Saat gunung erupsi, dampaknya tidak hanya berupa abu dan gas vulkanik, tetapi juga dapat berupa aliran lahar yang menerjang permukiman, gempa vulkanik, hingga tsunami. Berbagai bahaya tersebut dapat mengancam kesehatan dan keselamatan, sehingga penting mengetahui cara melindungi diri.

Ketika gunung erupsi, material yang keluar tidak hanya berupa lava atau bebatuan panas, tetapi juga abu vulkanik yang dapat terbawa angin ke wilayah di sekitarnya. Meski terlihat seperti debu biasa, abu vulkanik terdiri dari partikel halus dan tajam yang mudah terhirup. Jika terpapar, partikel ini dapat masuk ke saluran pernapasan, menempel pada mata, atau mengiritasi kulit.

Gunung Erupsi, Kenali Dampaknya bagi Kesehatan dan Cara Melindungi Diri - Alodokter

Dampak paparan abu vulkanik bisa berbeda pada setiap orang. Namun, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru atau jantung, seperti asma dan bronkitis, perlu ekstra berhati-hati karena lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.

Di sisi lain, erupsi gunung berapi juga sebenarnya memberikan manfaat bagi lingkungan dalam jangka panjang. Abu vulkanik mengandung berbagai mineral yang dapat memperkaya tanah, sehingga tanah di sekitar gunung dapat menjadi lebih subur dan mendukung kegiatan pertanian maupun perkebunan.

Dampak Gunung Erupsi bagi Kesehatan

Dampak gunung erupsi dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti jarak dari lokasi erupsi, banyaknya abu yang turun, arah angin, lamanya paparan, serta kondisi kesehatan masing-masing orang. Beberapa gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai antara lain:

1. Gangguan pernapasan

Abu vulkanik dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Akibatnya, seseorang bisa mengalami batuk, pilek, tenggorokan kering atau terasa mengganjal, sesak napas, hingga napas berbunyi. Pada penderita asma atau penyakit paru kronis, paparan abu juga dapat memicu atau memperburuk gejala.

2. Iritasi mata

Partikel abu vulkanik yang halus dan tajam dapat masuk ke mata dan menimbulkan rasa perih, gatal, merah, berair, atau sensasi seperti ada pasir di dalam mata. Jika mata terkena abu, hindari menguceknya karena dapat membuat iritasi semakin parah dan berisiko menggores permukaan mata.

3. Iritasi kulit

Abu vulkanik yang menempel pada kulit dapat menyebabkan gatal, kering, kemerahan, atau rasa perih, terutama jika dibiarkan terlalu lama dan bercampur dengan keringat. Orang dengan kulit sensitif atau riwayat eksim juga dapat lebih mudah mengalami keluhan tersebut.

4. Cedera akibat material erupsi

Bagi orang yang berada di sekitar gunung, erupsi juga dapat menimbulkan risiko cedera akibat material atau fenomena berbahaya, seperti hujan batu, aliran lahar, awan panas, dan keruntuhan bangunan. Kondisi ini dapat menyebabkan luka, luka bakar, patah tulang, hingga cedera berat yang membutuhkan pertolongan medis segera.

5. Gangguan kesehatan akibat air dan makanan yang tercemar

Abu vulkanik yang masuk ke sumber air atau menempel pada makanan dapat membuatnya tidak aman untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, hindari menggunakan air yang terlihat keruh, berbau, atau tercampur abu untuk minum maupun mengolah makanan.

Gunakan sumber air yang aman sesuai anjuran petugas setempat, dan jangan mengandalkan penyaringan atau perebusan saja jika air diduga tercemar bahan kimia dari erupsi.

6. Cedera akibat gempa vulkanik

Aktivitas gunung api dapat memicu gempa vulkanik yang menyebabkan benda di sekitar bergeser atau jatuh. Untuk mengurangi risiko cedera, saat gempa terjadi di dalam ruangan, segera merunduk, berlindung, dan berpegangan di bawah meja atau perabot yang kokoh hingga guncangan berhenti.

Jauhi jendela, kaca, lemari, rak, atau benda lain yang mudah jatuh. Jika sedang berada di tempat tidur, tetap di sana dan lindungi kepala dengan bantal, kecuali terdapat benda yang berisiko jatuh tepat di atas tempat tidur.

7. Risiko tsunami pada kondisi tertentu

Pada kondisi tertentu, erupsi gunung api dapat memicu tsunami, misalnya akibat longsoran material gunung api ke laut atau aktivitas vulkanik di bawah laut. Jika tinggal di wilayah pesisir dan ada peringatan tsunami, segera lakukan evakuasi tanpa menunggu air laut terlihat naik.

Jauhi pantai, sungai, dan area rendah, lalu bergerak menuju tempat yang lebih tinggi atau ikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan. Jangan kembali ke rumah sebelum ada informasi resmi bahwa kondisi sudah aman.

