Diet ekstrem kerap dilakukan untuk mencapai berat badan ideal dalam waktu singkat, sehingga tubuh pun tampak lebih langsing. Namun, jangan sampai Anda salah langkah, sebab diet ini justru dinilai tidak efektif dalam menurunkan berat badan, bahkan berisiko mengganggu kesehatan.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menyingkirkan kelebihan lemak dalam tubuh adalah dengan diet. Sebelum menjalani program diet tertentu, ada baiknya Anda kenali lebih dulu jenis diet apa saja yang perlu dihindari agar nantinya tidak berdampak buruk terhadap kesehatan tubuh.

4 Jenis Diet Ekstrem yang Perlu Dihindari - Alodokter

Berbagai Diet Ekstrem yang Harus Dihindari

Berikut ini adalah beberapa jenis diet ekstrem yang sebaiknya Anda hindari:

1. Diet cacing pita

Diet ini tergolong ekstrem karena dilakukan dengan cara menelan cacing pita atau telurnya. Ketika telur menetas, cacing pita akan hidup dan berkembang di dalam tubuh dengan cara mengambil kalori ekstra dari makanan yang Anda konsumsi.

Dengan begitu, Anda tetap bisa mengonsumsi makanan apa pun yang Anda inginkan tanpa harus mengkhawatirkan berat badan. Namun, semua itu hanyalah teori. Pada dasarnya, diet cacing pita sama halnya dengan infeksi cacing pita yang berbahaya.

Salah satu bahaya diet ini adalah Anda tidak bisa mengontrol di mana parasit tersebut akan hidup. Cacing pita akan menghasilkan telur dan menetas menjadi larva, larva ini bisa saja menempel pada organ atau jaringan lain di luar saluran pencernaan, misalnya paru-paru, otot, mata, dan bahkan otak.

Ketika itu terjadi, larva bisa menimbulkan beberapa gejala sesuai organ tempat larva menempel. Apabila ada di otak, gejalanya dapat berupa sakit kepala hebat, kejang, atau koma.

2. Diet sup kol

Orang-orang yang melakukan diet sup kol meyakini bahwa berat badan bisa turun hingga 4,5 kg hanya dengan makan sup kol untuk sarapan, makan siang, dan makan malam selama seminggu.

Sup kol dimakan setiap hari dengan sayuran dan buah-buahan tertentu, disertai dengan minum 6–8 gelas air putih dan konsumsi multivitamin. Namun, banyak ahli kesehatan memperingatkan bahwa diet ekstrem ini tidak sehat dan hasilnya hanya bersifat sementara.

Salah satu bahaya yang paling besar adalah kekurangan nutrisi, sehingga banyak orang yang berisiko mengalami anemia defisiensi besi atau malnutrisi akibat diet ini. Selain itu, karena diet sup kol sangat tinggi serat, beberapa orang juga berisiko mengalami perut kembung dan kram perut.

3. Diet 500 kalori

Sesuai dengan namanya, diet ekstrem ini hanya memperbolehkan orang yang menjalaninya untuk mengonsumsi makanan sebanyak 500 kalori setiap hari.

Cara ini tergolong ekstrem karena mengharuskan Anda untuk mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi secara drastis. Padahal, jumlah asupan kalori yang direkomendasikan untuk orang dewasa adalah 2.000 kalori setiap harinya.

Diet ekstrem semacam ini biasanya ditujukan untuk mereka yang sangat kelebihan berat badan dan tidak mampu untuk menurunkan berat badan setelah mencoba berbagai jenis diet. Namun, diet 500 kalori memerlukan pengawasan medis karena berisiko menyebabkan tubuh kekurangan vitamin dan mineral.

4. Diet pembersih atau diet detoks lemon

Diet ekstrem jenis ini dilakukan dengan menghindari konsumsi makanan padat dan hanya diperbolehkan mengonsumsi tiga jenis minuman, yaitu air lemon, air garam, dan teh herbal laksatif.

Umumnya, diet detoks lemon dilakukan selama 10 hari. Tujuan dari diet ini adalah untuk menurunkan berat badan, detoksifikasi sistem pencernaan, serta membuat tubuh lebih segar dan sehat.

Hanya saja, diet ekstrem ini membuat tubuh kekurangan banyak nutrisi penting, seperti vitamin, mineral, protein, karbohidrat, lemak, dan serat. Bahkan, tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan diet ini benar-benar dapat menghilangkan racun dalam tubuh.

Mengurangi berat badan tetap boleh dilakukan, terutama untuk menjaga berat badan tubuh ideal agar terhindar dari penyakit tertentu. Namun, bila dilakukan dengan cara yang salah, diet ekstrem justru berisiko memicu berbagai gangguan kesehatan.

Ketika menjalani program diet ekstrem, jangan terpaku pada penurunan berat badan saja, tetapi pastikan juga bahwa diet yang Anda jalani tetap sehat. Bila perlu, sebelum menjalani program diet, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk mengetahui jenis diet yang sesuai dengan kondisi tubuh Anda.