Abses peritonsil adalah infeksi bakteri yang menyebabkan munculnya nanah di sekitar tonsil atau amandel. Kondisi ini umumnya terjadi akibat komplikasi dari tonsilitis atau radang amandel yang tidak diobati dengan baik. Yuk, simak penyebab, gejala, dan cara menangani abses peritonsil berikut ini!

Abses peritonsil paling sering terjadi pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa muda. Kondisi ini bisa menyebabkan rasa sakit, bengkak, dan penyumbatan di tenggorokan. Ketika tenggorokan tersumbat, aktivitas menelan, berbicara, dan bahkan bernapas pun akan terasa sakit dan sulit.

Abses Peritonsil: Penyebab dan Cara Penanganannya - Alodokter

Kenali Berbagai Penyebab Abses Peritonsil

Sebagian besar abses peritonsil disebabkan oleh bakteri yang sama dengan bakteri penyebab radang tenggorokan. Streptokokus adalah bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi pada jaringan lunak di sekitar amandel dan dapat menyebar dari kelenjar amandel yang terinfeksi ke berbagai jaringan atau organ tubuh lain.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya abses peritonsil, di antaranya:

  • Infeksi pada gusi, seperti periodontitis dan radang gusi
  • Tonsilitis (radang amandel) kronis
  • Infeksi mononukleosis
  • Kebiasaan merokok
  • Leukemia limfositik kronis
  • Batu atau endapan kalsium dalam amandel (tonsilloliths)

Gejala Abses Peritonsil yang Perlu Anda Waspadai

  • Demam dan menggigil
  • Sakit tenggorokan yang parah pada salah satu sisi
  • Nyeri telinga di sisi yang sama dengan tempat munculnya abses
  • Sakit kepala.
  • Sulit menelan dan terasa nyeri saat membuka mulut
  • Pembengkakan di wajah dan leher, biasanya pada sisi yang terinfeksi
  • Muncul benjolan di leher akibat pembengkakan kelenjar getah bening dan terasa sakit bila disentuh
  • Suara parau
  • Kejang pada otot rahang (trismus) dan leher (tortikolis)
  • Uvula (jaringan kecil yang menggantung di tengah tenggorokan) bergeser ke sisi yang sehat

Abses peritonsil bisa menyerang salah satu atau kedua amandel. Infeksi ini umumnya sering menyebar ke area belakang amandel, kemudian menyebar ke leher dan dada. Apabila jaringan yang membengkak menghalangi saluran pernapasan, maka akan menimbulkan kondisi darurat medis yang dapat mengancam jiwa.

Abses peritonsil juga bisa pecah di dalam tenggorokan dan nanah yang merupakan isi dari abses tersebut dapat masuk ke paru-paru dan menyebabkan pneumonia.

Bagaimana Prosedur Penanganan Abses Peritonsil?

Abses peritonsil perlu segera ditangani oleh dokter. Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan sebelum melakukan tindakan pengobatan. Pemeriksaan tersebut dapat meliputi:

  • Pemeriksaan fisik, seperti mulut, tenggorokan, dan leher
  • Pemeriksaan darah
  • Pemeriksaan penunjang menggunakan CT scan atau USG

Untuk pemeriksaan CT scan atau USG jarang dilakukan, meski demikian pemeriksaan tersebut dapat dilakukan jika memang diperlukan. Setelah hasil pemeriksaan diperoleh, dokter akan menentukan jenis penanganan yang meliputi:

Tindakan Medis

Abses peritonsil umumnya ditangani dengan mengeluarkan nanah melalui prosedur penyedotan menggunakan jarum (aspirasi) atau membuat sayatan kecil pada abses dengan pisau bedah, sehingga nanah bisa mengalir keluar.

Jika cara ini belum cukup mengatasi abses peritonsil, maka amandel penderita harus diangkat dengan prosedur tonsilektomi. Tonsilektomi berlaku untuk penderita yang kerap menderita tonsilitis atau pernah mengalami abses peritonsil sebelumnya.

Pemberian Obat-obatan

Karena adanya nyeri dan sulit menelan, penderita akan diberikan cairan dan nutrisi melalui infus. Dokter juga akan memberikan obat penghilang rasa sakit dan antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri yang terjadi. Anda diwajibkan untuk menghabiskan antibiotik sesuai dosis yang dianjurkan dokter. Karena jika tidak dikonsumsi sampai habis, dikhawatirkan infeksi bisa saja muncul kembali dan menimbulkan resistensi bakteri.

Menjaga kebersihan gigi dan mulut serta tidak merokok adalah cara terbaik untuk mencegah timbulnya abses peritonsil. Jika Anda mengalami gejala-gejala abses peritonsil, segera periksakan diri ke dokter agar mendapat penanganan yang intensif dan tepat, sehingga terhindar dari komplikasi yang berbahaya.