Cara Melindungi Diri Saat Gunung Erupsi

Saat gunung erupsi, langkah sederhana dapat membantu melindungi kesehatan. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Tetap berada di dalam ruangan

Jika kondisi memungkinkan, tetaplah berada di dalam rumah dan hindari keluar saat abu vulkanik sedang turun. Tutup pintu, jendela, ventilasi, dan celah lain yang dapat menjadi jalan masuk abu. Sela pintu atau jendela yang cukup renggang juga dapat ditutup menggunakan kain atau lap yang sedikit lembap agar abu tidak mudah masuk.

2. Gunakan masker yang sesuai

Jika harus keluar rumah atau berada di area yang banyak abunya, gunakan masker respirator, seperti N95 atau KN95, yang terpasang rapat di wajah. Masker ini lebih efektif menyaring partikel halus dibandingkan masker kain biasa.

Jika tidak tersedia, gunakan masker medis yang menutup hidung dan mulut dengan baik. Sebisa mungkin, hindari beraktivitas di luar lebih lama dari yang diperlukan.

3. Lindungi mata dan kulit

Saat harus beraktivitas di luar, gunakan kacamata pelindung serta pakaian yang menutupi kulit, seperti baju lengan panjang, celana panjang, dan penutup kepala.

Sebaiknya, hindari penggunaan lensa kontak selama abu vulkanik masih beterbangan. Hal ini karena partikel abu dapat terjebak di bawah lensa dan menyebabkan iritasi mata. Jika mata atau kulit terkena abu, segera bilas dengan air bersih dan hindari menggosoknya agar tidak memperparah iritasi.

4. Bersihkan abu dengan cara yang aman

Abu vulkanik yang menumpuk di rumah, halaman, atau kendaraan sebaiknya dibersihkan dengan hati-hati agar tidak kembali beterbangan dan terhirup.

Sebelum menyapu, sedikit basahi abu untuk mengurangi debu yang beterbangan. Tetap gunakan masker dan kacamata pelindung saat membersihkannya. Jangan menggunakan blower atau alat yang justru dapat membuat abu beterbangan.

5. Jaga kebersihan air dan makanan

Simpan air minum dan makanan dalam wadah yang tertutup rapat agar tidak terkontaminasi abu. Jika sumber air tercampur abu atau kualitasnya diragukan, jangan langsung digunakan untuk minum atau mengolah makanan.

Ikuti anjuran petugas setempat mengenai keamanan air karena penyaringan dan perebusan tidak selalu cukup jika air diduga tercemar bahan lain akibat erupsi.

6. Kurangi aktivitas di luar rumah

Selain menghindari paparan abu, batasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk atau abu sedang turun. Hal ini penting terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan asma atau penyakit paru dan jantung.

7. Ikuti informasi resmi dan arahan evakuasi

Selama gunung erupsi, terus pantau informasi dari BPBD, pemerintah daerah, atau petugas setempat untuk mengetahui perkembangan kondisi gunung, arah penyebaran abu, dan wilayah yang perlu dihindari.

Jika ada imbauan atau perintah untuk mengungsi, segera ikuti arahan petugas dan gunakan jalur evakuasi yang telah ditentukan. Hindari mendekati kawah, lembah, dan sungai yang berhulu di gunung api, karena material erupsi dapat terbawa aliran lahar, terutama saat atau setelah hujan.

8. Siapkan diri dan ketahui kapan harus mengungsi

Jika tinggal di sekitar gunung berapi, jangan hanya mengandalkan jarak dari puncak untuk menentukan kapan harus mengungsi. Radius dan wilayah yang berisiko dapat berbeda pada setiap gunung, bahkan dapat diperluas atau berubah mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik.

Inilah beberapa hal yang perlu diketahui:

  • Saat status normal atau waspada: kenali jalur evakuasi, tentukan titik berkumpul, siapkan tas siaga, obat-obatan, dokumen penting, dan kebutuhan keluarga.
  • Saat aktivitas meningkat: pantau informasi resmi, hindari zona yang dinyatakan berbahaya, dan pastikan kendaraan serta perlengkapan evakuasi siap digunakan.
  • Saat ada perintah evakuasi: segera mengungsi melalui jalur yang ditentukan tanpa menunggu erupsi terjadi. Jangan kembali sebelum ada informasi bahwa kondisi sudah aman.

Setelah letusan berlalu, abu vulkanik masih dapat beterbangan selama beberapa hari, terutama saat cuaca kering atau angin kencang. Karena itu, tetap gunakan perlindungan yang diperlukan dan perhatikan kondisi anggota keluarga yang lebih rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma atau penyakit kronis lainnya.

Jika mengalami batuk, mata perih, atau kulit gatal setelah terpapar abu, segera bersihkan diri, ganti pakaian, dan batasi aktivitas di luar rumah. Bila keluhan tidak membaik, konsultasikan dengan dokter melalui fitur Chat Bersama Dokter di aplikasi ALODOKTER untuk mendapatkan saran penanganan yang sesuai.

Segera cari pertolongan medis atau ke IGD rumah sakit terdekat jika muncul sesak napas berat, nyeri dada, bibir atau wajah tampak kebiruan, mata sangat nyeri atau penglihatan menjadi kabur, luka bakar, cedera berat, atau gejala asma maupun penyakit jantung yang semakin memburuk.