Musim Pancaroba Membawa Risiko Infeksi Virus

Indonesia sebagai negara tropis dengan musim penghujan dan musim kemarau, memiliki perbedaan risiko jenis penyakit dibanding negara dengan empat musim. Ada beberapa jenis infeksi virus yang meningkat terutama pada musim pancaroba, atau masa transisi dari satu musim ke musim lainnya.

Anak usia balita (bawah lima tahun) merupakan salah satu kalangan yang rentan mengalami infeksi virus selama musim pancaroba, meski tidak menutup kemungkinan bisa menjangkiti orang dewasa.

Musim Pancaroba membawa risiko infeksi virus - alodokter

Berikut beberapa risiko infeksi virus yang lebih tinggi pada musim pancaroba :

  • Demam Berdarah Dengue (DBD)

Pada musim pancaroba, terutama awal memasuki musim penghujan, kasus DBD di berbagai daerah akan tampak naik, menurut laporan organisasi dokter anak Indonesia. Kasus DBD dapat ditemukan di seluruh propinsi di Indonesia. Hal ini kemungkinan disebabkan virus dengue dapat bertahan di iklim tropis dan semakin berkembang saat musim hujan.

DBD ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi dengan virus dengue. Gejala DBD antara lain demam tinggi yang mendadak, sakit kepala parah, nyeri di bagian belakang mata, nyeri otot dan sendi, lemas, mual, muntah, mudah memar, dan diiringi munculnya bintik-bintik di kulit, serta perdarahan ringan di sekitar gusi dan hidung. Yang perlu diwaspadai adalah komplikasi dari DBD yaitu perdarahan berat, syok, hingga risiko kematian.

Penting untuk mencegah perkembangan populasi nyamuk, singkirkan barang-barang yang bisa menjadi sarang nyamuk seperti kaleng, pot atau ban bekas yang menampung air hujan. Jangan lupa, bersihkan bak mandi atau tempat minum binatang peliharaan secara teratur serta tutup rapat.

  • Chikungunya

Gejala penyakit chikungunya sekilas hampir serupa dengan demam berdarah. Demam pada penyakit yang disebabkan virus dari gigitan nyamuk itu hanya berlangsung 2-7 hari. Hanya saja, demam biasanya diikuti dengan nyeri sendi selama satu minggu hingga satu bulan bahkan tahunan.

Komplikasi yang lebih parah biasanya dialami oleh orang lanjut usia yang memiliki riwayat penyakit lainnya. Tidak ada penanganan khusus, hanya obat-obatan yang dapat membantu meringankan demam dan nyeri otot, serta asupan cairan dan istirahat yang cukup.

Sama halnya dengan mencegah DBD, perlu adanya tindakan mengendalikan perkembangan populasi nyamuk. Jika perlu, lakukan upaya menghindari gigitan nyamuk ketika berada di wilayah yang terjadi banyak kasus chikungunya.

  • Zika

Demam atau penyakit Zika disebabkan oleh virus Zika, di mana sebagian besar gejala hanya menunjukkan gejala ringan terjadi sekitar 7 hari dan hampir menyerupai DBD.  Antara lain berupa demam, mata merah, nyeri otot, sakit kepala dan ruam merah.

Penularan virus Zika terutama melalui gigitan nyamuk, namun juga bisa ditularkan melalui hubungan seksual dan transfusi darah. Kini diketahui, virus Zika juga dapat ditularkan ibu hamil pada janin yang dikaitkan dengan mikrosefali (kepala bayi lebih kecil daripada normal). Untuk orang dewasa, infeksi virus Zika dihubungkan dengan  sindrom Guillain–Barré.

  • Infeksi Saluran Pernapasan

Berdasarkan sebuah studi, infeksi saluran pernapasan bawah yang disebabkan oleh virus syncytial pernapasan paling banyak terjadi di musim hujan. Penyakit ini paling banyak terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Hal ini disebabkan karena sistem imunitas anak-anak belum terbentuk sempurna.

Sebagaimana infeksi saluran pernapasan atas, gejala infeksi saluran pernapasan bawah adalah batuk. Hanya saja, batuk yang terjadi lebih berat, dan kadang diiringi dengan dahak dan lendir. Gejala lain yang mungkin dialami seperti sesak napas, meningkatnya frekuensi pernapasan, rasa sesak di dada, ataupun bunyi mengi saat bernapas. Infeksi saluran pernapasan bawah bisa berupa flu, bronkhitis, pneumonia, bronchiolitis, dan tuberculosis.

Infeksi saluran pernapasan ini ditularkan melalui udara yang mengandung virus saat seseorang yang terinfeksi batuk atau bersin. Bisa juga melalui kontak tidak langsung pada lokasi yang disentuh tangan yang mengandung virus dari seseorang yang terinfeksi. Salah satu cara yang efektif mencegahnya yaitu menjaga kebersihan dan rajin mencuci tangan.

  • Influenza

Berdasarkan sebuah studi mengenai virus Influenza atau flu yang menjangkiti anak-anak, diketahui kasus terbanyak terjadi saat musim hujan, termasuk di Indonesia. Virus ini akan menyerang hidung, tenggorokan dan paru-paru.

Flu bisa sembuh dengan sendirinya, meski untuk anak balita terutama di bawah 2 tahun dan lansia di atas 65 tahun bisa menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Kini flu dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi, yang dapat diulang setiap tahunnya.

Terapkan hidup bersih dan menjaga lingkungan tetap bersih, terutama pada musim pancaroba. Kebiasaan ini akan menurunkan risiko berbagai penyakit termasuk risiko infeksi virus.