Ciri anak kekurangan zat besi penting untuk dikenali sejak dini, karena gangguan ini bisa berdampak pada tumbuh kembang dan kesehatan Si Kecil. Selain menyebabkan anemia, kondisi ini juga dapat memengaruhi kemampuan belajar dan daya tahan tubuh anak.

Kekurangan zat besi merupakan salah satu masalah gizi yang cukup sering terjadi pada anak-anak. Zat besi adalah mineral esensial yang berperan dalam pembentukan sel darah merah, penyaluran oksigen ke seluruh tubuh, serta mendukung perkembangan otak.

7 Ciri Anak Kekurangan Zat Besi dan Cara Mencegahnya - Alodokter

Tubuh tidak bisa memproduksi zat besi sendiri, sehingga anak perlu mendapatkan asupan zat besi yang cukup dari makanan maupun suplemen sesuai kebutuhan. Ciri anak kekurangan zat besi biasanya berkembang pelan-pelan dan sering dikira hanya sekadar kelelahan atau kurang tidur.

Padahal, bila tidak segera ditangani, kekurangan zat besi pada anak dapat membuatnya lebih rentan sakit, kemampuan berpikir menurun, hingga pertumbuhan terganggu.

Ciri Anak Kekurangan Zat Besi

Berikut ini adalah beberapa ciri anak kekurangan zat besi yang perlu diwaspadai:

1. Sering tampak lelah dan lesu

Anak yang kekurangan zat besi biasanya sering terlihat kurang bersemangat dalam beraktivitas sehari-hari, bahkan untuk kegiatan ringan, seperti bermain atau belajar. Tubuhnya mudah lelah karena jumlah sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh menjadi berkurang.

Akibatnya, anak juga cenderung sering mengantuk, tidak berenergi, dan tampak lebih pasif dibanding teman seusianya. Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai akibat kurang tidur, padahal bisa menjadi tanda awal kekurangan zat besi.

2. Wajah pucat

Salah satu ciri anak kekurangan zat besi yang paling terlihat adalah kulit yang terlihat pucat, terutama di wajah, telapak tangan, dan bagian dalam kelopak mata bawah. Warna merah pada bibir juga tampak memudar.

Kondisi ini terjadi karena berkurangnya jumlah hemoglobin dalam darah, sehingga aliran darah ke jaringan kulit menjadi kurang optimal. Kepucatan biasanya semakin jelas pada anak yang warna kulitnya terang. Namun pada anak berkulit lebih gelap, dapat diperiksa pada bagian dalam bibir atau kuku.

3. Mudah sakit

Zat besi berperan penting dalam mendukung sistem imun. Kekurangan zat besi membuat daya tahan tubuh anak menurun, sehingga ia lebih sering terserang batuk, pilek, ataupun infeksi lainnya.

Anak juga bisa mengalami sakit yang lebih lama atau gejala yang lebih berat dibanding anak lain jika terkena infeksi. Ini penting diwaspadai, terutama jika anak tampak sering kembali sakit walau sudah diobati.

4. Nafsu makan berkurang

Banyak anak dengan defisiensi zat besi mengalami penurunan selera makan. Ia tampak sulit tertarik pada makanan, bahkan makanan favoritnya. Jika dibiarkan, nafsu makan yang menurun dapat menyebabkan berat badan anak sulit bertambah, bahkan bisa turun.

Siklus ini harus diwaspadai, karena semakin berat kekurangan zat besinya, semakin menurun pula nafsu makannya.

5. Kesulitan berkonsentrasi dan sering gelisah

Anak yang kekurangan zat besi kerap mengalami gangguan konsentrasi, sehingga sulit fokus saat belajar atau mendengarkan instruksi. Mereka mungkin mudah lupa, tampak bingung, atau cepat kehilangan minat saat bermain dan belajar.

Selain itu, anak bisa menjadi mudah rewel, menunjukkan perubahan suasana hati, atau sering merasa gelisah tanpa sebab yang jelas. Kondisi ini dapat mengganggu prestasi belajar dan perkembangan emosi anak.

6. Pertumbuhan terhambat

Defisiensi zat besi yang berlangsung lama bisa menghambat pertumbuhan anak. Anak mungkin mengalami kenaikan berat badan dan tinggi badan yang tidak sesuai grafik pertumbuhan normal usianya.

Orang tua biasanya mulai curiga ketika pakaian anak tidak bertambah sempit dalam waktu lama, atau jika tinggi dan berat badannya stagnan ketika diperiksa di posyandu atau klinik.

