Orang tua sering menghadapi dilema saat mengasuh anak. Misalnya antara menerapkan peraturan dengan sanksi yang tegas atau memberi ruang bagi anak untuk berargumentasi. Apakah Bunda mengalaminya juga? Yuk, periksa kembali apakah pola asuh Bunda sudah sesuai untuk anak.

Selalu ada saja momen ketika anak tidak mengerjakan sesuatu seperti yang diinginkan orang tua. Misalnya tidak mau menghabiskan makanan, tidak mau berangkat ke sekolah, atau tidak mau mengerjakan PR. Jika ini kerap terjadi, haruskah bersikap tegas dengan menghukumnya?

4 Tanda Orang Tua Terlalu Keras pada Anak - Alodokter

Memeriksa Pola Asuh

 Mendisiplinkan anak memang penting, tapi tetap perlu ada aturan dan batasannya. Jika Bunda sering bertanya-tanya apakah pola asuh yang Bunda terapkan pada Si Kecil terlalu keras, hal-hal di bawah ini bisa membantu Bunda menjawabnya

1. Hanya memuji hasil terbaik anak

Apakah Bunda baru memuji Si Kecil ketika pencapaiannya sempurna? Apabila Bunda baru memberi pujian jika nilai ujiannya 100 atau saat ia mencetak gol di pertandingan bola, Si Kecil dapat menganggap bahwa Bunda hanya menyayanginya ketika ia berhasil. Mulai sekarang, cobalah untuk tetap memuji anak meskipun ia gagal atau tidak mencapai hasil yang diharapkan, selama ia sudah berusaha dengan baik.

2. Hanya memberi perintah

Orang tua yang terlalu keras pada anak cenderung akan terus memberikan perintah yang harus dilakukan saat itu juga. Yuk, Bunda, coba beri kebebasan pada Si Kecil. Bunda dapat memberikan kalimat tanya atau pilihan yang sama-sama baik. Misalnya, “Mau membereskan kamar dulu atau meletakkan pakaian kotor di ember?”

3. Bunda tidak memberi toleransi

Orang tua yang terlalu keras pada anak cenderung tidak melihat penyebab atau alasan saat anak tidak melakukan hal yang diinginkan orang tua. Misalnya, Bunda ingin Si Kecil menjaga kebersihan pakaiannya, namun sekali waktu ia terjatuh saat berjalan di halaman yang licin dan pakaiannya menjadi kotor. Jangan marah-marah dulu, cukup minta Si Kecil untuk lebih berhati-hati ketika berjalan.

4. Terlalu sering mengomel dan menghukum

Bunda sering mengomeli atau menghukum anak saat ia lalai atau lambat dalam mengerjakan sesuatu? Ternyata, terlalu sering mengomel justru dapat membuat anak tidak belajar untuk mandiri. Dia pun jadi tidak belajar untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Yuk biasakan hanya menegur anak untuk hal yang benar-benar penting.

Selain itu, biarkan anak menghadapi konsekuensi alami dari kelalaian atau kemalasannya. Misalnya, jika anak tidak mau belajar, berarti dia tidak akan memahami materi pelajaran di sekolah.

Bunda dan Ayah perlu lebih hati-hati karena selain kurang efektif, pola asuh yang terlalu keras atau otoriter seperti contoh-contoh di atas justru bisa berdampak buruk pada anak.

Efek Negatif pada Anak

Bunda, disiplin tidak selalu berarti hukuman lho. Disiplin adalah tentang menanamkan nilai-nilai baik pada anak. Sedangkan hukuman, lebih bersifat kontrol dan kepatuhan dengan paksaan.

Disiplin yang terlalu ketat justru dapat menyudutkan anak untuk terpaksa berbohong demi menghindari hukuman. Selain itu, ekspektasi tinggi dari orang tua kadang justru membuat anak menjadi takut mencoba hal-hal baru.

Anak pun bisa menjadi terlalu khawatir, tidak percaya diri, berperilaku agresif atau terlalu malu dekat orang lain, susah bersosialisasi, dan sulit mengendalikan diri.

Pola Asuh Otoritatif Lebih Baik

Daripada bertahan dengan pola asuh otoriter yang cenderung membuat anak stres, yuk kenali pola asuh otoritatif atau demokratis. Jika anak dari orang tua bertipe otoriter cenderung lebih mudah depresi dan rendah diri, anak yang dibesarkan dalam pola asuh otoritatif cenderung dapat mengendalikan diri dan percaya diri.

Berikut ciri-ciri pola asuh otoritatif:

  • Mendorong anak untuk mengekspresikan pendapat dan mendiskusikan pilihan.
  • Menyesuaikan ekspektasi sesuai kondisi dan situasi anak.
  • Menerima dan mendengarkan argumentasi anak, meski tidak selalu sepakat.
  • Memberi hukuman yang disertai penjelasan dan persuasi.
  • Percaya bahwa meskipun anak perlu mengikuti perintah, tetapi mereka juga harus dihormati dan punya kebutuhan sendiri.
  • Percaya bahwa orang tua punya kuasa dan kehendak terhadap anak, tetapi juga harus bijaksana.

Jadi, Bunda lebih pilih pola asuh yang mana? Yuk, terus refleksi dan koreksi diri, serta kenali lebih dekat karakter Si Kecil, agar tujuan Bunda untuk menanamkan nilai yang baik pada dirinya dapat terwujud.