Ada berbagai jenis obat sesak napas untuk asma. Obat ini tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, atau sirup yang diminum. Namun, ada juga yang digunakan dengan cara dihirup. Setiap jenis obat sesak napas untuk asma ini memiliki fungsi masing-masing, lho!

Saat serangan asma datang, saluran pernapasan akan membengkak, menyempit, dan menghasilkan banyak lendir. Kondisi ini dapat membuat penderitanya mengalami sesak napas dan batuk.

Macam-Macam Obat Sesak Napas untuk Asma - Alodokter

Penyakit asma sebetulnya tidak dapat disembuhkan, tapi gejalanya bisa dikendalikan. Langkah pencegahan juga dapat dilakukan untuk menurunkan risiko kambuhnya penyakit ini.

Salah satu cara untuk mencegah munculnya serangan asma dan meredakan gejala ketika asma kambuh adalah menggunakan obat sesak napas untuk asma secara tepat.

Mengenal Dua Jenis Obat Sesak Napas untuk Asma

Obat untuk asma terbagi menjadi dua kategori, yaitu obat pengontrol asma yang berfungsi untuk menjaga agar gejala asma tidak kambuh dan obat asma reaksi cepat yang berfungsi untuk melegakan pernapasan di kala serangan asma kumat.

Keduanya terdiri dari beberapa jenis dengan bentuk dan kegunaannya masing-masing. Berikut penjelasannya:

Obat pencegah gejala asma (controller)

Penderita asma perlu menggunakan obat asma jenis setiap hari. Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko serangan asma, sehingga tidak sering kambuh dan asma menjadi lebih terkontrol. Beberapa jenis obat yang termasuk dalam kategori obat pencegah gejala asma adalah:

  1. Agonis beta kerja lambat (long-acting beta-agonist)
    Obat ini merupakan obat jenis bronkodilator yang berfungsi untuk menjaga agar jalan napas tetap lapang dan tidak menyempit. Obat ini umumnya digunakan dengan cara dihirup.
    Meski dapat dikonsumsi sebagai obat asma jangka panjang, namun obat ini tidak disarankan untuk dikonsumsi ketika serangan asma sedang kambuh menyerang.
    Hal ini karena obat sesak napas jenis ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan efek melegakan pernapasan. Oleh karena itu, obat golongan agonis beta kerja lambat hanya digunakan untuk mencegah kekambuhan gejala asma.
  1. Kortikosteroid
    Untuk menjaga agar gejala asma tidak kambuh, dokter juga akan memberikan pengobatan kortikosteroid. Obat ini berfungsi untuk mencegah dan mengurangi peradangan di dalam saluran napas.
    Obat kortikosteroid yang digunakan untuk asma ini tersedia dalam bentuk kortikosteroid hirup. Namun jika tidak tersedia, terkadang dokter juga bisa memberikan kortikosteroid tablet untuk diminum oleh pasien.
  1. Pengubah leukotrien (leukotriene modifiers)
    Obat ini bekerja dengan cara mencegah alergi dan peradangan yang dapat menyebabkan penyempitan saluran napas pada penderita asma. Obat ini juga dapat mengurangi peradangan yang terjadi di saluran pernapasan, sehinga membuat pernapasan lebih nyaman.

Obat asma reaksi cepat (reliever)

Obat asma reaksi cepat digunakan saat serangan asma terjadi. Obat asma jenis ini, mampu bekerja dengan cepat untuk meredakan gejalanya. Berikut ini adalah beberapa jenis obat sesak napas untuk asma yang tergolong sebagai obat asma reaksi cepat:

  1. Agonis beta kerja cepat (short-acting beta agonist)
    Seperti halnya agonis beta untuk pengobatan jangka panjang, agonis beta jenis ini juga merupakan jenis obat bronkodilator yang merupakan obat untuk sesak napas karena asma. Bedanya, obat ini dapat segera meredakan gejala asma hanya dalam beberapa menit sejak serangan terjadi.
    Karena efek kerjanya yang cepat, biasanya hanya dalam hitungan beberapa menit setelah pemberian, maka obat ini umumnya hanya diberikan pada saat serangan asma atau gejala asma kumat.
  2. Ipratropium (Atrovent)
    Obat ini berfungsi untuk merelaksasi saluran pernapasan dengan cukup cepat. Selain sebagai obat sesak napas untuk asma, ipratropium juga digunakan untuk mengatasi sesak napas akibat bronkitis kronis dan emfisema.
  3. Teofilin
    Obat ini digunakan sebagai obat tambahan untuk gejala asma yang tidak dapat diatasi dengan obat lainnya. Cara kerja teofilin, yaitu membantu melebarkan saluran pernapasan dengan mengendurkan otot-otot di sekitarnya, sehingga pasien asma dapat bernapas dengan lancar.
  4. Kortikosteroid
    Selain untuk mencegah kekambuhan gejala asma, kortikosteroid juga dapat digunakan untuk membantu mengobati serangan asma ketika kumat. Hanya sajat bedanya terdapat pada dosis pemberiannya.

Dosis obat kortikosteroid yang digunakan untuk mengobati gejala asma yang sedang kambuh biasanya lebih tinggi dibandingkan dosis kortikosteroid sebagai pencegah gejala asma.

Selain dengan obat-obatan, gejala sesak napas karena asma juga dapat dicegah dengan menjauhi faktor pencetus atau pemicu gejala asma, hindari rokok atau asap rokok, polusi, dan kurangi stres.

Untuk menentukan jenis obat yang tepat digunakan, penderita asma perlu berkonsultasi ke dokter paru. Dokter akan memberikan obat-obatan sesak napas untuk asma yang tepat sesuai tingkat keparahan asma yang diderita.

Masing-masing jenis obat di atas ada yang digunakan dengan cara diminum atau dihirup. Obat asma yang digunakan dengan cara dihirup ini disebut inhaler. Beberapa jenis obat asma ada juga yang digunakan dengan cara dihirup menggunakan alat khusus yang disebut nebulizer.

Selama menggunakan obat sesak napas untuk asma, pastikan untuk mengikuti petunjuk penggunaan sesuai yang dianjurkan dokter. Pasien juga perlu rutin kontrol secara berkala ke dokter untuk mengevaluasi apakan penyakit asma yang diderita mengalami perbaikan atau justru semakin parah.

Jika kondisi asma memburuk dan memaksa Anda menggunakan inhaler lebih dari yang dianjurkan, segera konsultasikan kembali ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut.