, selain dari ataksia genetik.

Penyebab ataksia dari penyakit atau cedera yang lebih umum terjadi, antara lain :

  • Infeksi bakteri pada otak seperti ensefalitis dan meningitis.
  • Infeksi virus seperti campak atau cacar air yang menyerang otak, meski tergolong jarang.
  • Gangguan suplai darah ke otak yang disebabkan kondisi tertentu seperti stroke, baik akibat pembuluh darah otak (iskemik) tersumbat, maupun akibat pecahnya pembuluh darah otak.
  • Cerebral palsy, multiple sclerosis, kelenjar tiroid kurang aktif, tumor otak atau jenis kanker tertentu.
  • Cedera kepala berat, misalnya karena terjatuh atau kecelakaan lalu lintas.

Selain itu ada pula beberapa gaya hidup yang berisiko memicu ataksia seperti pola makan yang menyebabkan kekurangan vitamin B12, keracunan merkuri, konsumsi minuman mengandung alkohol jangka panjang dan penyalahgunaan obat.

Penanganan ataksia ialah dengan menangani gejala-gejala yang terjadi. Bentuk penanganan ini dapat dilakukan melalui fisioterapi, terapi okupasi, atau terapi bahasa dan bicara.

Tips Menjaga Fungsi Otak

Sebagai salah satu organ tubuh terbesar dan paling rumit, otak harus selalu terlindung dan terjaga kesehatannya. Sejumlah tips dapat Anda lakukan demi menajamkan fungsi otak, antara lain:

  • Melatih diri dengan aktivitas belajar sambil bermain yang bermanfaat seperti mengisi teka-teki silang, menyusun puzzle, memainkan alat musik, menggambar, melukis, dan kegiatan seni yang membuat otak bekerja.
  • Membiasakan olah raga secara teratur.
  • Menghentikan kebiasaan merokok, konsumsi minuman mengandung alkohol dan psikotropika.
  • Mengonsumsi jenis-jenis makanan sehat, terutama yang mengandung kalsium dan kalium sebagai sumber mineral yang penting bagi sistem saraf.
  • Melindungi bagian vital yaitu gunakan helm saat mengendarai sepeda atau sepeda motor.

Penting untuk menjaga fungsi otak kecil dan kesehatan otak secara keseluruhan. Kondisi otak yang sehat akan mendukung tubuh dan pikiran Anda selalu terjaga dengan baik.