Cara mengatasi anak demam tinggi perlu diketahui setiap orang tua agar bisa memberikan pertolongan pertama yang tepat tanpa panik. Dengan mengetahui langkah yang benar, Bunda dan Ayah dapat membantu anak pulih lebih cepat dan mencegah timbulnya masalah kesehatan lain yang lebih serius akibat demam.

Ketika suhu tubuh anak tiba-tiba naik, wajar sekali kalau Bunda dan Ayah langsung panik. Apalagi, demam kerap dianggap sebagai pertanda masalah kesehatan serius, seperti demam berdarah, pneumonia, dan tipes. Di sisi lain, demam juga kerap membuat anak jadi rewel dan nggak nyaman.

Anak Tiba-tiba Demam Tinggi? Jangan Panik, Lakukan C-E-K Dulu sebelum Pilih Obat! - Alodokter

Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua kondisi demam pada anak berbahaya lho, Bun. Demam justru menandakan kalau sistem imun tengah melawan infeksi yang terjadi di dalam tubuh. 

Jadi, saat si Kecil mengalami demam, Bunda dan Ayah tidak disarankan langsung memberikannya obat penurun panas, yang penting adalah Bunda dan Ayah tahu cara mengatasi anak demam tinggi dengan tepat, karena tidak semua kondisi demam berbahaya dan harus segera diturunkan.

Lakukan Observasi "C-E-K" Dulu!

Sebelum buru-buru memberikan obat penurun panas atau membawa anak ke dokter, yuk lakukan observasi singkat menggunakan metode C-E-K berikut ini:

Anak Tiba-tiba Demam Tinggi? Jangan Panik, Lakukan C-E-K Dulu sebelum Pilih Obat! - Alodokter

1. Ciri fisik anak

Amati kondisi fisik anak secara menyeluruh, mulai dari wajah, kulit, hingga gerak-geriknya. Perhatikan apakah wajah anak terlihat pucat atau kemerahan, mata sayu, bengkak pada tenggorokan, atau sakit menelan. Jika wajahnya tampak pucat atau kemerahan tanpa disertai bengkak di tenggorokan dan nyeri saat menelan, biasanya demam anak tidak disebabkan gangguan serius dan biasanya dapat dipantau di rumah.

Namun, jika beberapa area tubuh si Kecil, seperti tenggorokan, gigi, dan gusi, anak tampak bengkak atau ia menolak makan dan minum karena nyeri atau radang pada tenggorokannya, itu artinya demam anak disebabkan oleh kondisi lebih serius.

Selain itu, ukurlah suhu tubuh si Kecil. Namun, agar hasilnya akurat, pastikan Bunda atau Ayah mengecek suhu tubuh anak dengan termometer digital, bukan hanya dengan meraba dahi ya. Demam ringan biasanya bersuhu 37,5–38°C, demam sedang 38,1–39°C, dan demam tinggi di atas 39°C. 

Selain itu, catat dan perhatikan juga apakah napas anak jadi lebih cepat, matanya sayu, bibirnya kering, dan lidahnya tampak pecah-pecah. Jika iya, hal itu bisa menandakan bahwa si Kecil kekurangan cairan akibat demam (dehidrasi). Perhatikan juga apakah kulit dan bibir anak tampak kebiruan, karena ini bisa menjadi gejala kurang oksigen (hipoksia).

2. Ekspresi anak

Setelah mengamati ciri fisik anak, penting untuk memperhatikan ekspresi dan perilaku anak. Pasalnya, evaluasi ini membantu menentukan apakah demam masih tergolong ringan atau perlu mendapat penanganan medis.

Nah, anak yang tampak sedikit lemas, tetapi masih aktif, mau bermain, tertawa, berbicara, atau merespons ketika dipanggil, biasanya tidak mengalami gangguan serius. 

Sebaliknya, jika anak menjadi lebih pendiam, sering merengek atau rewel tanpa sebab yang jelas, sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak mau minum sama sekali, ini bisa menandakan kondisinya lebih parah dan membutuhkan penanganan medis.

3. Keluhan badan

Jika anak sudah bisa bicara, coba tanyakan secara langsung pada anak tentang apa yang ia rasakan. Bila anak belum bisa bicara, lakukan observasi dari gerak-gerik dan raut wajahnya. 

Demam akibat infeksi biasanya disertai keluhan lain, misalnya:

  • Sakit kepala, anak sering memegang kepala atau meringis.
  • Nyeri otot atau sendi sehingga malas bergerak.
  • Sakit tenggorokan, suara serak, atau menolak makan atau minum karena sulit menelan makanan atau minuman.
  • Nyeri telinga, sering menggaruk-garuk telinga atau menangis saat disentuh bagian telinganya.
  • Sakit perut, mual, muntah, atau diare.

Jika keluhan lain relatif ringan, misalnya meriang, sumeng, dan sedikit nyeri tetapi anak masih mau minum dan makan, biasanya demam dapat dipantau di rumah. Namun, bila anak mengeluh badannya terasa nyeri dan ngilu, sering muntah, tidak mau minum dan makan, atau tampak gejala lain yang berat, seperti sesak napas, kejang, atau diare berat, segera konsultasikan ke dokter.

Dengan melakukan cara mengatasi anak demam tinggi ini, Bunda dan Ayah pun dapat membuat keputusan yang lebih tepat kapan harus memberikan obat, kapan cukup observasi, dan kapan butuh bantuan dokter. 

