Kenapa Hepatitis B Mudah Menyebar di Indonesia?

Angka penderita penyakit hepatitis B di Indonesia masih terbilang tinggi. Saat ini, Indonesia adalah salah satu negara dengan penderita hepatitis terbanyak, di antara 11 negara di Asia Tenggara.

Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Virus tersebut menyerang hati hingga menimbulkan penyakit akut dan kronis. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2017, sebanyak 7,1 persen penduduk Indonesia diduga mengidap penyakit hepatitis B.

kenapa hepatitis b mudah menyebar di indonesia - alodokter

Cara Penularan Hepatitis B

Semua orang memiliki risiko tertular hepatitis B. Penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B ini menyerang organ hati dan dapat ditularkan melalui darah, sperma, cairan vagina, dan air liur.

Ada dua cara penularan hepatitis B. Pertama, penyebaran vertikal, yaitu dari ibu pengidap virus hepatitis B kepada bayi saat persalinan. Kedua, penyebaran horizontal melalui tindakan yang memungkinkan perpindahan cairan tubuh (darah atau air mani) dari orang yang terinfeksi ke tubuh orang yang sehat.

Beberapa perilaku yang dapat memperbesar risiko penyebaran horizontal, antara lain:

  • Melakukan hubungan seksual berisiko.
  • Memakai dan berbagi jarum suntik tidak steril misalnya pada tato atau narkoba suntikan.
  • Berbagi penggunaan alat cukur atau sikat gigi dengan orang lain.

Kurangnya informasi dan pemahaman mengenai infeksi hepatitis B, serta masih kurangnya tindakan pencegahan dinilai menjadi alasan makin tingginya angka penderita hepatitis B di Indonesia. Tingginya angka penderita penyakit hati kronis dan mereka yang menjalani hemodialisa (cuci darah), serta mutasi genetik pada virus hepatitis B juga diduga berperan dalam tingginya kasus hepatitis B di Indonesia.

Sebagian besar masyarakat Indonesia juga tidak menyadari bahwa mereka telah terinfeksi hepatitis B, sehingga ketika terdiagnosis, kemungkinan kondisinya sudah berada pada tingkat lanjut.

Upaya Menekan Penyebaran

Pemerintah Indonesia, melalui Kemenkes, melakukan beberapa upaya guna menekan penyebaran hepatitis B, di antaranya gerakan imunisasi hepatitis B pada bayi mulai tahun 1997. Mulai tahun 2010, mulai gencar dilakukan sosialisasi hepatitis B pada masyarakat Indonesia secara meluas pada peringatan Hari Hepatitis Sedunia di tanggal 28 Juli.

Upaya pencegahan juga dilakukan Kemenkes melalui pendidikan dengan membuat buku pedoman pengendalian hepatitis, poster, buku saku, serta seminar mengenai hepatitis di beberapa kota di Indonesia untuk petugas kesehatan dan masyarakat. Selain itu, diadakan deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil dan petugas kesehatan sebagai langkah pemotongan rantai penularan penyakit hepatitis B.

Upaya untuk menekan risiko penularan secara horizontal dapat dilakukan seluruh anggota masyarakat, dengan langkah berikut:

  • Mendapatkan vaksinasi hepatitis B.
  • Menutup semua luka yang terbuka.
  • Jangan mengunyah makanan yang akan diberikan pada bayi.
  • Hindari berbagi permen karet.
  • Jangan berbagi alat cukur, sikat gigi, alat manikur, atau anting-anting tindik bersama orang lain.
  • Pastikan jarum dalam keadaan steril untuk pengobatan, tindik telinga, atau pembuatan tato.
  • Gunakan kondom saat melakukan hubungan intim.
  • Pakai sarung tangan ketika menyentuh atau membersihkan cairan tubuh orang lain, atau benda-benda pribadi orang lain, misalnya perban luka, pembalut, dan kain pada handuk atau sprei.
  • Bersihkan area yang terkena darah dengan cairan pembersih yang dicampur air.

Jika Anda pernah bersentuhan atau mengalami kontak dengan darah atau cairan tubuh dari orang lain, terutama dengan penderita hepatitis B, segera periksakan diri ke pusat layanan kesehatan. Untuk Anda yang terinfeksi virus hepatitis B, konsultasikan dengan dokter mengenai pengobatan dan tindakan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.