Ibu hamil rentan mengalami dehidrasi. Ini karena meningkatnya kebutuhan cairan selama hamil, serta adanya keluhan mual yang membuat ibu hamil sering muntah dan tidak nafsu makan, sehingga asupan cairan berkurang. Padahal, dehidrasi selama kehamilan bisa berbahaya, lho!

Idealnya, cairan yang masuk dan keluar dari tubuh harus selalu seimbang, terutama saat sedang hamil. Keluarnya cairan secara berlebihan yang tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup dapat membuat Bumil kekurangan cairan, bahkan mengalami dehidrasi.

Ini Bahayanya Dehidrasi Selama Kehamilan - Alodokter

Apa Saja Bahaya Dehidrasi Selama Kehamilan?

Dehidrasi selama kehamilan dapat membahayakan ibu hamil dan janin dalam kandungannya. Berikut adalah beberapa bahaya yang bisa terjadi:

1. Air ketuban terlalu sedikit

Air ketuban adalah cairan pelindung yang diperlukan janin selama dalam kandungan. Selain itu, cairan ini akan memberi janin ruang gerak selama dalam kandungan. Ada sejumlah faktor yang bisa menyebabkan volume air ketuban sedikit. Salah satunya adalah dehidrasi selama kehamilan.

Volume air ketuban yang terlalu sedikit, terutama pada awal kehamilan, dapat menyebabkan terganggunya perkembangan janin atau bahkan keguguran. Sementara pada tahap akhir kehamilan, air ketuban yang terlalu sedikit dapat meningkatkan risiko terjadinya kelahiran prematur dan komplikasi saat melahirkan.

2. Memicu kontraksi palsu

Dehidrasi selama kehamilan juga dapat memicu kontraksi Braxton-Hicks, yaitu kontraksi palsu yang biasanya berlangsung selama 1-2 menit. Kontraksi ini umumnya terjadi pada trimester ketiga, namun bisa juga pada trimester kedua.

Ketika mengalami kondisi ini, coba minum air putih dalam jumlah yang cukup. Jika membaik, kemungkinan kontraksi yang Bumil alami disebabkan oleh dehidrasi.

3. Komplikasi yang sangat serius

Selain kondisi di atas, komplikasi kehamilan yang bisa terjadi bila ibu hamil mengalami dehidrasi adalah penurunan produksi ASI, bayi lahir dengan cacat bawaan, bayi mengalami gangguan pada sistem saraf, dan persalinan prematur.

4. Kematian pada bayi atau ibu

Kondisi dehidrasi berat yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan syok hipovolemik yang bisa mengancam nyawa ibu hamil serta janin.

Mencari Tahu Tanda-Tanda Dehidrasi

Untuk mencegah terjadinya dehidrasi, selalu cukupi kebutuhan cairan dan kenali tanda-tanda dehidrasi. Cara paling sederhana yang bisa dilakukan untuk mengenalinya adalah dengan memerhatikan warna urine. Bila warna urine kuning pekat dan lebih gelap, artinya asupan cairan Bumil kurang. Sebaliknya, warna urine yang bening dan jernih mengindikasikan tubuh Bumil terhidrasi dengan baik.

Selain dari warna urine, dehidrasi juga dapat dikenali dari gejala yang muncul. Berikut ini adalah gejala dehidrasi berdasarkan tingkat keparahannya:

Dehidrasi ringan hingga menengah:

  • Berkurangnya frekuensi buang air kecil
  • Merasa haus
  • Mengantuk
  • Mulut terasa kering dan lengket
  • Sakit kepala
  • Pusing
  • Konstipasi

Dehidrasi berat:

  • Jumlah dan frekuensi buang air kecil menurun atau tidak ada sama sekali
  • Urine berwarna kuning pekat
  • Merasa sangat haus
  • Mata cekung
  • Mulut sangat kering
  • Kulit sangat kering dan kurang elastis (membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali seperti semula bila ditekan)
  • Mudah marah dan kebingungan
  • Jantung berdegup kencang dan napas cepat

Untuk dehidrasi yang ringan hingga sedang, Bumil masih bisa mengatasinya dengan banyak minum air putih dan istirahat yang cukup. Sementara untuk dehidrasi berat, Bumil harus mendapatkan pertolongan medis segera.

Bagaimana Cara untuk Tetap Terhidrasi?

Sebenarnya, mencegah dehidrasi selama kehamilan cukup mudah, yaitu dengan minum air putih sekitar 3 liter per hari atau setara dengan 8-12 gelas.

Namun perlu dicatat, bila Bumil melakukan aktivitas lebih, berolahraga, atau beraktivitas di luar ruangan saat cuaca panas, tambahkan takaran minum harian sebanyak 1 gelas dari jumlah yang biasanya diminum.

Selain itu, lakukan beberapa tips berikut untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh dan mencegah dehidrasi:

  • Hindari minuman berkafein, seperti kopi, teh, dan minuman bersoda. Minuman ini memiliki sifat diuretik yang bisa menyebabkan Bumil lebih sering buang air kecil.
  • Bila tidak suka minum air putih, Bumil bisa menambahkan irisan buah-buahan ke dalam air putih untuk menambah rasa. Beberapa jenis buah yang bisa ditambahkan adalah kiwi, lemon, dan jeruk.
  • Jika Bumil mengalami gejala morning sickness, usahakan untuk selalu makan dan minum saat Bumil sedang tidak merasa mual.

Jaga selalu asupan cairan agar Bumil terhindar dari bahaya dehidrasi selama kehamilan. Bila Bumil mengalami mual dan muntah yang parah hingga sulit untuk makan atau minum, konsultasikanlah dengan dokter kandungan untuk mendapatkan penanganan. Dan ingat, segera periksakan ke dokter jika Bumil mengalami gejala dehidrasi.