Keguguran adalah topik yang sensitif untuk dibicarakan. Sayangnya, hal ini membuat mitos seputar keguguran yang ada dalam masyarakat, seringkali dipercayai. Padahal, seringkali mitos tersebut tidaklah benar.

Mitos seputar keguguran sering membuat ibu hamil merasa bersalah, bahkan membuat  enggan untuk mencoba hamil lagi. Nah, dengan mengetahui sebanyak mungkin fakta, diharapkan Bunda dapat kembali mempersiapkan kehamilan dengan baik, dan menerima keguguran tanpa menyalahkan diri sendiri.

7 Mitos tentang Keguguran Ini Perlu Bunda Ketahui Faktanya - Alodokter

Daftar Mitos dan Fakta tentang Keguguran

Banyak wanita yang dilarang untuk mengungkap kehamilannya di trimester pertama karena dikhawatirkan justru akan menyebabkan keguguran. Apakah Bunda mengalaminya juga? Ini adalah salah satu mitos yang perlu diluruskan. Justru di masa inilah wanita hamil perlu mendapat dukungan penuh agar terhindar dari keguguran.

Yuk. simak berbagai mitos lain seputar keguguran beserta faktanya.

  • Mitos: Keguguran tidak dapat dicegah

Faktanya, memang ada beberapa penyebab keguguran yang di luar kendali Bunda. Tetapi, xada hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko keguguran. Misalnya, dengan berhenti merokok. Risiko keguguran pada wanita yang merokok saat hamil akan meningkat dibanding dengan yang tidak.

  • Mitos: Kalau pernah keguguran, pasti akan keguguran lagi

Fakta yang ada, kemungkinan keguguran setelah keguguran pertama kalinya sebenarnya tidak berbeda, Bun. Tetapi risiko keguguran untuk ketiga kalinya memang meningkat setelah 2 kali keguguran. Namun tidak perlu panik, bahkan setelah 4 kali keguguran, dengan pendampingan dokter, Bunda tetap memiliki 60% kemungkinan untuk hamil.

  • Mitos: Keguguran terutama disebabkan stres dan akibat mengangkat benda berat

Faktanya 60% keguguran diakibatkan kelainan jumlah kromosom dan faktor kesehatan lain yang sebenarnya di luar kendali ibu hamil. Namun, kini sudah banyak terapi, obat-obatan, dan operasi yang dapat dijalankan untuk mengurangi risiko keguguran.

  • Mitos: Perdarahan dan bercak darah saat hamil menandakan bahwa Bunda keguguran.

Faktanya, perdarahan adalah hal normal terutama di kehamilan trimester pertama. Kondisi ini dialami sekitar 40% wanita hamil dan bukan menandakan kehamilan tidak sehat. Dengan terus mengonsultasikan diri, dokter dapat membantu mengurangi risiko-risiko yang mungkin terjadi.

  • Mitos: Sakit di trimester pertama meningkatkan risiko keguguran

Faktanya, berbagai macam penyakit seperti flu hingga sakit perut umumnya tidak akan membahayakan bayi. Tetapi, Bunda perlu segera mengonsumsi obat penurun panas ya jika mengalami demam tinggi, terutama di trimester pertama. Selain itu infeksi bakteri perlu segera ditangani dengan antibiotik dari dokter. Yang tak kalah penting, lindungi diri dari listeriosis dengan menghindari konsumsi daging yang belum benar-benar matang.

  • Mitos: Keguguran adalah hal yang jarang terjadi

Bunda, fakta yang adalah keguguran termasuk komplikasi kehamilan yang paling sering terjadi dan dialami sekitar 15-20% ibu. Kadang keguguran terjadi bahkan sebelum wanita sadar bahwa dirinya sedang hamil.

  • Mitos: Membicarakan keguguran hanya akan membuat sedih

Faktanya, dengan tidak membicarakan, apalagi merahasiakan keguguran, justru dapat membuat luka dan kesedihan semakin dalam, seakan-akan keguguran adalah hal yang memalukan. Jika mengalami keguguran, jangan takut untuk membicarakannya pada orang yang Bunda percaya. Sebaliknya, tidak apa-apa untuk menyatakan simpati pada kerabat atau sahabat yang mengalami keguguran, tanpa membuatnya merasa rendah diri.

Kini, dengan mengetahui fakta di balik mitos, diharapkan keguguran menjadi hal lebih mudah diterima dan dipahami.. Hal terpenting diketahui, wanita yang mengalami keguguran perlu mendapat dukungan yang mereka butuhkan, bukan justru disalahkan karena kondisi tersebut.