Sistiserkosis merupakan infeksi jaringan tubuh yang disebabkan oleh larva cacing pita Taenia solium. Contoh jaringan tubuh yang bisa terinfeksi oleh cacing ini adalah jaringan otot dan otak. Sekitar 80% penderita sistiserkosis tidak mengalami gejala apa pun pada saat terjadinya infeksi sehingga banyak kasus sistiserkosis tidak terdiagnosis dengan tepat atau terdiagnosis secara tidak sengaja pada waktu dilakukan pencitraan organ tubuh.

sistiserkosis - alodokter

Puncak keparahan infeksi sistiserkosis dapat terjadi sekitar 3-5 tahun setelah terjadinya infeksi awal sistiserkosis. Akan tetapi pada beberapa kasus, puncak infeksi sistiserkosis dapat terjadi setelah 30 tahun pasca infeksi awal sistiserkosis. Kista yang terbentuk akibat sistiserkosis dapat mengalami degenerasi kemudian mengalami kalsifikasi dan inaktif. Pada saat kista sistiserkosis mengalami kalsifikasi, gejala dapat hilang atau malah menjadi fokus epilepsi.

Tingkat keparahan gejala sistiserkosis bergantung kepada lokasi infeksi, tahapan kista, serta jumlah kista sistiserkosis.

Gejala Sistiserkosis

Gejala yang ditimbulkan akibat sistiserkosis tergantung dari lokasi, besar, jumlah, dan tahapan dari penyakit.

Sistiserkosis yang terjadi pada otot biasanya tidak menimbulkan gejala atau dapat menimbulkan benjolan di bawah kulit yang terkadang terasa nyeri. BIla terjadi pada mata, sistiserkosis dapat menimbulkan keluhan berupa pandangan ganda dan nyeri.

Cacing yang menginfeksi susunan sistem saraf pusat manusia (otak dan sumsum tulang belakang) yang biasa disebut neurosistiserkosis ini, dapat menimbulkan gejala dikarenakan tiga hal, yaitu penekanan langsung pada otak, reaksi peradangan, dan penyumbatan aliran cairan otak. Karena ketiga hal tersebut, sistiserkosis umumnya memberikan gejala:

  • Kejang yang terjadi pada hampir delapan puluh persen pasien dengan
  • Kelainan saraf setempat (focal neurologic sign) seperti lumpuh, tremor, atau mati rasa.
  • Tanda peningkatan tekanan intrakranial (tekanan dalam otak) seperti penurunan kesadaran, sakit kepala, penurunan fungsi penglihatan, dan muntah.
  • Penurunan fungsi luhur (kognitif) sampai demensia
  • Gejala stroke.
  • Kelainan pada sumsum tulang belakang seperti nyeri punggung, nyeri panggul, disfungsi seksual, sulit menahan buang air besar maupun kecil, kesulitan berjalan dan masalah keseimbangan.
  • Gejala hidrosefalus.
  • Pembengkakan otak.

Di daerah endemik, yaitu daerah dengan kejadian sistiserkosis yang banyak, sistiserkosis sering tidak menimbulkan gejala.

Penyebab Sistiserkosis

Sistiserkosis disebabkan oleh cacing pita jenis Taenia solium yang dapat hidup pada babi dalam bentuk kista. Manusia yang makan daging babi yang terinfeksi akan menelan kista cacing tersebut, biasanya hal ini terjadi karena daging babi tersebut dimasak kurang matang. Manusia yang menelan kista dari daging babi akan mengidap penyakit taeniasis, bukan sistiserkosis. Sistiserkosis terjadi bila kista yang sudah menjadi telur keluar melalui feses manusia yang mengidap taeniasis mencemarkan air, makanan, atau benda lain dan masuk ke tubuh manusia lain atau tubuhnya sendiri (autoinfeksi) melalui mulut.

