Waspadai Risiko Fatal di Balik Cedera Kepala

Siapa saja, termasuk anak-anak yang sedang aktif bergerak berisiko mengalami cedera kepala yang dapat berakibat fatal. Risiko ini makin tinggi ketika banyak orang tidak mengenakan helm saat mengendarai motor.

Cedera kepala dapat terjadi karena banyak hal, seperti perkelahian, kecelakaan kendaraan bermotor, cedera saat berolahraga, jatuh, atau sekadar terbentur. Gegar otak adalah jenis cedera kepala yang paling umum terjadi. Kata dalam bahasa Inggrisnya, concussion, berasal dari kata dalam bahasa Latin yang berarti ’diguncang dengan kencang’.

Waspadai Risiko Fatal di Balik Cedera Kepala, Alodokter

Gegar otak adalah cedera kepala yang berdampak kepada fungsi otak. Selain karena benturan dan guncangan pada kepala, gegar otak umumnya terjadi karena guncangan keras pada tubuh bagian atas. Otak terlindungi dari guncangan oleh cairan otak dalam tengkorak. Oleh karenanya guncangan dan benturan keras pada kepala atau tubuh bagian atas dapat membuat otak ikut terguncang membentur dinding kepala bagian dalam. Kondisi ini dapat bersifat ringan, tapi juga bisa berisiko fatal jika sampai mengakibatkan pendarahan di dalam atau di sekitar otak.

Menurut tingkat keparahan dan ada tidaknya pingsan, gegar otak dapat digolongkan ke dalam beberapa jenis:

Tingkat 1: Gegar otak ringan.

Tidak mengalami pingsan, serta gejala-gejala yang dirasakan hanya berlangsung kurang dari 15 menit.

Tingkat 2: Gegar otak sedang.

Tidak mengalami pingsan namun gejala yang dirasakan lebih dari 15 menit.

Tingkat 3: Gegar otak berat.

Mengalami pingsan.

Gegar otak dapat menyebabkan kehilangan kesadaran. Namun pada kebanyakan kasus, orang tidak mengalami kehilangan kesadaran sehingga banyak yang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gegar otak. Satu hal yang pasti, tiap gegar otak dapat menyebabkan gangguan pada otak dalam skala tertentu.

Bagaimana Ciri-ciri Orang yang Terkena Gegar Otak?

Gejala gegar otak bisa jadi tidak akan segera terasa, namun dapat berlangsung mulai dari hitungan hari hingga lebih dari beberapa minggu. Berikut ini beberapa gejala yang umumnya dirasakan:
  • Pingsan/tidak sadarkan diri selama beberapa waktu.
  • Terasa seperti berada di tengah kabut.
  • Telinga berdenging
  • Mual dan muntah. Mata berkunang-kunang dan pusing.
  • Sakit kepala.
  • Cara bicara yang menjadi kurang jelas..
  • Kelelahan.
  • Gangguan pada keseimbangan tubuh.
  • Linglung, tidak dapat segera menjawab ketika ditanya.
Sementara itu, beberapa gejala berikut mungkin dapat segera dirasakan, meski ada kemungkinan baru terasa beberapa jam setelah cedera kepala, antara lain sensitif terhadap cahaya dan bunyi bising, gangguan tidur, gangguan psikologis dan perubahan kepribadian, gangguan ingatan dan konsentrasi, depresi, serta tidak mampu mengecap.

Umumnya orang yang mengalami gegar otak dapat pulih sepenuhnya dengan cepat. Namun ada kalanya yang mengalami gejala yang tidak hilang hingga berminggu-minggu lamanya, terutama jika dia pernah mengalami cedera yang serupa.

Gegar Otak pada Anak Butuh Penanganan Khusus

Pada masa kanak-kanak, kepala manusia cenderung relatif lebih besar dibandingkan tubuhnya secara keseluruhan. Selain itu, anak-anak lebih sering bergerak aktif ke mana-mana dibandingkan orang dewasa. Paduan kedua situasi ini menyebabkan anak-anak cenderung lebih sering terjatuh atau terbentur hingga mengalami gegar otak.

Anak yang mengalami cedera di kepala sebaiknya mendapat pengawasan orang dewasa selama 24 jam pertama setelah kecelakaan. Hal ini diperlukan karena anak-anak, terutama balita, belum tentu dapat mengomunikasikan yang mereka rasakan, sehingga perubahan perilaku apa pun perlu dipantau lebih jauh.

