Pernahkah kamu menjumpai orang yang setiap saatnya terlalu percaya diri dan tidak pernah mau menerima pendapat orang lain? Atau jangan-jangan, kamu memiliki kepribadian seperti itu? Hati-hati, bisa jadi itu termasuk gangguan mental yang dinamakan gangguan kepribadian narsistik.

Merasa sedikit narsis, egois, dan membanggakan diri sendiri memang manusiawi. Namun pada kondisi ekstrem, narsistik termasuk gangguan mental yang dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental. Penyebab kondisi ini belum diketahui secara pasti, tapi mungkin berhubungan dengan kemampuan seseorang mengelola stres.

Merasa Lebih Hebat dari Orang Lain? Bisa Jadi Kamu Narsis - Alodokter

Mengenali Karakter Narsistik

Seseorang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik merasa dirinya sangat penting dalam segala hal, dan memiliki empati yang sangat rendah terhadap sesama. Orang dengan gangguan ini juga memiliki rasa percaya diri yang berlebihan dan tidak sehat, dengan berpikir bahwa dirinya berada di atas segalanya.

Selain itu, ada beberapa ciri-ciri penderita gangguan kepribadian narsistik yang dapat dikenali:

  • Berperilaku arogan dan merasa butuh dikagumi secara terus-menerus.
  • Merasa iri pada orang lain dan yakin bahwa orang lain iri pada dirinya.
  • Berharap untuk dikenal sebagai sosok yang superior, meskipun tidak memiliki prestasi atau pencapaian yang mendukung.
  • Sering melebih-lebihkan talenta dan pencapaian yang dimiliki, serta merasa memiliki hak yang besar.
  • Mengharapkan layanan dan kepatuhan dari orang lain.
  • Sibuk dengan fantasi tentang kekuasaan, kesuksesan, kecantikan, kecerdasan, atau pasangan yang sempurna.
  • Mengambil keuntungan dari orang lain untuk mendapatkan keinginannya.
  • Tidak mampu atau tidak mau memahami kebutuhan dan perasaan orang lain.
  • Sering memikirkan diri sendiri dan banyak membicarakan dirinya sendiri, termasuk selalu berusaha selalu menang di tiap situasi.
  • Memiliki cita-cita yang tidak realistis dan suasana hati sangat cepat berubah.

Sebuah studi menunjukkan, pola asuh orang tua yang memberikan anaknya pujian-pujian yang tidak berkesudahan dan menempatkan anak sebagai yang terhebat tanpa melihat kenyataan sebenarnya, juga bisa menciptakan benih-benih narsistik dalam diri seseorang.

Dampak Gangguan Kepribadian Narsistik

Gangguan kepribadian narsistik bisa menimbulkan dampak bagi penderitanya, antara lain:

  • Memiliki kepribadian yang rapuh
    Gangguan kepribadian ini bisa membuat penderitanya merasa tidak aman, malu, rapuh, dan terhina bila dikritik. Padahal, tidak semua kritik dari orang lain merupakan hal negatif. Bisa jadi, kritik dan masukan orang lain bermanfaat untuk pengembangan kepribadian pribadi.
  • Mudah mengalami depresi
    Bukan hanya tidak bisa menerima kritik, orang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik cenderung untuk merasa depresi dan gangguan mood karena senantiasa menginginkan kesempurnaan.
  • Kesulitan bersosialisasi
    Bila tidak ditangani dengan baik, gangguan ini dapat menyebabkan penderitanya kesulitan membangun hubungan sosial, bermasalah dalam pekerjaan atau sekolahnya, memiliki kecenderungan menyalahgunakan obat-obatan, konsumsi minuman keras, bahkan berkeinginan untuk bunuh diri.
  • Rentan terhadap beberapa penyakit
    Menurut penelitian, orang gangguan kepribadian lebih mudah terserang penyakit dibandingkan orang normal. Ada beberapa penyakit yang diyakini berhubungan dengan gangguan kepribadian narsistik, antara lain gangguan jantung dan pembuluh darah, diabetes, artritis, tekanan darah tinggi, serta hipotiroidisme. Kondisi-kondisi ini bisa terjadi pada pria maupun wanita.

Cara Menangani Narsistik dengan Tepat

Seseorang dengan sifat narsis ekstrem dianjurkan untuk menjalani psikoterapi atau terapi yang melibatkan pertukaran pikiran dan perasaan dengan seorang terapis. Tujuannya untuk memahami penyebab emosi, alasan ingin berkompetisi, sulit memercayai orang lain dan kebiasaan memandang rendah orang lain.

Selain itu, terapi juga membantu penderita narsis untuk mempelajari bagaimana seharusnya berhubungan dengan orang lain serta lebih mampu untuk memahami perasaan dan menerima kenyataan. Penting pula untuk tetap berpikiran terbuka, fokus kepada cita-cita, serta belajar melakukan relaksasi dan mengelola stres.

Jadi, apakah kamu mengenali penderita narsistik di sekitarmu atau dirimu sendiri yang mengalaminya? Disarankan untuk konsultasi ke psikolog atau psikiater untuk penanganan yang tepat.