Menimbang Manfaat dan Risiko Sunat Bayi Laki-laki

Sunat pada bayi laki-laki yang baru lahir memungkinkan untuk dilakukan, tetapi membutuhkan prosedur yang lebih kompleks. Yuk, simak penjelasan berikut ini sebelum Bunda mengambil keputusan untuk menyunat Si Jagoan Kecil.

Sunat yaitu operasi pembuangan kulup atau kulit yang menutupi ujung penis. Sunat merupakan praktik yang umum dilakukan karena faktor agama maupun tradisi. Sementara dari segi medis, sunat dianggap memiliki manfaat, namun juga memiliki risiko terutama jika dilakukan pada bayi.

Manfaat Sunat untuk Kesehatan

Menurut sebuah organisasi dokter anak, walaupun sunat pada bayi laki-laki memiliki risiko, namun manfaatnya secara medis jauh lebih banyak. Oleh karena itu, sunat bisa dipertimbangkan untuk dilaksanakan, tetapi bukan suatu kewajiban secara medis. Manfaat tersebut antara lain:

  • Mencegah masalah penis
    Terkadang, kulup pada penis yang tidak disunat bisa menjadi sulit atau tidak memungkinkan untuk ditarik ke atas (phimosis). Kondisi ini bisa memicu peradangan pada kulup.
  • Lebih mudah dibersihkan
    Sunat membuat penis lebih mudah dibersihkan. Meski penis yang tidak disunat pun sebenarnya tidak sulit untuk dibersihkan.
  • Menurunkan risiko penyakit
    Termasuk risiko terkena infeksi saluran kemih (ISK), infeksi menular seksual dan kanker penis. ISK pada laki-laki lebih umum terjadi pada mereka yang tidak disunat. Jika infeksi parah pada bayi tidak ditangani dengan tepat, dapat memicu masalah ginjal nantinya.

Infeksi menular seksual dapat diturunkan risikonya dengan prosedur sunat, termasuk HIV. Namun, bukan berarti bisa bebas melakukan hubungan seks sembarangan. Perilaku seks yang aman dan sehat tetap diperlukan.

Secara umum, kanker penis jarang terjadi, namun kemungkinan terjadinya menjadi lebih besar pada penis yang tidak disunat. Selain itu, nantinya perempuan yang menjadi pasangan seksual dari laki-laki yang disunat lebih berkemungkinan untuk terhindar dari kanker serviks.

Risiko Sunat yang Menyertai

Risiko sunat tergolong rendah. Tingkat komplikasi sunat sekitar 0,1-35%, dengan sebagian besar komplikasi melibatkan infeksi, perdarahan, dan gagalnya membuang kulit kulup yang cukup. Perdarahan dan infeksi ini bisa timbul dari iritasi akibat gesekan popok dan amonia dalam urine.

Komplikasi sunat yang lebih serius seperti:

  • Cedera pada penis. Misalnya fistula uretral, nekrosis penis, dan amputasi sebagian.Peradangan pada bukaan penis (meatitis) dan gangguan yang berkaitan dengan kemih, misalnya meatal stenosis.
  • Rasa nyeri saat ereksi ketika sudah dewasa. Hal ini disebabkan terlalu banyak kulit yang dipotong, namun jarang terjadi
  • Kemungkinan risiko yang berkaitan dengan masalah kulup. Misalnya kulup gagal sembuh dengan baik, dipotong terlalu pendek atau terlalu panjang, maupun kulup yang masih menempel di ujung penis hingga butuh bedah perbaikan.

Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Sunat

Setelah mengetahui manfaat dan risikonya, bila kemudian Bunda memilih untuk menyunat bayi laki-laki, penting untuk memerhatikan beberapa hal.

Pastikan sunat dilakukan oleh seorang profesional yang berpengalaman. Di beberapa daerah, khususnya di kota-kota besar, sunat bisa dilakukan di rumah sakit oleh dokter bedah maupun dokter anak. Sementara itu, ada pula beberapa kelompok religius yang dapat menyelenggarakan sunat, baik oleh tenaga medis maupun tenaga non-medis yang terlatih.

Sunat pada bayi dianjurkan untuk dilakukan pada minggu-minggu pertama setelah lahir, biasanya antara hari pertama hingga kesepuluh. Bayi akan ditidurkan telentang dengan tangan dan kaki ditahan agar tidak bergerak. Setelah daerah penis dan sekitar dibersihkan, maka anastesi lokal akan diberikan di area tersebut. Kemudian, sebuah klem atau cincin khusus akan dipasang di ujung penis dan kulup dipotong. Daerah yang telah dipotong akan ditutup dengan salep dan dibalut secara longgar menggunakan perban. Biasanya prosedur ini akan memakan waktu selama 10 menit.

Untuk mengurangi rasa nyeri setelah disunat, tanyakan pada pihak rumah sakit kemungkinan pemberian bius lokal. Rumah sakit biasanya juga memberikan paracetamol untuk 24 jam setelah prosedur sunat, sebagai pereda nyeri. Pada umumnya, dibutuhkan 10 hari hingga luka sunat sembuh.

Ingatlah Bunda bahwa tidak ada yang salah atau benar dengan keputusan menyunat bayi laki-laki. Namun, pertimbangkan baik-baik mengenai manfaat dan risiko sunat. Jika perlu, konsultasikan dengan dokter untuk saran terbaik.