Kwashiorkor dan Marasmus, Malanutrisi yang Mengancam Nyawa

Kwashiorkor dan marasmus adalah dua bentuk malanutrisi yang sering terjadi pada anak-anak di negara berkembang. Kemiskinan dan kekurangan bahan pangan adalah dua penyebab utamanya.

Selain di negara miskin, kondisi ini juga dapat terjadi di negara-negara di mana tingkat pendidikan rendah, yang sedang mengalami situasi politik tidak stabil, serta yang sedang mengalami bencana alam dan kekurangan bahan makanan. Kwashiorkor dan marasmus dapat terjadi pada usia berapa pun, tapi paling umum terjadi pada anak-anak. Apa perbedaan umum antara keduanya?

Kwashiorkor dan marasmus-alodokter

Kwashiorkor: Kekurangan Protein

Secara spesifik kwashiorkor diartikan sebagai kondisi kekurangan atau bahkan ketiadaan asupan protein. Padahal protein dibutuhkan tubuh untuk memperbaiki dan membuat sel-sel baru.   Kondisi ini ditandai dengan pembengkakan di bagian bawah kulit (edema) akibat terlalu banyaknya cairan dalam jaringan tubuh. Gejala yang dapat terjadi pada seluruh bagian tubuh ini umumnya dimulai pada kaki.

Gejala ini biasanya diiringi sejumlah kondisi berikut:

  • Rambut yang kering, jarang, dan rapuh, bahkan dapat berubah warna menjadi putih atau kuning kemerahan.
  • Bercak merah pada kulit yang berubah gelap atau mengelupas.
  • Mudah marah.
  • Kelelahan dan mengantuk.
  • Tubuh tidak berkembang.
  • Perut membesar.
  • Infeksi yang terjadi terus menerus akibat rusaknya kekebalan tubuh.
  • Kuku pecah.
  • Berubahnya pigmen kulit.
  • Penurunan massa otot.
  • Diare.
  • Berat dan tinggi badan tidak bertambah.
  • Ruam atau dermatitis.
Pada kasus yang lebih parah, pengidap kwashiorkor dapat mengalami syok.

Marasmus: Kekurangan Asupan Energi dan Protein

Jika kwashiorkor adalah malanutrisi karena kekurangan protein namun dengan asupan energi yang cukup, maka marasmus adalah kekurangan asupan energi dalam semua bentuk, termasuk protein.  Jika kemungkinan terjadinya kwashiorkor adalah setelah anak berusia 18 bulan, maka marasmus biasanya terjadi setelah usia 12 bulan.

Ciri-ciri fisik pengidap marasmus:

  • Tubuh yang menyusut di bawah 60 persen dari rata-rata normal anak seusianya
  • Bokong dan kelompok otot pada tungkai bagian atas biasanya lebih terpengaruh daripada yang lain. Penampakan pantat seperti baggy pants (seperti memakai celana longgar)
  • Suhu tubuh yang tidak normal seperti hipotermia (di bawah normal).
  • Dehidrasi yang dicirikan dengan kehausan terus menerus dan mata cekung.
  • Terdapat darah pada tinja.
  • Hati dapat membesar atau mengecil.
Selain itu marasmus sering diasosiasikan dengan infeksi akut seperti gangguan pernapasan, gastroenteritis, tuberkulosis, dan infeksi HIV.

Selain kwashiorkor dan marasmus, terdapat jenis ketiga keadaan malanutrisi energi protein berat, yaitu campuran marasmus-kwashiorkor. Keadaan ini mempunyai gejala campuran marasmus dan kwashiorkor.

Keadaan malanutrisi energi protein berat selain meningkatkan risiko terjadinya berbagai macam penyakit, juga dapat mengancam nyawa. Meski telah diterapi, namun anak-anak yang pernah mengalami kwashiorkor dan marasmus berat mungkin tidak akan pernah dapat mencapai taraf kesehatan yang sesungguhnya mereka butuhkan. Sebagian anak akan tetap mengalami gangguan fisik dan mental akibat kwashiorkor seumur hidupnya.