Cervicocranial syndrome adalah kumpulan gangguan yang terjadi akibat kelainan pada leher bagian atas dan persambungannya dengan dasar tengkorak. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai gejala, mulai dari nyeri leher dan sakit kepala hingga gangguan keseimbangan serta gangguan fungsi saraf.
Gangguan pada cervicocranial syndrome dapat berkembang secara perlahan akibat proses degeneratif atau muncul secara tiba-tiba setelah cedera pada leher. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai kelainan, seperti gangguan bawaan, peradangan, infeksi, tumor, atau ketidakstabilan tulang leher bagian atas.

Karena gejalanya sering menyerupai gangguan saraf lain, pemeriksaan sejak dini penting dilakukan untuk mengetahui penyebabnya dan mencegah terjadinya komplikasi.
Penyebab dan Faktor Risiko Cervicocranial Syndrome
Cervicocranial syndrome dapat disebabkan oleh berbagai kondisi yang menyebabkan gangguan pada tulang belakang leher bagian atas atau area craniocervical junction. Beberapa kondisi tersebut, meliputi:
- Malformasi Chiari, yaitu kondisi ketika sebagian jaringan otak kecil turun ke dalam saluran tulang belakang dan dapat menekan struktur saraf di sekitarnya
- Instabilitas atlantoaksial, yaitu gangguan ketika dua ruas tulang leher bagian atas bergerak secara berlebihan sehingga berisiko menekan sumsum tulang belakang
- Spondilosis servikal atau perubahan degeneratif pada tulang dan sendi leher yang dapat menyebabkan penyempitan saluran saraf
- Kelainan bawaan pada tulang leher dan dasar tengkorak
- Cedera atau trauma pada leher
- Penyakit autoimun, seperti rheumatoid arthritis, yang dapat menyebabkan kerusakan sendi di area leher atas
- Infeksi pada tulang atau jaringan di sekitar tulang belakang
- Tumor yang tumbuh di area tulang belakang leher atau dasar tengkorak
Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami cervicocranial syndrome, yaitu:
- Riwayat cedera pada leher
- Usia lanjut akibat meningkatnya proses degeneratif pada tulang belakang
- Memiliki penyakit autoimun tertentu
- Memiliki kelainan bentuk tulang belakang atau kelainan bawaan pada area craniocervical junction
Gejala Cervicocranial Syndrome
Gejala cervicocranial syndrome dapat berbeda-beda pada setiap penderita, tergantung pada penyebab, lokasi kelainan, serta tingkat tekanan yang terjadi pada saraf atau sumsum tulang belakang.
Beberapa gejala yang dapat muncul adalah:
- Nyeri dan kekakuan pada leher
- Sakit kepala, terutama di bagian belakang kepala atau yang memburuk saat batuk, bersin, atau mengejan
- Pusing atau gangguan keseimbangan
- Kesemutan, mati rasa, atau kelemahan pada lengan dan tungkai
- Gangguan koordinasi gerakan tubuh
- Gangguan penglihatan, seperti penglihatan kabur atau ganda
- Telinga berdenging atau gangguan pendengaran pada sebagian kasus
- Kesulitan menelan atau suara menjadi serak
- Gangguan pernapasan pada kasus yang berat
Selain keluhan di atas, penderita juga dapat mengalami gejala sesuai dengan penyakit yang mendasarinya, seperti malformasi Chiari, instabilitas atlantoaksial, atau spondilosis servikal berat.
Kapan Harus ke Dokter
Konsultasikan ke dokter melalui Chat Bersama Dokter atau langsung buat janji temu dengan dokter melalui fitur booking di aplikasi ALODOKTER, jika mengalami nyeri leher yang berlangsung lama, sakit kepala yang sering kambuh, pusing berulang, atau keluhan saraf ringan, seperti kesemutan pada tangan dan kaki.
Pemeriksaan dan penanganan sejak dini penting dilakukan untuk mengetahui penyebab cervicocranial syndrome serta mencegah terjadinya kerusakan saraf yang lebih berat.
Segera pergi ke IGD rumah sakit terdekat jika mengalami:
- Nyeri leher yang muncul tiba-tiba dan sangat berat
- Gangguan keseimbangan atau kesulitan berjalan yang semakin memburuk
- Gangguan penglihatan yang terjadi secara mendadak
- Kelemahan berat atau kelumpuhan pada lengan maupun tungkai
- Kesulitan bernapas atau menelan
Diagnosis Cervicocranial Syndrome
Untuk mendiagnosis cervicocranial syndrome, dokter akan melakukan wawancara mengenai keluhan, riwayat penyakit, serta riwayat cedera yang pernah dialami pasien.
