Air ketuban memungkinkan janin mengambang dalam kantong ketuban semasa dalam kandungan sehingga janin dapat bergerak. Cairan yang berwarna jernih kekuningan ini juga memberi ruang untuk tumbuh kembang janin dan melindungi janin dari cedera fisik.

Salah satu perubahan yang terjadi dalam tubuh wanita saat terjadi kehamilan adalah terbentuknya kantong dan cairan ketuban. Air ketuban mulai terbentuk kurang lebih setelah 12 hari dari proses terjadinya pembuahan.

Mengenal Kondisi Air Ketuban yang Tidak Normal - Alodokter

Saat pemeriksaan kehamilan, volume air ketuban secara rutin akan diperiksa untuk mengetahui apakah masih dalam kadar normal, terlalu banyak, atau terlalu sedikit. Ini karena jumlah air ketuban mencerminkan kondisi kesehatan janin. Pemeriksaan dilakukan menggunakan ultrasonografi (USG).

Air ketuban atau cairan amnion berguna sebagai bantalan yang melindungi janin dari cedera luar atau gerakan mendadak. Cairan ini juga berguna menjaga suhu di sekeliling janin agar tetap hangat dan stabil. Fungsi lainnya adalah membantu tulang, otot, sistem pencernaan, dan paru-paru janin untuk dapat tumbuh dengan baik.

Kondisi Air Ketuban yang Tidak Normal

Volume air ketuban yang normal berada pada kisaran 60 milliliter (mL) ketika kehamilan berusia 12 minggu, 175 mL di usia 16 minggu, dan 400-1200 mL di usia kehamilan 34-38 minggu. Namun ada sebagian ibu hamil yang memiliki volume ketuban tidak normal, entah itu terlalu sedikit atau terlalu banyak.

  • Air ketuban terlalu banyak
    Secara medis, kondisi ini dinamakan polihidramnion. Polihidramnion merupakan bentuk komplikasi yang umum dialami ibu hamil. Sebagian besar ibu hamil dengan kondisi polihidramnion dapat melahirkan bayi yang sehat, namun disarankan untuk tetap tidak mengabaikan kondisi ini.
    Polihidramnion dapat meningkatkan risiko bayi sungsang, bahkan lahir prematur. Ibu hamil juga berisiko mengalami perdarahan setelah melahirkan. Penyebab air ketuban terlalu banyak belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa faktor risiko berikut berkaitan dengan terjadinya polihidramnion.
    • Kelainan bawaan pada janin. Salah satunya yang berhubungan dengan kemampuan menelan janin. Saat berada di dalam rahim, janin akan menelan air ketuban dan kemudian buang air kecil. Hal ini dapat menjaga kestabilan volume air ketuban. Jika janin tidak dapat menelan karena cacat genetik, cairan ketuban akan menumpuk.
    • Ibu hamil memiliki penyakit diabetes. Kadar glukosa darah yang tinggi dapat menyebabkan penumpukan cairan ketuban.
    • Mengandung bayi kembar yang mengalami sindrom transfusi kembar-ke-kembar. Hal ini menyebabkan peningkatan cairan ketuban pada kembar penerima dan menurunnya cairan ketuban pada donor.
    • Rhesus darah antara ibu dan janin berbeda (inkompatibilitas rhesus). Hal ini terkadang dapat membuat janin mengalami anemia.
    • Masalah pada jantung bayi. Bisa berupa kelainan jantung bawaan.
    • Infeksi dalam kehamilan.

Untuk mendeteksinya sejak dini, perlu dilakukan pemeriksaan kehamilan ke dokter secara rutin. Jika perut Anda terasa besar dan kencang disertai sesak napas, segera periksakan diri ke dokter.

  • Air ketuban terlalu sedikit
    Kondisi air ketuban terlalu sedikit dikenal dengan istilah oligohidramnion. Kondisi ini kadang sulit diprediksi kemunculannya, namun lebih rentan terjadi pada masa akhir kehamilan. Air ketuban sedikit menandakan terdapat kemungkinan telah terjadi kegagalan plasenta atau gangguan perkembangan janin. Air ketuban yang terlalu sedikit dapat terjadi karena beberapa faktor berikut:
    • Komplikasi kehamilan, seperti pada Ibu hamil yang memiliki tekanan darah tinggi, dehidrasi, preeklamsia, dan diabetes.
    • Kehamilan lewat bulan (usia kehamilan melebihi 41 minggu).
    • Ibu hamil yang mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti angiotensin-converting enzyme (ACE).
    • Solusio plasenta yang berarti plasenta terlepas dari dinding rahim.
    • Selaput ketuban
    • Masalah pada janin, seperti kelainan genetik.

      Kondisi oligohidramnion dapat diketahui dari pemeriksaan volume air ketuban menggunakan USG. Jika Anda didiagnosis mengalami oligohidramnion, Anda mungkin perlu minum lebih banyak air putih, terlebih lagi bila mengalami dehidrasi.

      Selain itu, mungkin diperlukan injeksi cairan ketuban atau amnioinfusi. Pengobatan ini dilakukan oleh dokter dengan cara memberikan cairan saline yang disuntikkan ke dalam dinding kantong ketuban.

  • Ketuban pecah dini
    Pada sebagian ibu hamil, ketuban bisa pecah sebelum kehamilan menginjak usia 37 minggu. Makin dini terjadinya hal ini, maka makin serius kondisi ibu dan janin. Kondisi ini dinamakan ketuban pecah dini. Penyebabnya sering kali tidak diketahui, tetapi beberapa faktor risiko berikut mungkin bisa memicu kondisi ketuban pecah sebelum waktunya.
    • Mengalami infeksi pada vagina, rahim, atau leher rahim.
    • Ibu hamil memiliki kebiasaan merokok.
    • Ibu hamil pernah menjalani operasi atau biopsi leher rahim.
    • Pernah mengalami kondisi ini pada kehamilan sebelumnya.
      Bila Anda merasakan adanya air yang mengalir dari vagina, baik secara perlahan-lahan maupun menyembur, ambillah kain untuk menyerap cairan tersebut. Ciumlah aromanya, air ketuban tidak berbau urine. Bila setelah dicium ternyata bukan urine, segera cari bantuan medis.

      Jika ketuban pecah dini pada usia kehamilan di atas 37 minggu, Anda dapat melakukan proses persalinan. Bila terjadi di antara 34 sampai 37 minggu, dokter Anda kemungkinan akan melakukan induksi untuk mempercepat proses persalinan.

      Namun bila ketuban pecah sebelum usia kehamilan 34 minggu, dokter kemungkinan akan menahan agar tidak terjadi persalinan. Anda biasanya akan diinstruksikan untuk istirahat total. Mungkin dokter juga akan memberikan antibiotik untuk mencegah infeksi atau obat-obatan kortikosteroid agar paru-paru bayi dapat tumbuh dengan lebih baik. Setelah kondisi paru-paru bayi terdeteksi lebih baik, persalinan dapat dilakukan.

  • Air ketuban berwarna tidak normal
    Jika sudah mendekati tanggal persalinan, ketuban bisa pecah dengan sendirinya atau spontan. Air ketuban yang keluar normalnya berwarna putih keruh hingga kekuningan dan tidak berbau.
    Beri tahu dokter atau perawat jika air ketuban yang keluar berwarna kehijauan, berbau tidak sedap, atau bercampur dengan banyak darah. Air ketuban berwarna tidak normal seperti kehijauan, kekuningan, kental, berbau busuk, atau jika terdapat demam selama kehamilan, kemungkinan menandakan adanya kelainan pada janin atau infeksi pada ketuban. Kondisi ini memerlukan penanganan segera.

Kenali tanda-tanda air ketuban yang tidak normal agar ibu hamil dapat segera mendapat pertolongan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Karena itu penting untuk rutin melakukan pemeriksaan kehamilan ke dokter kandungan atau bidan untuk memastikan kondisi kehamilan sehat dan lancar.