Exploding Head Syndrome (EHS) adalah salah satu gangguan tidur yang membuat penderitanya mendengar suara keras seperti ledakan di kepala saat akan tidur atau terbangun. Kondisi ini sering membuat cemas, meskipun biasanya tidak menandakan masalah kesehatan serius.
Exploding head syndrome termasuk dalam parasomnia, yaitu kelompok gangguan tidur yang menyebabkan sensasi, pengalaman, atau perilaku tidak biasa saat tidur. Kondisi ini lebih mungkin dialami oleh wanita serta seseorang yang berusia di atas 50 tahun. Namun, semua orang tetap bisa mengalaminya.

Tenang, meskipun istilahnya terdengar menyeramkan, exploding head syndrome umumnya tidak menyebabkan cedera fisik, kerusakan otak, atau menandakan penyakit berat. Tapi, kondisi ini juga tidak bisa disepelekan karena sering muncul bersamaan dengan kecemasan atau depresi.
Exploding Head Syndrome dan Gejalanya
Gejala exploding head syndrome di antaranya:
- Sensasi mendengar suara keras, seperti ledakan, dentuman, tembakan, atau petir yang hanya dirasakan di dalam kepala sendiri
- Tubuh tersentak atau otot kejang
- Kilatan cahaya (fotopsia)
- Perasaan cemas atau takut setelah gejala timbul
- Berkeringat, jantung berdebar, serta kesulitan bernapas tepat setelah terbangun
- Kesulitan untuk tidur kembali
Sama seperti parasomnia lainnya, exploding head syndrome biasanya muncul saat mulai tertidur atau terbangun di malam hari. Kekambuhan gejalanya bisa bervariasi pada setiap orang. Ada yang mengalaminya beberapa kali dalam semalam, ada juga yang baru kambuh dalam hitungan minggu atau bulan.
Tidak ditemukan risiko komplikasi berat, kecuali jika gejalanya menyebabkan gangguan tidur berat atau kecemasan berkepanjangan.
Exploding Head Syndrome dan Penyebabnya
Sampai saat ini, penyebab exploding head syndrome belum diketahui pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga berperan dalam kemunculan kondisi ini, yaitu:
- Tekanan mental, stres berat, atau kecemasan berlebihan
- Insomnia, kurang tidur, atau pola tidur yang berantakan
- Perubahan tiba-tiba pada aktivitas listrik di otak saat transisi antara tidur dan terjaga
- Penggunaan obat tertentu, seperti antidepresan, benzodiazepine, atau penghentian obat penenang secara mendadak
Exploding head syndrome umumnya tidak berhubungan dengan stroke, epilepsi, atau penyakit serius lain.
Exploding Head Syndrome dan Penanganannya
Sebagian besar kasus exploding head syndrome tidak berbahaya dan tidak memerlukan penanganan khusus. Namun, ada beberapa langkah yang bisa membantu meredakan gejala dan mencegah kekambuhan, seperti:
1. Menjaga pola tidur yang teratur
Buat jadwal tidur dan bangun yang konsisten setiap hari, setidaknya 6–8 jam setiap malam. Rutinitas tidur yang teratur membantu menstabilkan ritme sirkadian tubuh dan memperbaiki kualitas tidur, sehingga risiko munculnya exploding head syndrome bisa diminimalisir.
2. Mengelola stres dan kecemasan
Lakukan latihan relaksasi, seperti pernapasan dalam, meditasi, atau yoga sebelum tidur agar pikiran lebih tenang. Mengelola stres dan kecemasan sangat penting karena kedua faktor ini sering menjadi pemicu exploding head syndrome.
3. Melakukan konsultasi dengan dokter jika gejala mengganggu
Segera konsultasikan ke dokter jika gejala terjadi terus-menerus, menimbulkan kecemasan berat, atau mengganggu aktivitas. Pemeriksaan, seperti polisomnografi, elektroensefalografi (EEG), dan MRI diperlukan untuk memastikan kondisinya.
Pada sebagian kasus, dokter mungkin meresepkan obat seperti antidepresan dosis rendah untuk membantu menurunkan frekuensi gejala. Ingat, penggunaan obat ini hanya dilakukan jika diperlukan dan atas anjuran dokter.
Dengan menerapkan berbagai langkah di atas, exploding head syndrome bisa diminimalkan atau bahkan diatasi. Jaga kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh serta usahakan jangan panik saat gejalanya sedang kambuh, ya.
Jika Anda mengalami exploding head syndrome dan gejalanya semakin memburuk, segera konsultasikan dengan dokter melalui Chat Bersama Dokter. Dengan demikian, penanganan yang tepat dapat segera diberikan sehingga tidur bisa kembali nyaman.