Biasanya bayi bisa pipis dan berganti popok sebanyak enam kali per hari. Pada beberapa kondisi atau waktu tertentu, bayi menjadi lebih jarang pipis. Apa sebenarnya yang menjadi penyebab bayi menjadi lebih jarang pipis?

Kandung kemih bayi hanya bisa menampung sekitar 30-40 ml urine, sehingga jika bayi tetap minum dengan baik, ia akan pipis cukup sering, sekitar 1-6 jam sekali. Bila Si Kecil tidak pipis atau popoknya tidak basah sama sekali selama seharian penuh, Bunda perlu memerhatikan kondisi tersebut lebih lanjut.

Bayi Bunda Jarang Pipis? Ini Kemungkinan Penyebabnya - Alodokter

Penyebab Bayi Jarang Pipis yang Perlu Bunda Ketahui

Jarang pipis pada bayi bukanlah kondisi yang bisa dianggap enteng. Pasalnya, frekuensi pipis berhubungan erat dengan kondisi sistem perkemihan. Urine atau pipis yang dikeluarkan oleh bayi merupakan zat sisa yang harus dikeluarkan secara rutin.

Bayi disebut jarang pipis jika frekuensi berkemihnya kurang dari 3 kali dalam sehari, tidak pipis sama sekali dalam waktu 6 jam, atau bila jumlah urine kurang dari 1 ml/kg BB/jam. Jadi jika berat badan (BB) bayi 7 kg, ia perlu mengeluarkan urine 7 ml per jamnya. Bila urinenya kurang dari jumlah tersebut, bayi kemungkinan mengalami sejumlah kondisi berikut:

Dehidrasi atau kekurangan cairan

Dehidrasi adalah penyebab bayi jarang pipis yang paling sering, terutama pada bayi berusia di bawah 6 bulan. Dehidrasi bisa terjadi saat bayi mengalami demam, diare, muntah-muntah, atau muntaber. Kondisi dehidrasi bisa ditandai dengan berkurangnya frekuensi pipis bayi, yang dapat diketahui dengan berkurangnya jumlah penggantian popok.

Selain itu, dehidrasi bisa memunculkan berapa gejala lain, di antaranya:

  • Mengantuk dan tidur lebih lama dari biasanya.
  • Malas bermain atau tertawa.
  • Mulut, lidah, dan kulit nampak kering.
  • Mata tampak cekung dan lelah.
  • Menangis tanpa air mata.

Bila Si Kecil mengalami tanda-tanda di atas, langkah awal yang perlu Bunda lakukan adalah memperbanyak frekuensi pemberian asupan cairan. Jika biasanya Si Kecil menyusu setiap 3 jam, maka lakukan setiap 30 menit.

Bila usia Si Kecil sudah di atas 6 bulan, Bunda boleh memberikannya oralit, terutama jika sedang diare. Namun bila kondisi Si Kecil tak membaik dan ia semakin malas untuk minum, Bunda dianjurkan untuk segera membawanya ke dokter.

Gangguan pada saluran kemih

Urine yang dihasilkan ginjal perlu melewati saluran kemih, hingga akhirnya dibuang keluar dari tubuh melalui uretra. Adanya gangguan di saluran ini, seperti sumbatan, infeksi, striktur (terbentuknya jaringan ikat karena adanya luka), atau kelainan bentuk, bisa mengganggu frekuensi pipis dan jumlah urine bayi.

Jika disebabkan oleh gangguan pada saluran kemih, keluhan bayi jarang pipis bisa disertai sejumlah gejala berikut:

  • Demam.
  • Anyang-anyangan, sering pipis tapi hanya sedikit-sedikit.
  • Malas makan dan lebih rewel dari biasanya.
  • Urine kental, berwarna gelap, dan berbau tak sedap.

Kondisi ini tidak dapat dianggap remeh dan perlu segera diperiksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

Gangguan pada ginjal

Ginjal merupakan organ yang berfungsi menyaring dan membuang zat sisa melalui urine. Bila fungsi ginjal terganggu, produksi urine dapat menurun, sehingga bayi terlihat jarang pipis.

Faktor genetik, cacat lahir, infeksi, cedera, hingga penyakit tertentu bisa menjadi penyebab terjadinya gangguan pada ginjal bayi. Oleh karena itu, bila Si Kecil sama sekali tidak pipis atau terlihat pipisnya sangat sedikit padahal minumnya cukup, dan tubuhnya terlihat membengkak serta kulitnya terlihat pucat, segera periksakan ke dokter, ya.

Penting bagi Bunda untuk rutin memeriksa dan mengganti popok bayi. Popok seharusnya menjadi agak basah, sedikit lebih berat, menggembung, dan berbau urine bila bayi pipis. Nah, bila Bunda tak menemukan hal ini padahal sudah memberi cukup cairan, bawalah Si Kecil ke dokter untuk mendapat pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.