Telur cacing yang ditelan manusia ini akan berkembang menjadi larva dan membentuk kista yang disebut sistiserkus. Sistiserkus dalam tubuh manusia terbagi dalam tiga tahapan yaitu hidup, degenerasi, dan kalsifikasi. Kebanyakan sistiserkus yang hidup tidak mengakibatkan reaksi peradangan, tetapi sistiserkus yang mengalami degenerasi dapat melepaskan antigen, yaitu suatu zat yang dihasilkan sehingga menimbulkan reaksi peradangan dan antibodi pada tubuh. Setelah mengalami degenerasi, sistiserkus dapat mati sehingga hancur dan diserap sendiri oleh tubuh, namun dapat juga mengalami kalsifikasi dan menjadi fokus epilepsi.

Seseorang dapat lebih mudah terkena sistiserkosis jika memiliki faktor-faktor risiko sebagai berikut:

  • Hidup bersama dengan orang yang mengidap taeniasis yang dapat mencemarkan air, makanan, dan barang disekitarnya sehingga meningkatkan risiko orang lain atau bahkan dirinya sendiri untuk menelan telur cacing tersebut.
  • Hidup di area endemik terjadinya sistiserkosis pada babi, biasanya ini terjadi di daerah pedesaan negara berkembang dengan sanitasi yang buruk di mana babi berkeliaran dengan bebas dan memakan feses manusia.
  • Orang dengan tingkat kebersihan yang buruk.

Diagnosis Sistiserkosis

Untuk menentukan apakah pasien menderita sistiserkosis atau tidak, langkah diagnosis yang dapat dilakukan antara lain adalah:

  • Anamnesa dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menanyakan gejala yang muncul, riwayat perjalanan ke daerah tertentu, serta makanan yang dimakan. Selain menanyakan riwayat penyakit dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menegaskan gejala yang dialami.
  • Pemindaian (CT scan atau MRI). CT scan atau MRI yang dilakukan pada otak dapat melihat scolex cacing (bagian dari tubuh cacing) pada kista, atau dapat terlihat sebagai kista tanpa scolex, jejas yang nyata, atau kalsifikasi.
  • Biopsi jaringan. Biopsi dilakukan dengan mengambil sebagian sampel dari jaringan yang dicurigai dan diperiksa dibawah mikroskop. Hasilnya akan tampak bagian dari cacing tersebut.
  • Funduskopi. Pemeriksaan funduskopi dilakukan dengan alat khusus untuk melihat langsung adanya cacing pada retina mata.
  • Tes darah. Tes darah digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap sistiserkosis dalam badan. Tes darah rutin yang tidak spesifik juga dapat dilakukan, seperti hitung darah lengkap atau pemeriksaan fungsi hati.

CT scan, MRI, atau pemeriksaan antibodi seringkali dikombinasikan untuk memastikan apakah seseorang mengalami sistiserkosis atau tidak. Baik pemindaian maupun tes antibodi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, terutama jika didapat kondisi berikut:

  • Menderita infeksi sistiserkosis dengan jumlah kista sistiserkus yang sedikit. Pada kondisi ini, seringkali tes antibodi memberikan hasil negatif. Akan tetapi, kista tetap dapat terdeteksi menggunakan CT scan atau MRI.
  • Menderita sistiserkosis bukan di otak. Pada kondisi ini, seringkali pemindaian memberikan hasil negatif, sedangkan tes antibodi dapat memberikan hasil positif.
  • CT scan lebih unggul dibandingkan dengan MRI untuk melihat kalsifikasi berukuran kecil.
  • MRI lebih sensitif untuk melihat pembengkakan otak dan scolex.

Pengobatan Sistiserkosis

Pengobatan sistiserkosis umumnya tergantung pada gejala yang muncul serta jumlah, ukuran, dan tahapan penyakit.

Pasien dengan sistiserkosis pada jaringan otot tidak membutuhkan pengobatan khusus. Bila timbul gejala, dapat diangkat dengan prosedur bedah dan pengobatan antiradang. Bila sistiserkosis muncul di mata dan menimbulkan gejala dapat diberikan albendazole dan kortikosteroid. Beberapa pasien membutuhkan prosedur bedah untuk mengangkat kista.