Namun tanda-tanda gegar otak pada seorang anak dapat dikenali dari hal-hal berikut ini:

  • Menangis secara berlebihan.
  • Tidak ingin bermain bersama mainan favoritnya.
  • Rewel dan menjadi mudah marah.
  • Lelah dan lesu.
  • Perubahan pola makan dan pola tidur.
Pemberian obat-obatan apa pun harus dikonsultasikan kepada dokter terlebih dahulu untuk menghindari risiko pendarahan dalam otak. Lebih lanjut, anak Anda bisa jadi berada dalam kondisi darurat dan harus segera dibawa ke rumah sakit jika mengalami muntah berulang kali, gangguan koordinasi fisik, cara bicara terganggu, perubahan perilaku seperti mudah marah, sakit kepala yang memburuk dari waktu ke waktu, tidak sadarkan diri/pingsan lebih dari 30 detik. Gejala lainnya adalah gangguan penglihatan dan kejang.

Setelah Terjadi Cedera Kepala

Pada keadaan pascacedera, kadar zat kimia dalam otak juga berubah dan memerlukan waktu beberapa lama untuk dapat kembali normal. Beristirahat adalah cara terbaik untuk memulihkan fisik dan mental akibat cedera kepala. Bentuk istirahat yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
  • Membatasi aktivitas, yang meski terasa menyenangkan tapi memerlukan konsentrasi lebih banyak, seperti membaca, menonton TV, atau bermain video games.
  • Hindari kegiatan yang banyak bergerak, seperti olahraga, karena berisiko memperparah kondisi cedera.
  • Hindari mengonsumsi obat selain yang diresepkan dokter.
  • Di masa pemulihan, hindari melakukan dua kegiatan di waktu yang bersamaan, seperti makan sambil menonton TV.
  • Sebaiknya tunda bepergian dengan pesawat terbang karena berisiko membuat pemulihan tertunda.
Hal-hal di atas juga dapat diterapkan untuk memulihkan anak yang mengalami cedera kepala. Anda barangkali masih dapat beraktivitas seperti biasa, seperti bersekolah atau bekerja, tapi akan disarankan untuk mengurangi waktu kerja atau lebih sering mengambil jeda di sela kegiatan. Jika mengalami sakit kepala, dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan pereda nyeri, seperti asetaminofen. Namun sebisa mungkin hindari jenis pereda nyeri yang berisiko menyebabkan pendarahan, seperti aspirin dan ibuprofen.

Sementara itu, orang-orang dengan gejala-gejala berikut ini harus segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), yaitu pingsan dan sulit sadarkan diri, terlihat sangat mengantuk, salah satu pupil bola mata tampak lebih besar dibandingkan yang lain, kejang, kebingungan.

Dalam pemeriksaan, dokter akan memeriksa riwayat medis pasien dan melakukan pemeriksaan neurologis yang meliputi pengecekan refleks, keseimbangan, pendengaran, penglihatan, koordinasi, konsentrasi, ingatan, dan kekuatan serta saraf sensori. CT Scan dan MRI mungkin diperlukan untuk mendapatkan gambar bagian dalam tempurung kepala untuk mendeteksi kemungkinan pendarahan atau kemungkinan komplikasi.

Pada kondisi tertentu, cedera kepala berisiko mendatangkan komplikasi, seperti epilepsi, sakit kepala yang dirasakan berbulan-bulan pascacedera, vertigo, serta pembengkakan otak yang fatal.

Untuk menghindari risiko, sangat penting untuk mencegah terjadinya cedera kepala dengan beberapa cara berikut ini.

  • Kenakan helm tiap kali mengendarai motor, bersepeda, mengenakan sepatu roda, dan aktivitas sejenis lainnya. Mengenakan helm saat berkendara dapat mengurangi risiko cedera kepala hingga 85 persen. Pastikan helm mengikuti standar keamanan dan terpasang dengan benar.
  • Kenakan perlengkapan pengaman saat berolahraga dan berekreasi yang berisiko, seperti arung jeram dan flying fox.
  • Kenakan sabuk pengaman saat melakukan perjalanan.
  • Ciptakan rumah yang aman untuk anak dan rumah yang aman untuk lansia untuk mengurangi risiko terjatuh hingga mengalami cedera kepala.
  • Olahraga teratur dapat membantu memperkuat otot tubuh dan keseimbangan tubuh sehingga mengurangi risiko jatuh dan cedera kepala.
  • Selalu baca dan patuhi petunjuk standar keselamatan di mana saja, baik dalam perjalanan, di tempat rekreasi, maupun di tempat umum lain untuk mengurangi risiko cedera.
Sudah selayaknya kepala, sebagai organ vital tempat berbagai fungsi utama tubuh, mendapat perlindungan dan perhatian lebih cermat agar terhindar dari risiko berbahaya. Dengan senantiasa berperilaku hati-hati dan mengutamakan keselamatan, dapat mengurangi risiko tersebut.