Muntaber adalah peradangan pada saluran cerna, khususnya lambung dan usus, yang menyebabkan gejala utama berupa mual, muntah, dan diare. Kondisi ini dapat menular dengan mudah, sehingga perlu diwaspadai, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.
Muntaber atau dalam istilah medis disebut gastroenteritis, umumnya disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit yang menyerang saluran pencernaan. Penyakit ini termasuk sering terjadi di Indonesia, terutama pada musim hujan atau ketika sanitasi kurang memadai.

Penularan muntaber biasanya terjadi melalui konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi kuman penyebab muntaber. Penularan muntaber juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan penderita, misalnya saat menyentuh tangan atau terpapar muntahan maupun tinja penderita tanpa menjaga kebersihan tangan.
Ketika tidak ditangani dengan baik, muntaber dapat menyebabkan dehidrasi berat. Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat memicu komplikasi serius, mulai dari gangguan ginjal hingga koma. Karena itu, pengenalan dan penanganan dini muntaber sangat penting.
Penyebab Muntaber
Muntaber paling sering disebabkan oleh virus jenis Rotavirus dan Norovirus. Namun, virus jenis Astrovirus dan Adenovirus juga bisa menyebabkan muntaber. Selain virus, muntaber juga dapat disebabkan oleh:
- Infeksi bakteri, seperti pada penyakit tipes dan disentri
- Infeksi parasit, seperti amebiasis
- Paparan zat kimia atau racun
- Reaksi obat-obatan, seperti antibiotik
Muntaber merupakan penyakit yang mudah menular. Seseorang bisa tertular muntaber akibat:
- Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi kuman penyebab muntaber
- Berdekatan atau kontak langsung dengan penderita, seperti berjabat tangan
- Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah buang air besar atau mengganti popok anak
Faktor risiko muntaber
Ada beberapa kelompok individu yang berisiko tinggi mengalami muntaber, yaitu:
-
Anak kecil
Anak-anak lebih rentan terserang infeksi virus, karena belum memiliki daya tahan tubuh yang kuat. -
Anak sekolah atau yang tinggal di asrama
Muntaber mudah menular di lingkungan yang banyak orang berkumpul dalam jarak dekat. -
Orang lanjut usia
Daya tahan tubuh akan menurun seiring penuaan. Oleh sebab itu, muntaber mudah menular ke lansia, terutama jika mereka kontak dengan orang yang berpotensi menyebarkan kuman. -
Orang dengan daya tahan tubuh lemah
Orang yang sedang menjalani kemoterapi atau memiliki kondisi tertentu, seperti AIDS atau kanker, lebih berisiko tertular infeksi karena kekebalan tubuh mereka lemah.
Gejala Muntaber
Gejala utama muntaber atau gastroenteritis adalah diare, serta mual dan muntah, yang muncul 1–3 hari setelah terinfeksi. Gejala umumnya akan berlangsung selama 1–2 hari, tetapi bisa juga hingga 14 hari.
Penderita muntaber juga dapat mengalami gejala lain, seperti:
- Sakit atau kram perut
- Hilang nafsu makan
- Sakit kepala
- Nyeri otot atau sendi
- Demam
Kapan harus ke dokter
Muntaber dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Namun, jika gejalanya cukup parah, disarankan untuk segera ke dokter.
Berikut ini adalah beberapa gejala muntaber yang harus segera mendapatkan penanganan dari dokter:
- Tanda dehidrasi, seperti jarang buang air kecil dan mulut kering
- Demam di atas 40⁰C
- Selalu muntah setelah minum
- Muntah-muntah yang berlangsung lebih dari 2 hari
- Muntah darah
- Buang air besar disertai darah
Sementara pada bayi dan anak-anak, ada beberapa gejala muntaber yang harus diwaspadai. Segera bawa bayi atau anak Anda ke dokter jika menunjukkan keluhan berikut:
- Lesu
- Rewel atau mudah marah
- Ubun-ubun menonjol
- Leher kaku
- Sakit kepala berat
- Mulut kering
- Frekuensi buang air kecil dan volume urine menurun
- Menangis tanpa disertai keluargnya air mata
- Perut sakit atau membengkak
- Demam di atas 38⁰ C
- Diare disertai darah
- Lesu
Lewat fitur Buat Janji di aplikasi ALODOKTER, Anda bisa membuat janji temu dengan dokter tanpa harus datang langsung ke tempat praktik. Anda juga dapat memanfaatkan layanan Chat Bersama Dokter untuk berkonsultasi secara online guna mendapatkan informasi medis lebih lanjut sebelum ke fasilitas kesehatan.