Pilih Obat Penurun Panas yang Tepat

Setelah melakukan C-E-K, Bunda dan Ayah dapat mengetahui demam yang sedang dialami oleh anak, apakah demam ringan atau sedang, tanpa nyeri yang berlebihan atau demam yang disertai dengan nyeri dan radang.

Maka dari itu, Bunda dan Ayah perlu perlu tahu obat yang sesuai dengan demam yang dialami si Kecil:

Demam ringan

Jika anak mengalami demam ringan atau sedang, tanpa disertai nyeri yang berlebihan, Bunda atau Ayah bisa memberikan paracetamol kepada si Kecil.

Paracetamol adalah obat penurun panas yang aman untuk anak usia di bawah 5 tahun serta bayi. Pasalnya, obat ini memiliki risiko efek samping yang lebih rendah pada anak selama diberikan sesuai dosis. Selain itu, obat ini juga tidak mengiritasi lambung sehingga aman jika Bunda dan Ayah memberikannya saat perut si Kecil dalam keadaan kosong.

Paracetamol biasanya diberikan untuk mengatasi demam ringan yang hanya disertai sumeng atau meriang tanpa nyeri berlebihan. Obat ini bekerja langsung pada pusat pengaturan suhu tubuh yang ada di otak. Dengan begitu, keluhan demam pada anak bisa mereda dengan cepat.

Nah, salah satu produk obat penurun panas dengan kandungan paracetamol yang aman untuk diberikan kepada anak usia di bawah 5 tahun adalah Praxion. Praxion mengandung paracetamol micronized, di mana zat aktifnya dibuat dengan teknologi mikronisasi sehingga cepat diserap tubuh si Kecil dan suhu tubuhnya pun cepat turun.

Praxion hadir dalam rasa buah jeruk dengan 3 varian yang bisa diberikan sesuai usia anak, yaitu drops (untuk anak usia 0–2 tahun, suspensi (untuk anak usia 1–6 tahun), dan juga forte (untuk anak usia di atas 6 tahun). Dengan rasa yang enak, obat ini mudah disukai oleh anak dan manfaatnya pun bisa didapat secara maksimal. Ayah atau Bunda bisa memberikan Praxion kepada si Kecil tiap 4–6 jam. 

Demam dengan nyeri dan radang

Berbeda dengan demam ringan, pada demam yang disertai dengan nyeri dan radang, Bunda atau Ayah bisa memberikan si Kecil obat penurun panas yang mengandung ibuprofen

Ibuprofen biasanya digunakan ketika demam anak cukup tinggi dan disertai nyeri atau peradangan, misalnya radang tenggorokan atau nyeri gigi dan telinga. Pasalnya, obat ini memiliki efek antinyeri dan antiradang, dan bekerja lebih lama daripada paracetamol.

Nah, salah satu produk obat yang bisa digunakan sebagai cara mengatasi anak demam tinggi dan mengandung ibuprofen adalah Proris. Karena mengandung ibuprofen, obat ini lebih efektif dalam menurunkan demam, nyeri, dan radang bahkan dalam waktu 15–30 menit setelah diminum dan efeknya bertahan hingga 8 jam.

Proris memiliki 2 varian, yaitu suspensi dan forte, dengan rasa buah-buahan yang disukai anak-anak, seperti jeruk dan stroberi. Dengan begitu, obat ini mudah diterima oleh anak-anak. Proris sebaiknya diberikan setelah si Kecil makan, tiap 6–8 jam sekali. 

Agar pemberian obat penurun panas tetap aman dan memberikan manfaat yang maksimal pada anak, perhatikan hal-hal berikut:

  • Pastikan obat diberikan sesuai dosis pada kemasan atau resep dokter.
  • Jangan memberikan paracetamol dan ibuprofen secara bersamaan tanpa anjuran dokter.
  • Pastikan anak cukup minum agar tidak dehidrasi.
  • Hindari pemberian ibuprofen jika anak muntah terus atau muncul tanda dehidrasi.

Kapan Harus Segera Membawa Anak Demam Tinggi ke Dokter atau IGD?

Demam pada anak tidak selalu membutuhkan penanganan, terutama bila tidak berlangsung lama dan tanpa disertai gejala berat. Namun, segera cari pertolongan medis jika demam anak sangat tinggi, tidak turun setelah 1 hari (pada anak usia kurang dari 2 tahun) atau 2 hari (pada anak usia 2 tahun atau lebih) dan disertai gejala berikut:

  • Anak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak responsif
  • Mengalami kejang
  • Tampak sesak napas atau napas terlihat cepat dan ada suara napas “grok grok” atau mengi
  • Tidak mau menyusu, minum, atau makan sama sekali 
  • Frekuensi buang air kecil berkurang, pada bayi popoknya tampak kering hingga lebih dari 6 jam
  • Muncul ruam merah luas di tubuhnya 
  • Kulit atau bibir kebiruan

Menghadapi anak demam tinggi memang penuh tantangan, tetapi penting untuk melakukan berbagai cara mengatasi anak demam tinggi dengan tenang agar keputusan yang diambil tetap tepat dan aman bagi si Kecil. 

Jika masih memiliki kekhawatiran atau pertanyaan seputar kondisi demam anak, gunakan fitur chat dokter di aplikasi ALODOKTER. Bunda atau Ayah akan mendapatkan arahan medis terpercaya tanpa harus antre di fasilitas kesehatan.