Pada neurosistiserkosis, pengobatan bertujuan untuk mengendalikan kejang serta mengatasi peningkatan tekanan di dalam rongga kepala (tekanan intrakranial), pembengkakan otak, dan hidrosefalus yang muncul terkait dengan sistiserkosis.

Beberapa jenis pengobatan yang dapat diberikan kepada pasien sistiserkosis, di antaranya adalah:

  • Antihelmintik. Antihelmintik atau obat cacing berfungsi untuk membunuh sistiserkus yang hidup. Antihelmintik tidak dapat mengatasi sistiserkus yang sudah mengalami kalsifikasi. Perlu diingat bahwa pemberian antihelmintik akan memicu reaksi peradangan, sehingga gejala sistiserkosis yang muncul dapat menjadi akut dan bertambah parah. Contoh obat antihelmintik yang dapat digunakan adalah albendazole dan praziquantel.
  • Kortikosteroid. Pemberian obat kortikosteroid, misalnya dexamethasone, berfungsi untuk mengurangi reaksi peradangan pada saat menjalani pengobatan dengan antihelmintik. Kortikosteroid juga digunakan bila terdapat pembengkakan otak.
  • Antikonvulsan. Antikonvulsan atau anti kejang dapat diberikan untuk mengatasi kejang pada neurosistiserkosis. Meskipun terapi pemberian antihelmintik sudah berhasil membasmi sistiserkus, pengobatan antikonvulsan terkadang masih diperlukan karena kelainan pada otak tidak dapat kembali normal sehingga kejang masih dapat muncul. Pemberian antikonvulsan dianjurkan untuk penderita neurosistiserkosis dengan kejang berulang. Contoh obat antikonvulsan yang dapat diberikan adalah phenytoin, carbamazepine, dan phenobarbital.
  • Prosedur pembedahan. Pada keadaan-keadaan tertentu prosedur pembedahan untuk mengangkat kista diperlukan, seperti pada sistiserkosis dengan komplikasi hidrosefalus, kista lebih dari sepuluh cm, dan letak kista pada area tertentu di otak yang dianggap membahayakan bila tidak diangkat. Prosedur pembedahan yang dilakukan untuk mengangkat kista dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara konvensional dengan kraniotomi (membuka tulang tengkorak), atau dengan neuroendoskopi. Teknik neuroendoskopi dianggap lebih aman karena dilakukan melalui mulut, hidung, atau lubang kecil yang dibuat sebesar koin pada tulang tengkorak untuk mengambil kista dengan alat khusus, tanpa membuka tulang tengkorak.

Komplikasi Sistiserkosis

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat sistiserkosis adalah:

  • Pembengkakan otak.
  • Hidrosefalus.
  • Peningkatan tekanan intracranial.
  • Epilepsi.
  • Stroke.
  • Kecacatan, gangguan komunikasi, dan gangguan fungsi luhur.
  • Herniasi otak (kondisi dimana jaringan otak, cairan otak, dan pembuluh darah bergeser dan keluar dari tempatnya) serta kematian.

Pencegahan Sistiserkosis

Untuk mencegah infeksi sistiserkosis, cara-cara yang dapat dilakukan, antara lain adalah:

  • Mencuci tangan menggunakan sabun dan air, terutama setelah menggunakan toilet, mengganti popok, serta sebelum makan atau memasak makanan.
  • Mencuci dan mengupas sayuran dan buah-buahan sebelum dimakan.
  • Mengajarkan kepada anak-anak bagaimana mencuci tangan dengan baik, serta membiasakan untuk mencuci tangan agar terhindar dari infeksi.
  • Menjaga kebersihan makanan dan minuman pada saat bepergian ke daerah atau negara yang rentan terjadi sistiserkosis.