Mendisiplinkan anak memang penting, tapi tetap perlu ada aturan dan batasannya. Jika sikap orang tua terlalu keras pada anak dalam penerapan disiplin, hal ini bisa memberikan pengaruh negatif terhadap kepribadiannya di kemudian hari.

Beberapa dampak yang terjadi ketika orang tua terlalu keras pada anak adalah anak cenderung bisa menjadi pribadi yang terlalu khawatir, tidak percaya diri, berperilaku agresif atau terlalu malu dekat orang lain, susah bersosialisasi, dan sulit mengendalikan diri.

4 Tanda Orang Tua Terlalu Keras pada Anak - Alodokter

Tak hanya itu, jika Bunda menerapkan disiplin yang terlalu ketat, risikonya justru dapat menyudutkan anak untuk terpaksa berbohong demi menghindari hukuman.

Tanda Bahwa Orang Tua Mendidik Anak Terlalu Keras

Pola asuh orang tua dalam mendidik anak sangat bervariasi. Berikut adalah tanda orang tua mendidik anak terlalu keras yang perlu Bunda ketahui:

1. Hanya memuji hasil terbaik anak

Memuji anak memang penting, tapi jika Bunda hanya suka memuji hasil terbaik yang dicapai anak, Si Kecil dapat menganggap bahwa Bunda hanya menyayanginya ketika ia berhasil. Mulai sekarang, cobalah untuk tetap memuji anak meskipun ia gagal atau tidak mencapai hasil yang diharapkan, selama ia sudah berusaha dengan baik.

2. Hanya memberi perintah

Orang tua yang terlalu keras pada anak cenderung memberikan perintah yang harus ditaati saat itu juga. Jika Bunda menyadari sikap ini, cobalah untuk memberi kebebasan pada Si Kecil selama ia bertanggung jawab.

Bunda dapat mengubah kalimat perintah menjadi kalimat tanya dengan nada sopan, misalnya, “Mau membereskan kamar dulu atau meletakkan pakaian kotor di ember?”

3. Tidak memberi toleransi

Orang tua yang terlalu keras pada anak cenderung tidak melihat penyebab atau alasan saat anak tidak melakukan hal yang diinginkan. Misalnya, Bunda ingin Si Kecil menjaga kebersihan pakaiannya, namun tiba-tiba Bunda melihat baju yang dikenakannya kotor.

Jangan langsung marah, Bun, tanyakan dulu alasannya dan biarkan Si Kecil menjelaskan. Siapa tahu bajunya kotor karena ia terjatuh.

4. Sering mengomel dan menghukum

Mengomel atau menghukum anak sebenarnya boleh-boleh saja asal dalam batas wajar. Sebaliknya, terlalu sering mengomel justru dapat membuat anak takut untuk melakukan sesuatu. Dampaknya di kemudian hari adalah anak jadi sulit untuk mandiri dan kurang kreatif.

Ubah Pola Asuh dari Otoriter Menjadi Otoritatif

Bunda dan Ayah perlu lebih hati-hati lagi dalam mendidik Si Kecil. Pola asuh yang terlalu keras atau otoriter seperti contoh-contoh di atas dapat berdampak buruk terhadap kepribadian anak.

Daripada bertahan dengan pola asuh otoriter yang cenderung membuat anak stres, lebih baik ubah menjadi pola asuh otoritatif atau demokratis.

Menurut penelitian, anak dari orang tua bertipe otoriter cenderung lebih mudah depresi dan rendah diri, sedangkan aanak yang dibesarkan dalam pola asuh otoritatif cenderung dapat mengendalikan diri dan percaya diri.

Berikut adalah ciri-ciri pola asuh otoritatif yang perlu Bunda ketahui:

  • Mendorong anak untuk mengekspresikan pendapat dan mendiskusikan pilihan
  • Menyesuaikan ekspektasi sesuai kondisi dan situasi anak
  • Menerima dan mendengarkan argumentasi anak, meski tidak selalu sepakat
  • Memberi hukuman yang disertai penjelasan
  • Meyakini bahwa meskipun anak perlu mengikuti perintah, anak juga harus dihormati dan punya kebutuhan sendiri
  • Menyadari bahwa meski orang tua punya kuasa dan kehendak terhadap anak, tetapi mereka juga harus bijaksana

Dari penjelasan di atas, Bunda kini paham bahwa sikap orang tua terlalu keras pada anak bukanlah cara mendidik yang baik. Hal ini karena melatih disiplin pada anak butuh kesabaran. Jika merasa perlu, Bunda bisa minta bantuan psikolog untuk mendapatkan tips mendidik anak sesuai karakternya.