Diagnosis Muntaber
Dokter akan terlebih dahulu menanyakan gejala dan aktivitas yang dilakukan pasien, termasuk makanan dan minuman yang dikonsumsi, dilanjutkan dengan memeriksa kondisi fisik pasien.
Jika ada dugaan bahwa muntaber disebabkan oleh bakteri atau parasit, dokter akan melakukan pemeriksaan tinja. Sampel tinja penderita akan diperiksa di laboratorium untuk memastikan penyebab muntaber.
Selain pemeriksaan sampel tinja, dokter dapat melakukan pemeriksaan penunjang lain bila diduga gejala disebabkan oleh kondisi lain. Pemeriksaan tersebut meliputi:
- Tes darah
- USG
- CT scan
- MRI
Pengobatan Muntaber
Pada sebagian besar kasus, muntaber dapat sembuh dengan sendirinya. Penderita cukup melakukan penanganan mandiri di rumah, misalnya dengan banyak minum air, terutama bagi penderita anak-anak.
Jika diperlukan, penderita bisa minum larutan oralit untuk mengganti cairan tubuh dan elektrolit yang hilang. Perlu diingat, pastikan untuk mengikuti aturan pakai yang tertera pada kemasan.
Penderita juga dapat mengonsumsi obat-obatan yang dijual bebas, untuk meredakan gejala. obat-obatan tersebut antara lain:
- Paracetamol atau ibuprofen, untuk meredakan nyeri
- Dimenhydrinate atau meclizine, untuk meredakan mual
- Loperamide atau bismuth subsalicylate, untuk meredakan diare
- Diosmectite, untuk meredakan diare
Pada muntaber yang menimbulkan mual dan muntah parah, penanganan di rumah sakit sangat diperlukan. Dokter akan memberikan infus cairan dan obat-obatan, seperti:
- Ondansetron
- Prochlorperazine
- Promethazine
Selain obat-obatan muntaber di atas, dokter juga akan memberikan antibiotik, pada muntaber yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun, antibiotik hanya diberikan pada kasus muntaber yang berat.
Setelah kondisinya membaik, pasien akan dianjurkan untuk mengonsumsi dan juga menghindari makanan tertentu.
Pengobatan muntaber pada anak
Muntaber pada anak-anak harus ditangani sedini mungkin. Hal ini karena anak-anak lebih rentan mengalami dehidrasi akibat muntaber daripada orang dewasa.
Untuk mencegah dehidrasi pada bayi, berikan ia minum 15–20 menit setelah muntah atau diare. Cairan yang diberikan bisa berupa larutan oralit, ASI, atau susu formula. Jika anak muntah setiap kali diberi cairan, periksakan ke dokter. Bila diperlukan, anak akan dirawat di rumah sakit dan diberikan cairan melalui infus.
Komplikasi Muntaber
Muntaber yang tidak ditangani dapat bertambah parah dan menyebabkan dehidrasi, yang ditandai dengan keluhan berupa:
- Urine berwarna kuning pekat atau gelap
- Frekuensi buang air kecil menurun
- Kulit dan mulut kering
- Pusing
- Linglung
- Lemas atau lesu
Jika tidak segera ditangani, dehidrasi dapat menyebabkan komplikasi serius, berupa pembengkakan otak, gagal ginjal, kejang, hingga koma.
Pencegahan Muntaber
Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan muntaber:
- Cuci tangan secara rutin.
- Jangan berbagi pakai peralatan makan dan peralatan mandi pribadi.
- Hindari mengonsumsi makanan setengah matang.
- Jangan melakukan kontak erat dengan orang yang sedang sakit, terutama diare.
- Cuci sayur atau buah-buahan sampai benar-benar bersih, sebelum dikonsumsi.
- Belilah air minum dalam kemasan jika air yang ada tidak terjamin kebersihannya.
- Hindari mengonsumsi es batu yang kebersihannya tidak terjamin, karena bisa jadi air yang digunakan untuk membuat es sudah terkontaminasi oleh virus.
- Pastikan anak mendapatkan vaksin rotavirus sejak usia 2 bulan.