Menyapih adalah momen saat para ibu harus menghentikan rutinitas menyusui bayi dari payudara secara langsung untuk seterusnya. Tak jarang hal ini turut mengundang pergolakan batin dan membuat suasana hati tidak karuan. Lantas, apakah menyapih juga bisa membuat ibu mengalami depresi?

Sebenarnya tidak ada anjuran khusus kapan waktu terbaik bagi ibu untuk menyapih bayi. Namun, masa umum ibu menyusui adalah hingga anak berusia 2 tahun. Tentu saja hal ini kembali lagi kepada pilihan masing-masing ibu.

Bisakah Ibu Mengalami Depresi Setelah Menyapih Bayi? - Alodokter

Ibu Bisa Mengalami Depresi Setelah Menyapih

Saat menyusui, ikatan emosional antara ibu dan anak akan terjalin dengan baik. Tak heran jika tidak sedikit ibu yang merasa tidak rela dan tidak tega saat harus berhenti menyusui bayinya.

Menyapih tidak berarti berakhirnya ikatan spesial antara Bunda dan Si Kecil, karena tentunya masih banyak kegiatan yang bisa membangun ikatan kalian berdua. Namun, menyusui memang spesial karena memberikan perasaan bahagia, nyaman, dan kasih sayang bagi ibu dan bayi.

Berhentinya kegiatan yang rutin Bunda lakukan ini bisa menimbulkan perasaan sedih dan emosi yang tidak stabil, bahkan tak sedikit ibu yang mengalami depresi saat menyapih, lho.

Depresi yang terjadi saat atau setelah menyapih ini dikenal dengan istilah post weaning depression. Kondisi ini bisa disebakan oleh 2 hal, yakni faktor hormonal dan tekanan psikologis.

Ketika menyusui, tubuh melepaskan hormon oksitosin atau “hormon cinta”. Hormon inilah yang mendasari timbulnya perasaan bahagia dan ikatan batin dengan buah hati. Nah, saat muncuk berlangsung, produksi hormon ini akan menurun secara drastis. Efek yang bisa terjadi antara lain perasaan cemas, stres, dan perasaan seakan dipisahkan dengan anak.

Selain itu, menyapih juga menyebabkan produksi hormon prolaktin menurun dan produksi estrogen meningkat. Perubahan hormon ini sering kali menyebabkan mood swing atau bahkan depresi.

Menyapih juga dapat menimbulkan tekanan psikologis karena menuntut Bunda bertindak tega untuk tidak memberikan ASI lagi pada Si Kecil. Tak jarang bayi yang sedang disapih pun akan rewel dan menangis tak berhenti, terutama di malam hari ketika ia terbangun dari tidurnya dan ingin menyusu.

Melihat Si Kecil seperti ini, ditambah dengan naik turunnya hormon Bunda karena berhenti menyusui, tentu saja bisa membuat perasaan Bunda terombang-ambing. Tak hanya itu, usaha menyapih juga bisa gagal dan hal ini bisa membuat sebagian ibu merasa tidak becus.

Tips Menyapih Bayi

Agar proses menyapih bayi bisa berlangsung dengan lancar, ada beberapa hal yang bisa Bunda lakukan, yaitu:

  • Mintalah bantuan Ayah untuk melalui proses menyapih bersama-sama. Bila Si Kecil menangis ingin menyusu, Ayah bisa membujuknya dan mengajaknya bermain, sehingga Si Kecil melupakan keinginannya untuk menyusu kembali.
  • Lakukan dengan ekstra sabar, dan jangan lupa untuk memberikan pengertian pada buah hati.

Bila Si Kecil masih butuh waktu, tidak perlu terburu-buru untuk menyapihnya, Bun. Lakukan proses tersebut bila Bunda dan Si Kecil memang sudah benar-benar siap

Depresi setelah menyapih umum terjadi pada ibu menyusui, karena menyapih memang merupakan proses yang menantang, baik secara fisik maupun mental.  Bahkan, banyak ibu yang sudah merasa cemas sebelum waktunya menyapih tiba.

Bunda perlu ingat bahwa pengalaman setiap ibu tentunya berbeda-beda, mulai dari masa kehamilan, melahirkan, menyusui, hingga menyapih. Jadi, tidak perlu membandingkan pengalaman menyapih Bunda dengan ibu lainnya. Bunda harus percaya pada diri sendiri agar bisa melalui proses ini dengan baik.

Bila Bunda merasakan perasaan sedih dan bersalah yang mendalam, mood swing, atau kesulitan berkonsentrasi hingga mengganggu aktivitas sehari-hari selama proses menyapih, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang tepat.