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama pemeriksaan saraf, untuk menilai kekuatan otot, refleks, keseimbangan, koordinasi tubuh, serta fungsi saraf lainnya.
Untuk membantu menentukan penyebab dan tingkat keparahan gangguan, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan penunjang berikut:
- Rontgen tulang belakang leher untuk melihat perubahan struktur tulang dan kestabilan ruas tulang leher
- MRI untuk melihat kondisi sumsum tulang belakang, saraf, cakram tulang belakang, serta jaringan lunak di sekitarnya secara lebih rinci
- CT scan untuk mengevaluasi struktur tulang, terutama pada area persambungan antara leher dan tengkorak
- Elektromiografi (EMG) dan pemeriksaan kecepatan hantaran saraf untuk menilai fungsi saraf dan otot bila dicurigai terdapat gangguan saraf perifer
Diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan jenis pengobatan yang sesuai serta mencegah komplikasi akibat tekanan saraf yang berlangsung lama.
Pengobatan Cervicocranial Syndrome
Pengobatan cervicocranial syndrome disesuaikan dengan penyebab, tingkat keparahan gejala, dan ada atau tidaknya tekanan pada saraf maupun sumsum tulang belakang.
Beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan adalah:
Obat-obatan
Dokter dapat memberikan obat pereda nyeri atau obat antiinflamasi untuk mengurangi nyeri dan peradangan yang terjadi.
Pada kondisi tertentu, obat untuk mengatasi nyeri saraf atau pengobatan penyakit penyebab, seperti rheumatoid arthritis atau infeksi, juga dapat diberikan sesuai kebutuhan.
Terapi fisik
Terapi fisik bertujuan memperkuat otot leher, memperbaiki fleksibilitas, menjaga postur tubuh, serta membantu meningkatkan kemampuan bergerak.
Penggunaan penyangga leher
Pada beberapa kasus, seperti cedera tertentu atau instabilitas tulang leher, dokter dapat menyarankan penggunaan penyangga leher (neck brace) untuk membantu membatasi gerakan leher selama proses penyembuhan.
Operasi
Tindakan operasi dapat diperlukan apabila terjadi tekanan berat pada sumsum tulang belakang, terdapat kelainan struktur tulang yang menyebabkan ketidakstabilan, atau ditemukan tumor yang menekan saraf.
Jenis operasi akan disesuaikan dengan penyebab dan kondisi masing-masing pasien.
Sebagian kasus cervicocranial syndrome dengan gejala ringan dapat membaik melalui pengobatan konservatif. Namun, kondisi yang lebih berat mungkin memerlukan tindakan operasi untuk mencegah kerusakan saraf permanen.
Komplikasi Cervicocranial Syndrome
Jika tidak ditangani dengan tepat, cervicocranial syndrome dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti:
- Gangguan saraf permanen, termasuk kelemahan atau kelumpuhan anggota gerak
- Gangguan keseimbangan dan koordinasi tubuh yang menyebabkan kesulitan beraktivitas
- Nyeri leher atau sakit kepala kronis
- Gangguan menelan dan perubahan suara akibat gangguan saraf kranial
- Gangguan pernapasan pada kasus berat yang melibatkan batang otak atau saraf yang mengatur fungsi pernapasan
- Penurunan kualitas hidup akibat keterbatasan aktivitas sehari-hari
Risiko komplikasi umumnya meningkat apabila tekanan pada saraf atau sumsum tulang belakang berlangsung lama tanpa mendapatkan penanganan yang sesuai.
Pencegahan Cervicocranial Syndrome
Tidak semua kasus cervicocranial syndrome dapat dicegah, terutama yang disebabkan oleh kelainan bawaan. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu menurunkan risiko terjadinya gangguan pada tulang belakang leher serta mencegah perburukan kondisi:
- Menggunakan alat pelindung, seperti helm atau sabuk pengaman, untuk mengurangi risiko cedera leher
- Menjaga postur tubuh yang baik saat duduk, bekerja, maupun menggunakan perangkat elektronik
- Melakukan olahraga secara rutin untuk menjaga kekuatan dan fleksibilitas otot leher serta tubuh secara keseluruhan
- Mengontrol penyakit yang dapat meningkatkan risiko gangguan tulang belakang, seperti rheumatoid arthritis, dengan menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter
- Segera memeriksakan diri setelah mengalami cedera leher atau jika muncul gejala gangguan saraf agar penanganan dapat dilakukan lebih awal