Anus perih setelah BAB bisa dialami siapa saja, baik anak-anak maupun dewasa, dan umumnya terjadi akibat iritasi hingga kondisi medis tertentu. Mengetahui penyebab dan cara menangani anus perih setelah BAB sangat penting agar keluhan ini tidak terus berulang dan kualitas hidup tetap terjaga.
Keluhan anus perih setelah BAB umumnya dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari pola makan, kebersihan, hingga adanya masalah kesehatan di sekitar anus. Banyak orang mengira anus perih setelah BAB selalu disebabkan oleh wasir, padahal ada beberapa kondisi lain yang juga dapat memicu rasa perih ini.

Penyebab Umum Anus Perih setelah BAB
Berikut adalah beberapa penyebab yang paling sering membuat anus perih setelah BAB:
1. Fisura ani
Fisura ani adalah luka kecil atau robekan pada dinding anus yang biasanya terjadi akibat keluarnya feses yang keras atau karena mengejan terlalu kuat saat BAB. Ketika fisura ani terjadi, biasanya Anda akan merasakan sakit atau perih yang tajam saat buang air besar, dan kadang-kadang bisa disertai darah segar pada tisu atau di permukaan feses.
Luka ini bisa juga menyebabkan sensasi terbakar yang bertahan beberapa jam setelah BAB, membuat penderitanya merasa tidak nyaman. Fisura ani bisa terjadi pada siapa saja, tetapi paling banyak dialami oleh orang yang sering mengalami konstipasi atau sembelit.
2. Wasir (ambeien)
Wasir adalah pembengkakan pembuluh darah di dalam atau sekitar anus. Ketika seseorang mengidap wasir, area anus akan terasa nyeri, bengkak, dan kadang-kadang disertai dengan rasa perih setelah BAB. Wasir juga bisa menyebabkan keluarnya darah segar dengan jumlah sedikit, terutama saat feses yang keras melewati anus.
Selain anus perih setelah BAB, wasir sering menimbulkan rasa tidak nyaman di sekitar anus, seperti gatal, sensasi mengganjal, atau bengkak. Faktor risiko wasir, antara lain duduk terlalu lama, kebiasaan mengejan, kehamilan, atau pola makan rendah serat.
3. Iritasi kulit
Kulit di sekitar anus sangat sensitif. Penggunaan tisu toilet yang kasar, pemakaian produk pembersih, seperti sabun dan tisu basah beralkohol/beraroma, atau kebiasaan membersihkan anus dengan kasar bisa menyebabkan iritasi pada kulit di area tersebut.
Iritasi biasanya ditandai dengan kemerahan, serta rasa gatal, panas, dan perih setelah BAB. Pada beberapa kasus, iritasi kulit bisa menyebabkan pengelupasan kulit atau bahkan luka.
4. Cara membersihkan anus yang kurang tepat
Membersihkan anus memang sangat penting, tetapi jika dilakukan dengan cara yang salah, justru bisa memperparah keluhan anus perih setelah BAB. Menggosok anus terlalu kuat atau memakai sabun yang mengandung bahan kimia, alkohol, dan parfum bisa menyebabkan kulit di sekitar anus menjadi iritasi.
Akibatnya, setiap kali selesai BAB, rasa perih muncul atau bertambah parah. Untuk mencegah keluhan ini, bersihkan anus dengan air hangat tanpa menggosok terlalu keras dan memilih tisu yang lembut.
5. Infeksi
Infeksi pada area anus bisa disebabkan oleh pertumbuhan jamur atau bakteri akibat kebersihan yang kurang terjaga, lembap, atau luka pada kulit anus. Gejala infeksi ini bisa berupa rasa gatal, panas, perih, kadang disertai pembengkakan, kemerahan, abses anus, atau keluar cairan dari area anus.
Infeksi bisa memperparah luka yang sudah ada, sehingga sensasi anus perih setelah BAB menjadi lebih parah dan bertahan lama. Risiko infeksi meningkat jika seseorang sering menggunakan pakaian dalam yang ketat dan lembap, atau jarang mengganti pakaian dalam.
6. Diare atau BAB terlalu sering
Diare membuat feses menjadi sangat cair, sehingga area sekitar anus sering terkena gesekan atau paparan feses yang bersifat asam. Jika BAB terjadi terlalu sering, kulit di sekitar anus jadi mudah lecet dan iritasi, hingga akhirnya menimbulkan rasa perih setiap selesai BAB.
Selain itu, kandungan asam atau enzim di feses cair dapat memperburuk iritasi dan menyebabkan sensasi panas di kulit anus. Kondisi ini sangat umum terjadi pada anak-anak, lansia, atau orang yang sedang mengalami infeksi saluran cerna.
7. Seks anal
Melakukan hubungan seks anal dapat menyebabkan iritasi, luka kecil, atau bahkan robekan pada area anus. Risiko ini lebih tinggi jika hubungan seks dilakukan tanpa menggunakan pelumas atau persiapan yang cukup.
Luka atau iritasi akibat seks anal bisa menyebabkan rasa perih setelah BAB dan juga meningkatkan risiko terjadinya infeksi di area anus.
8. Kanker anus
Kanker anus adalah kondisi serius yang bisa menimbulkan keluhan anus perih setelah BAB, terutama jika sudah menyebabkan luka atau sumbatan di area anus. Gejala lain yang dapat menyertai, antara lain perdarahan dari anus, benjolan, perubahan bentuk feses, atau sulit menahan BAB.
Walaupun kanker anus jarang terjadi, jangan abaikan jika keluhan anus perih berlangsung lama, tidak membaik dengan perawatan rumahan, atau disertai gejala lain yang tidak biasa.
Cara Mengatasi Anus Perih setelah BAB
Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi anus perih setelah BAB:
- Kompres area anus dengan kain bersih yang dibasahi air dingin.
- Bersihkan anus dengan air bersih secara lembut, tanpa menggosok terlalu keras.
- Gunakan tisu toilet yang lembut dan hindari tisu kasar saat mengeringkan area anus.
- Perbanyak konsumsi makanan berserat dan minum air putih agar feses tetap lunak.
- Hindari penggunaan sabun, tisu basah, atau produk yang mengandung alkohol dan parfum di area anus.
- Jangan menahan keinginan BAB agar feses tidak mengeras dan mengiritasi anus.
- Konsultasikan ke dokter untuk penggunaan salep atau obat jika anus perih setelah BAB tidak kunjung membaik.
Jika keluhan anus perih setelah BAB terjadi berulang atau disertai gejala lain seperti perdarahan, jangan tunda untuk periksa ke dokter untuk memastikan penyebab dan mendapatkan perawatan yang sesuai.
Apabila masih ragu atau butuh saran awal penanganan anus perih setelah BAB, Anda bisa memanfaatkan fitur Chat Bersama Dokter melalui aplikasi ALODOKTER agar mendapat solusi yang cepat dan aman sesuai keluhan Anda.