7. Gejala fisik lain

Selain berbagai ciri anak kekurangan zat besi di atas, anak dengan kekurangan zat besi kadang mengalami keluhan fisik lain, seperti rambut yang mudah rontok dan tampak menipis. Kuku bisa menjadi rapuh, mudah patah, atau berbentuk cekung seperti sendok.

Beberapa anak juga dapat mengalami sesak napas, bahkan saat beraktivitas ringan, dan jantung berdebar-debar. Jika defisiensi zat besi sudah berat, anak bisa tampak mudah berkeringat atau merasa pusing saat berdiri tiba-tiba.

Risiko dan Dampak Jangka Panjang Kekurangan Zat Besi

Jika kekurangan zat besi tidak segera diatasi, beberapa risiko dan dampak berikut dapat terjadi pada anak:

Anemia defisiensi besi

Kekurangan zat besi yang berlangsung lama dapat menyebabkan anemia defisiensi besi, yaitu kondisi ketika tubuh tidak memiliki cukup sel darah merah sehat untuk mengangkut oksigen. Akibatnya, anak tampak semakin lemah, sering pusing, bahkan bisa mengalami sesak napas.

Anak yang anemia juga menjadi lebih mudah terinfeksi, kulit dan kukunya semakin pucat, serta aktivitas fisiknya jadi sangat terbatas. Bila dibiarkan, anemia pada anak dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti gangguan jantung atau keterlambatan perkembangan organ tubuh.

Gangguan perkembangan otak dan kecerdasan

Zat besi sangat penting untuk perkembangan otak dan sistem saraf anak. Jika kekurangan zat besi tidak segera ditangani, anak bisa mengalami hambatan dalam proses belajar, seperti sulit memahami pelajaran, terlambat bicara, atau mengalami masalah perilaku.

Penelitian menunjukkan bahwa defisiensi zat besi pada masa kanak-kanak bisa menurunkan kemampuan intelektual, fungsi kognitif, serta keterampilan motorik dan sosial, bahkan setelah kadar zat besi diperbaiki. Hal ini tentu berdampak pada prestasi di sekolah dan kemampuan beradaptasi di lingkungan sosialnya.

Daya tahan tubuh menurun

Zat besi merupakan salah satu unsur penting dalam sistem kekebalan tubuh. Kekurangan zat besi membuat tubuh anak lebih sulit melawan bakteri dan virus penyebab penyakit. Akibatnya, anak jadi lebih sering sakit, mudah terkena infeksi, dan proses pemulihan dari penyakit pun cenderung lebih lama.

Anak yang sering mengalami infeksi akibat defisiensi zat besi juga berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan kehilangan nafsu makan, sehingga memasuki siklus kekurangan gizi yang sulit diputus.

Cara Mencegah Kekurangan Zat Besi pada Anak

Dampak kekurangan zat besi ini bisa berbeda-beda pada setiap anak, bergantung pada usia, tingkat defisiensi, hingga kondisi kesehatan secara keseluruhan. Namun, bila dibiarkan berlarut-larut, risiko gangguan tumbuh kembang dan kesehatan jangka panjang semakin besar.

Oleh karena itu, penting untuk mengenali ciri anak kekurangan zat besi sejak dini dan melakukan upaya pencegahan maupun pengobatan sesuai anjuran dokter.

Kekurangan zat besi dapat dicegah dengan berbagai upaya berikut ini:

  • Berikan makanan kaya zat besi sejak dini, seperti daging merah, hati ayam, ikan, telur, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan sayuran hijau.
  • Kombinasikan sumber zat besi dengan makanan tinggi vitamin C, seperti jeruk, tomat, stroberi, pepaya, agar penyerapannya lebih optimal.
  • Batasi konsumsi susu sapi berlebihan, terutama pada anak di bawah 2 tahun, karena dapat menghambat penyerapan zat besi.
  • Berikan MPASI yang mengandung zat besi, terutama MPASI hewani, sesuai usia dan kebutuhan anak.
  • Hindari memberikan teh atau kopi pada anak karena dapat menghambat penyerapan zat besi.
  • Pastikan pola makan anak bervariasi dan seimbang setiap hari.
  • Lakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk memantau status gizi dan kadar hemoglobin anak.
  • Ikuti anjuran dokter terkait pemberian suplemen zat besi pada anak, bila diperlukan.

Penting untuk memerhatikan ciri anak kekurangan zat besi, terutama jika ia tampak mudah lelah, pucat, atau sering sakit.

Bila Bunda merasa Si Kecil menunjukkan ciri anak kekurangan zat besi atau pertumbuhan dan perkembangannya tidak sesuai usia, sebaiknya segera Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER. Dengan pemeriksaan dan penanganan yang tepat, risiko dampak jangka panjang kekurangan zat besi pada anak dapat dicegah.